Senin, 18 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 6 - How To Treat A Girl





Harris yang menghubungi Rury saat gadis itu sedang makan malam, dan memberikan sebuah kalimat untuk menyikapi apa yang terjadi pada Rury. 


Good food will bring a good mood!" 


"Nah, I like your quote!" Seru Rury senang.


"I always remember my mom's advice, never try to talk much to a hungry girl, make her full and satisfied then you can win her mood!" Ucap Harris terdengar ceria.


Rury sejenak tertegun, "Ah, it's really good advice. And I think you were a good guy who knows how to treat a girl!" Ucapnya 


"I am?" Ulang Harris seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rury


"Yes, you are. Your future wife will be so lucky to have you!" Ucap Rury senang.


"My future wife?" Terdengar suara gumaman Harris, meski pelan namun masih bisa terdengar jelas di telinga Rury. 


"Masih lama juga kan? Atau kamu sudah dijodohkan dengan wanita cantik anak dari konglomerat?" Tanya Rury tiba-tiba dengan penuh selidik


"Hey, hey, kenapa tiba-tiba mendugaku seperti itu?" Tanya Harris sambil tertawa kecil, pria itu nampak terkejut dengan pertanyaan Rury. 


"Ya… seperti banyak cerita yang ada di novel-novel. Sang pewaris tunggal kekayaan keluarga biasanya akan dijodohkan dengan anak dari keluarga kaya lainnya. Untuk menjaga kekayaan dan kejayaan perusahaan kedua belah pihak. Begitu, kan?" Jawab Rury polos. 


Tawa Harris meledak, ia tak menyangka bila Rury akan memiliki pikiran sejauh itu, “Duh, Rury. Novel apa sih yang kamu baca?” 


Rury tiba-tiba merasa konyol dengan ucapannya sendiri, ia menepuk dahinya sendiri, kemudian ikut tergelak, “Ah, ya… terkadang bolehlah aku juga baca novel-novel teenlit atau romance cheesy untuk selingan di antara bacaan modul pengajaran.” kilah Rury. 


Harris masih tergelak, “Ya… nggak ada salahnya juga sih. Hanya saja apa iya kamu pikir cerita itu juga terjadi dalam kehidupan nyata?” 


“Ya… bisa saja, ada kalanya imajinasi seorang penulis dipengaruhi dari apa yang pernah dialami atau ia tahu dari lingkungan sekitarnya. Yang berarti bisa terjadi juga dalam kehidupan nyata.” jawab Rury sambil melanjutkan makan malamnya.


“Ada benarnya juga sih. Tapi bukannya sering juga terjadi kalau yang dijodohkan itu tokoh perempuan dari kelas menengah atau bawah kemudian dipaksa berjodoh dengan pria kaya yang sudah tidak muda?” tanya Harris.


“Banyak juga sih cerita seperti itu, bahkan di dunia nyata. Tapi semoga saja aku nggak perlu mengalami pernikahan bisnis macam itu.” jawab Rury


“Pernikahan bisnis?” ulang Harris tak mengerti


“Iya, pernikahan yang hanya didasari oleh orientasi materi, entah oleh salah satunya atau keduanya atau orang-orang terdekatnya. Jadi kayak menjual diri kan kalau begitu namanya? sementara cerita Cinderella kan nggak banyak terjadi dalam kehidupan nyata.” jawab Rury 


“Nah, kamu sendiri bagaimana Ris kalau sampai harus menjalani pernikahan bisnis?” gadis itu balik bertanya. 


“Aku? ummm… entahlah. Tapi aku harap aku pun masih diberi kebebasan untuk menentukan pendamping hidup nantinya. Oleh karena itu aku menerima tantangan ayahku untuk memulai karirku sejak saat ini. Agar suatu saat nanti aku sudah punya power terhadap diriku sendiri.” ucap Harris.


“Wow, luar biasa sekali calon CEO Owen group ini!” puji Rury tiba-tiba


Namun, pujian itu justru membuat Harris kembali tertawa. 


“Hey, I praise you, why do you laugh at me ?” tanya Rury kesal. 


“Tentu saja aku tertawa, pujianmu berlebihan sekali. Kamu sendiri padahal yang bilang, agar aku jadi penerus perusahaan yang lebih dari sekedar baik!” jawab Harris.


“Apa iya aku berkata seperti itu dulu?” gumam Rury 


“Yes, you were!” jawab Harris cepat dengan yakin. 


“Ya… baiklah. Jadi sekarang kamu akan memulai karirmu sebagai penerus Owen Group. Sementara aku masih begini-gini saja. Oh my God, I am so awful!” keluh Rury kemudian.


“Hey, no! kamu hebat loh bisa survive hidup mandiri, punya pekerjaan, masih bisa kuliah. It’s really great!” ucap Harris. 


“Aku masih bisa kuliah juga berkat bantuanmu Ris.” sanggah Rury kemudian 


“Don’t mention it!” ujar Harris, “With or without me I know you can do it!” lanjutnya. 


“Thank you for your support. But I don’t have a lot of close friends, so your present is really meant to be for me!” ucap Rury, entah kenapa tiba-tiba ia merasa terharu dengan perkataannya sendiri. 


“No problem, jangan terlalu terharu. Later, maybe I will need your support more!” jawab Harris 


“Support dalam bentuk seperti apa?” tanya Rury penasaran.


“You should be my personal assistant, accompanying me all day long, and following me wherever I go. Bagaimana?” tanya Harris dengan nada suara riang.


“Oh… so that’s your trick, you treat a girl when she needs support, then you could make her useful later for your interest. Such a smart investor!” ucap Rury sinis.


Lagi-lagi Harris tertawa mendengar ucapan Rury, “Hey, aku nggak terpikir sampai sejauh itu. Tapi itu ide bagus. Kalau memang hal itu bisa terjadi, aku rasa tidak akan buruk bagi kita untuk menjadi partner.” 


“Partner? partner what?” tanya Rury 


“Kamu maunya partner apa?” Harris justru balik bertanya


Rury terdiam, tiba-tiba ia merasa pertanyaan Harris seakan menjebak dirinya, 


“Duh, aku jawab apa ya enaknya? ngeselin juga nih Harris.” batin Rury.


“Umm.. partner kerja kan yang kita sedang bicarakan.” kilah Rury akhirnya.


“Ya bisa juga. Tapi apa iya ekspektasi kamu hanya sebagai partner kerja?” Harris kembali bertanya. 


“Hah? sorry, pertanyaanmu kenapa jadi berputar-putar? mood aku sudah lebih baik nih sekarang setelah makan, are gonna try to ruin it again right now?” tanya Rury mulai kesal 


“Sorry, sorry. Maaf aku lupa kalau kamu masih makan. Baiklah habiskan saja dahulu makanmu. Kita bicara lagi besok ya.” ucap Harris sambil tergelak.


“Besok?” tanya Rury terkejut, ia merasa tak membuat janji apapun dengan Harris, atau ia melupakan sesuatu saat bertemu dengan pria ini tadi siang. 


“Ya, besok aku jemput ke rumahmu. I have to buy some suits for business matters. Jadi kamu temani aku memilih yang sekiranya sesuai buat aku ya?” ucap Harris.


“What? kenapa harus aku?” protes Rury


“Because you were my assistant, see you tomorrow, Rury. Assalamualaikum!” ucap Harris menyudahi sambungan teleponnya.


Rury terkejut dengan ucapan Harris, 


“Hey, wait!” baru saja ia hendak melayangkan protes, terdengar bunyi sambungan telepon diakhiri. 


“Dih, apa-apaan sih ni cowok!” ucap Rury kesal sambil melihat layar ponselnya yang telah kembali ke mode normal. 

 Gadis itu menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan perlakuan Harris yang baru ditemuinya setelah sekian lama. 

“Kenapa tiba-tiba aku dianggap jadi asisten dia sih, ya?” gumam Rury sambil menghabiskan sisa mie dalam mangkuknya dengan kesal. 


Bersambung ***** 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar