Setelah sekian lama tak bertemu, Rury dan Harris akhirnya bertemu kembali karena kepulangan Harris ke Indonesia, untuk kepentingan memulai karirnya sebagai penerus pemimpin perusahaan keluarganya selama sebulan, mewakili Tuan Danish ayahnya yang sedang berada di luar negeri.
Hari ini kedua sahabat itu menghabiskan waktu bersama, berkat upaya nekat Harris menjadikan Rury sebagai asisten pribadinya selama ia di Indonesia. Dan hari ini pria itu membawa Rury agar membantunya mempersiapkan pakaian kerja yang akan digunakannya.
Karena sedang masa libur sekolah, otomatis kegiatan Rury mengajar juga ikut libur. Sementara kegiatan perkuliahan masih menunggu dimulainya semester baru pada bulan depan.
Dan disinilah gadis itu berada, bercengkrama memperbincangkan banyak hal dengan pria yang seringkali membuat hatinya bertanya-tanya, akan maksud dari ucapan ucapan yang sering terlontar.
Dengan raut wajah serius Harris tiba-tiba berujar "But still, there's a challenge in my life, for another heavier responsibility."
"What is that? Let me know please!" Tanya Rury dengan antusias, bersikap seperti perempuan, yang baru saja diberitahu tentang gosip terhangat yang sedang hits.
Sejenak Harris terdiam seakan sengaja berusaha menumpuk rasa penasaran Rury yang masih menunggu jawabannya dengan antusias.
."For taking over responsibility of you." Jawab Harris kemudian dengan wajah tenang.
Perlahan raut wajah Rury berubah, dan kini justru menautkan kedua alisnya, "Hah? What do you mean?" Ujar Rury kesal karena merasa jawaban Harris diluar ekspektasinya.
"You don't get it?" Tanya Harris memastikan.
"Of course I don't get it. Why was it taking over my responsibility?" Protest Rury kesal. "You were not my father, so you don't need to do that!" Lanjutnya kemudian.
"Akh.. Rury nggak ngerti nih!" Kali ini justru Harris yang memprotesnya balik.
Namun, Rury hanya mengangkat bahunya, meski kemudian dalam hatinya terbersit sebuah pemahaman lain akan kata-kata pria tersebut.
"Jangan bilang, dia mau ambil alih tanggung jawab diriku dari Bapak!" Batinnya
"Kan, pada perempuan dewasa, akan ada masa seorang pria dewasa mengambil alih tanggung jawab dirinya dari ayahnya, nanti. Ngerti?" Ucap Harris tiba-tiba seakan membaca apa yang terlintas salam benak gadis itu.
Bola mata Rury membesar karena terkejut mendengar ucapan itu.
"Kan, bener. Itu maksud dia. Duh, jangan ge-er Rury, stay calm!" Ucap Rury dalam hati berusaha menenangkan detakan jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar dengan lebih cepat.
"Stay calm, dalam hitungan ke-tiga just answer him and move to another topic!" Perintah Rury pada dirinya, kemudian mengembuskan napas kecil sambil menghitung mundur dalam hati.
"Ngerti, kok. Ih bapak Harris jangan galak-galak dong! Ini kan, hari pertama saya bekerja sebagai asisten Anda!"jawab Rury sambil tertawa kecil.
“Oh sorry!” ucap Harris yang terbawa perkataan Rury.
“Apology accepted!” jawab Rury cepat sambil tersenyum saat Harris dengan cepat menoleh padanya dengan pandangan heran.
“Ok, now. Let’s focus on our agenda today. It is to buy some proper suit for you, right?” tanya Rury, ia merasa senang karena berhasil mengalihkan pembicaraan mereka pada hal yang lebih aman untuk hati keduanya.
“That’s right. So take a look at some boutique brochures my secretary gave me yesterday. there inside that drawer in front of you!” ucap Harris sambil menunjuk ke sebuah laci dashboard mobil di hadapan Rury.
Rury mengikuti arahan tangan Harris, ia membuka laci yang dimaksud dan mengeluarkan beberapa brosur butik pakaian ternama di bilangan ibukota. Matanya kemudian meneliti satu persatu brosur tersebut.
“Ris, ini brand-brand mahal, kan?” tanya Rury tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran brosur.
“Kau benar, tapi, ya aku juga tak punya banyak pilihan rekomendasi lain. Konon Mami juga membelikan pakaian kerja Daddy dari tempat-tempat tersebut. Hanya saja entah kenapa Mami tidak memesankan juga untukku, dan malah menyuruhku untuk memilih sendiri apa yang sesuai diriku. Mami juga sebenarnya yang mengusulkan untuk meminta bantuanmu, setelah dia tahu dari pak Kahar jika dirimu ikut menjemputku ke bandara!” jawab Harris menjelaskan situasi yang ia hadapi.
Rury terkejut mendengar cerita Harris, namun berusaha untuk tetap terlihat tenang, kemudian kembali bertanya, “Kenapa harus aku ya, yang diusulkan?”
“Karena menurutnya, kamu akan memberikan pendapat yang jujur atas diriku, tanpa intervensi apapun. Lagipula setelah kupikir, kan, kamu juga sudah dibekali pelajaran Nisaiyah atau keputrian, bukan, selama di pondok pesantren dulu? ya… bisa lah soal fashion-fashion!” jawab Harris.
“Apa korelasi antara pelajaran Nisaiyah yang pernah kupelajari di pondok dulu, dengan membantumu belanja baju kerja?” tanya Rury sambil mengernyitkan dahinya.
Sementara Harris hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.
“Ada-ada saja dirimu ini. Jadi yang pertama akan kita kunjungi butik yang mana?” tanya Rury “Kalau aku lihat-lihat beberapa butik ini terletak berdekatan di area Kemang. Dan ini sekarang kita sudah berada di wilayah mendekati Pasar Minggu, kita ke sana saja dulu sebagai starting point.” usul Rury
“Siap asisten! meluncur menuju Kemang.” jawab Harris
“Eh, kenapa pak Bos malah jadi nurut ke asistennya?” protes Rury sambil tergelak menyadari peran mereka seakan tertukar.
“Ya… kalau asistennya kamu sih, nggak apa-apa lah aku nurut saja!” jawab Harris sambil menyunggingkan senyum simpul.
“Oh begitu! ih, awas ya kalau kamu jadi bos yang genit, aku laporin langsung ke komisaris perusahaan, alias mami daddy-mu!” ucap Rury merajuk.
Harris hanya tertawa dengan ucapan Rury,
“Nanti kita lewat jalan pertanian saja, jadi kita belok kiri ya di depan sebelum lampu merah itu!” ujar Rury sambil mengarahkan Harris yang dengan sigap mengemudikan mobilnya ke arah yang Rury maksud.
Sementara itu tanpa Rury sadari, ponselnya yang berada di dalam tas yang ia letakkan di bangku belakang telah dipenuhi beberapa notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab.
***
Tak lama sampailah keduanya di halaman parkir sebuah butik yang khusus menyediakan pakaian formal bergaya eksekutif.
“Terlihat bagus juga butik ini dari depannya!” ucap Rury sambil memperhatikan bangunan butik saat Harris telah memarkirkan mobilnya.
“Ya boleh juga, lah!” respon Harris sambil mengikuti arah pandang Rury, “Yuk, turun!” ajak pria itu melepas sabuk pengamannya. Dilihatnya Rury mengulurkan tangannya ke arah kursi belakang,
“Nggak usah dibawa tas kamu, biar saja di mobil!” ucap Harris.
“Kenapa begitu? aman nggak?” tanya Rury menahan tangannya yang telah terulur ke kursi bagian belakang.
“Berat-beratin bawa tas segala. Lagipula yang bayar siapa?” pria itu balik bertanya
“Kamulah yang bayar, ini kan agenda belanja Anda, Bos!” jawab Rury
“Nah, jadi buat apa asisten bawa-bawa tas? toh nanti kalau jadi membeli asisten, kan yang harus membawakan barang belanjaan. Sudah tinggalkan saja tas di mobil, tempat parkir ini terbatas hanya untuk pengunjung butik, dan lihat ada mamang parkir yang mengawasi tuh!” tunjuk Harris ke arah seorang petugas parkir yang duduk di sisi gerbang.
Meski sedikit kesal dengan perkataan Harris, namun Rury menuruti juga, ia biarkan tasnya tergeletak aman di bangku belakang, Lalu keluar dari mobil tanpa membawa apapun.
“Nah, gitu kan, bagus. Yuk, masuk!” ucap Harris sambil tersenyum senang dan mengajak Rury memasuki butik. Sementara dalam hati pria itu merasa usahanya untuk membuat Rury fokus pada dirinya berhasil, karena sepanjang perjalanan ia mengetahui jika ponsel Rury berdering beberapa kali.
Bersambung ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar