Minggu, 24 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 12 - Today Is A Gift






Rury akhirnya jujur pada Harris bila ia teringat pada Romi yang pernah membeli sebuah pakaian formal pria dengan kualitas bagus di GI. Mereka akhirnya pergi ke shopping town di kawasan bergengsi tersebut. Namun, saat telah berada di area parkir, Harris memutuskan untuk berbincang di mobil sesaat sebelum membiarkan Rury berhasil melepas sabuk pengamannya. 


Harris menanggapi cerita Rury dengan dugaan bahwa gadis itu sudah pengalaman membelikan pakaian pria dan mengajaknya segera memulai rencana mereka untuk membeli pakaian Harris di GI. 


“Hey, Harris. Are you mad?” tanya Rury saat pria itu tak mengindahkan penjelasan Rury bahwa ia mengetahui vest Romi dari cerita bukan karena dirinya yang membelikan. 


“No, I am ok.” jawab Harris dingin, “Nggak ada alasan aku untuk marah, dong. Toh, ketika itu dirimu memang ada relationship dengan pria bernama Romi itu, kan?” lanjutnya. 


Rury mengangguk pelan, entah kenapa tiba-tiba ia merasa suasana tak enak di antara dirinya dan Harris saat nama Romi menguak dalam perbincangan keduanya. 


“Sudahlah, it’s really ok. Toh, he was already in your past right? ya, even he is still trying to reach you again, but I believe that from the bottom of your heart, you don’t wanna be more than just a friend for him.” ucap Harris.


“Yes, you’re right.” jawab Rury pelan 


Harris kemudian tersenyum dan menatap Rury yang menundukkan kepala “The important thing now is I am already here, you can see me physically, and contact me anytime you need. Just think that yesterday is history, tomorrow is mystery, and…” 


“Today is a gift, that is why it is called a present.” sambung Rury kemudian membalas senyum Harris. 


“That’s right. Thank you for calling me your present!” ucap Harris, terlihat senyum di wajahnya semakin melebar pertanda moodnya kembali membaik. 


“Jangan ge-er ya tapi!” tegur Rury tiba-tiba sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. 


Tak elak lagi hal itu membuat Harris tertawa, ia merasa memiliki suatu hubungan yang unik dengan perempuan ini. 


“Ok let’s go, it’s time for you to work as my assistant.” ucap Harris sambil kemudian membukakan pintu mobil untuk Rury. 


beberapa orang yang kebetulan lewat di area parkir menoleh ke arah mereka dan menatap dengan senyum. Membuat Rury merasa geli dengan sikap Harris, ia tahu mungkin itu adalah hal yang biasa di Eropa, namun tetap saja di negeri yang menjunjung tinggi budaya timur ini hal sederhana seperti itu seakan belum menjadi suatu hal yang biasa, kecuali jika dilakukan seorang bawahan terhadap atasannya. 


Harris merentangkan tangannya saat Rury menatapnya dengan senyum geli, seakan mempersilakan seorang tuan putri untuk turun dari kendaraannya. 


“Apaan sih, Harris. Dilihatin orang-orang itu malu tahu!” ucap Rury gemas, saat keluar dari mobil, sambil melirik pada beberapa orang yang masih menatap mereka. 


Harris mengikuti lirikan mata Rury, kemudian tersenyum jail. Ia menutup pintu mobil perlahan dan menguncinya secara otomatis. 


“Let’s go, my princess!” ucap Harris sambil menyodorkan lengannya ke arah Rury dengan isyarat seolah agar Rury menggandeng tangannya. 


Rury menatap Harris dengan heran, gadis itu menautkan kedua alisnya, kemudian menepuk lengan pria itu dengan kesal, 


“Apaan sih? gila Harris ih!” rutuk Rury kesal kemudian berjalan mendahului pria itu. 


Harris masih dengan senyum di wajahnya, menyusul Rury dan mensejajarkan langkahnya. 


“Ih, kenapa? kan akting saja buat manas-manasin orang-orang yang tadi iseng lihatin kita.” tanya Harris. 


“Ngapain juga sih harus gandeng-gandengan begitu? bukan mahrom tau!” ucap Rury sambil memasang wajah gemas dan kesal ke hadapan Harris. 


“Iya sih, tapi kan cuma gandengan lengan, nggak aku sentuh secara langsung!” kilah Harris 


Tiba-tiba Rury menghentikan langkahnya, dan menoleh pada Harris, membuat pria itu terkejut dan juga seketika ikut menghentikan langkahnya. 


“Harris kok ngeselin ya?” gerutu Rury, dengan wajah seolah siap memaki pria itu dalam beberapa detik kedepan. 


Harris yang seolah menyadari hal itu, segera memasang wajah lugu sambil menangkupkan kedua tangan di hadapan dadanya seakan isyarat untuk meminta maaf. 


“Yuk lanjut yuk!” ajak Harris kemudian. 


Rury mengangguk kemudian melanjutkan langkah mereka untuk menuju kebagian dalam mall. 

“Ry, tapi apa iya kamu menolak bergandengan denganku, dengan alasan bukan mahrom, karena kamu tidak suka padaku?” tanya Harris tiba-tiba. 


Rury terkejut dengan pertanyaan tersebut, “Apa sikap aku menyinggung perasaan Harris, ya tadi?” batin Rury kemudian. 


“Ummm…. nggak seperti itu sih. Cuma canggung saja gandeng-gandengan gitu, nanti orang akan berpikir lebih pada kita. Padahal kan kita hanya bos dan asisten.” jawab Rury sekenanya, ia berusaha menutupi hatinya yang sebenarnya sedang bergejolak. 


“Duh, Ris, kalau kita gandeng-gandengan, khawatir malah akunya lagi yang gemeteran dan nggak bisa berhenti senyum.” batin Rury dalam hati. 


Harris hanya ber-oh ria mendengar jawaban Rury. 

“Oke, wah padahal tadi aku sempat berpikir that you’re my princess!” ucapnya kemudian 


“Pasti ada udang dibalik batu ini kalau cowok sedang sok baik!” tuduh Rury dengan wajah sinis. 


“Astaghfirullah ukhti, la tufakir bissu’i!” jawab Harris dalam bahasa Arab (jangan berpikiran buruk!)


Rury hanya tertawa mendengar ucapan Harris, ia hanya menjulurkan lidahnya sesaat dengan maksud meledek pria itu. Latar belakang pendidikan pondok pesantren yang membuat keduanya dapat menggunakan dua bahasa asing sekaligus dalam percakapan mereka, menjadikan hal tersebut adalah hal unik dari hubungan persahabatan mereka. 


“Sebaiknya kamu tidak memperlakukan aku dengan berlebihan gitu ah Ris!” ucap Rury kemudian.


“Kenapa? aku tidak merasa itu berlebihan.” protes Harris.


“Remember that we have a gap between us.” ujar Rury


“A gap? what gap?” tanya Harris bingung


Rury terdiam, ia nampak ragu untuk menjawab pertanyaan pria berdarah Jawa-Eropa itu. 


“Karena kamu asisten aku atasan, begitu kah?” tanya Harris tiba-tiba sambil tersenyum.


Rury tertawa ucapan Harris menyelamatkannya dari rasa ragunya untuk menjawab secara gamblang apa yang sebenarnya ada di pikirannya. 


“Ya benar, itu tahu. nggak perlu aku jelasin lagi, kan?” 


Harris kemudian mengangguk-anggukan kepalanya, “Tapi toh, kan aku single available, and also you. Kalaupun ada orang-orang yang husnudzon pada hubungan kita, ya nggak masalah kan, toh tidak ada pihak yang tersakiti.” ucap Harris kemudian. 


“Hah? what?” Rury terkejut sekaligus geli dengan perkataan yang keluar dari bibir Harris. Ia tak  menyangka jika pria itu justru senang jika di anggap memiliki hubungan lebih dengannya. 

Harris hanya tersenyum sambil menunjukkan dua jari nya yang membentuk huruf V sebagai tanda ‘peace’ .


Mereka melanjutkan langkah menyusuri koridor mall dengan interior dan dekorasi indah ala eropa yang membuat pengunjung seringkali mengambil foto di lokasi tersebut. 


“But Ry, do you think that every princess is supposed to have a prince?” tanya Harris kemudian. 


Rury terdiam sejenak, kemudian menjawab “Sometimes you just have a prince, but you don't even want a prince!” sebuah senyum ia tunjukkan ke hadapan wajah Harris yang hanya melongo mendengar jawabannya. 


Bersambung ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar