Rury menerima sebuah panggilan telepon tepat saat ia akan beranjak ke dapur setelah mendengar gemuruh perutnya sendiri. Meski ragu, namun akhirnya ia terima panggilan tersebut, yang justru membuatnya terkejut setelah suara berat seorang pria mempertanyakan keberadaan dirinya.
“Mas Romi!” pekik Rury.
Spontan Ia menegakkan badan, Rury tak mengira jika orang yang menghubunginya adalah Romi yang ia pikir tak akan menghubunginya lagi, paling tidak hari ini.
“Kenapa nadanya, seakan kaget banget?” tanya Romi
“Ah, enggak. Biasa saja!” kilah Rury, sesaat ia pindahkan ponsel dari telinga ke hadapan matanya untuk memastikan nomor telepon yang menghubunginya. Nomor baru yang tidak ia simpan.
“Mas menggunakan nomor telepon siapa?” tanya Rury hati-hati.
“Oh, ini masih nomor kantor hanya saja berbeda ruangan. Kebetulan ini mendekati jam pulang dan mas sudah bersiap, saat sudah di lobby, terfikir untuk menghubungimu lagi saja.” jawab Romi datar.
“Oh, begitu. Oke. Take care!” ucap Rury pendek
“Are you kidding me?” tanya Romi dengan nada suara meninggi seakan menahan emosi.
Rury terkejut dengan respon Romi, mengapa pria yang dikenalnya selama setahun belakangan ini seakan ingin meluapkan rasa marah pada dirinya.
“Sorry, but actually, what do you expect from me?” tanya Rury hati-hati.
Terdengar dengus napas Romi, sejenak pria itu terdiam, “Hey, listen! I tried to call you, texted you all day. But I got no response from you. And when finally I could reach you, the word I received was just ‘Ok, Take care’. Argh…!” ujar Romi dengan suara tinggi namun masih menahan emosinya.
Sejenak Rury terkejut dengan apa yang ia dengar dari pria yang berjarak dua belas tahun lebih tua darinya, selama ini mereka tak pernah meributkan apapun. Meskipun ia akui sejak pria itu menikahi wanita lain, Rury secara sadar selalu berkata dengan nada sinis pada RomI. Namun, pria itu tak sekalipun pernah marah atau berkata keras padanya.
Rury menghela napas dalam, berusaha menahan emosinya yang terpancing dengan sikap yang ditunjukkan Romi,
“Hey, I really don’t understand. I am not your wife nor your girlfriend anymore, so why do you try to treat me like that?” balas Rury kemudian, ia berusaha mengatur suaranya agar terdengar tenang.
“Akh…I told you many times. I can not be your ordinary friend. You’re still my…” jawab Romi geram.
Namun hal itu justru membuat Rury yang sedang dalam keadaan perut kosong semakin kesal, gadis itu menjadi tidak sabar menghadapi sikap Romi yang menurutnya kekanakkan.
“How dare you? if you can not be my friend then don’t contact me anymore, just leave!” potong Rury cepat. Kali ini suaranya meninggi, ia sudah tak dapat menahan diri.
“If I leave, can you live happier without me?” tanya Romi tiba-tiba, setelah beberapa saat terdiam mendengar ucapan menohok Rury.
“Sure, I will! Perempuan mana sih yang bakal bahagia kalau dipaksa buat jadi selingkuhan?” ucap Rury, kali ini ia benar-benar kesal.
“Kenapa sih Ry, padahal mas cuma ingin tahu bagaimana keadaan kamu, khawatir kalau kamu kenapa-napa.” suara Romi terdengar parau di telinga Rury, seakan tenggorokan pria itu tiba-tiba saja tercekat.
Rury sadar, bisa jadi ia telah mengucapkan hal yang menyinggung perasaan pria itu. Ia cukup mengenal Romi sebagai pribadi yang meskipun terlihat ramah dan humble, namun pria itu sebenarnya merupakan sosok yang cukup sensitif dan melankolis. Tapi, nasi telah menjadi bubur, Rury merasa tak mungkin juga menarik kembali ucapannya, dan ia merasa berat jika harus meminta maaf terlebih dahulu saat ini.
“Kenapa mas harus khawatir? toh, aku bukan siapa-siapa. Tidak perlu dikasihani, aku sudah terbiasa sendiri.” ucap Rury, ia berusaha menurunkan nada pada suaranya.
“Aku lapar, apa ada hal lain yang mau mas bicarakan?” tanya Rury, perempuan itu mulai gusar saat kembali mendengar gemuruh dari perutnya.
“Bagaimana kalau kita dinner malam ini, mas akan naik kereta ekspres ke Bogor agar cepat sampai. Mas bisa jemput di Jambu Dua, Bogor.” tawar Romi, nada suaranya telah kembali normal.
Rury mengernyitkan dahi, ia merasa heran dengan perubahan sikap Romi yang dengan cepatnya menjadi manis setelah perdebatan penuh emosi.
“Maaf aku sudah lapar sekarang, terlalu lama jika harus menunda makan hingga dua jam ke depan. Lagipula aku lelah, sudah tak ingin bepergian jauh.” jawab Rury
“Memangnya hari ini kemana?” tanya Romi, nada suaranya sudah benar-benar kembali normal.
“Hari ini sudah keluar rumah sejak subuh ke bandara, menjemput kepulangan salah satu sahabat dari luar negeri.” jawab Rury pendek dan apa adanya.
“Apakah orang itu sangat dekat denganmu, sampai harus menjemput ke bandara?” tanya Romo dengan nada menyelidik.
“Ya… how should I say? ummm…. close enough I guess. Sudah kenal lama, kami dari almamater pondok pesantren yang sama. Hanya beda nasib, dia harus melanjutkan studi keluar negeri, sementara aku ya disini saja.” jawab Rury ceria, sambil sedikit membayangkan sosok Harris.
“Oh, begitu. Man or woman?” tanya Romi dengan perlahan.
“Kenapa sih kok jadi tanya-tanya tentang teman aku? sudah ya, aku mau masak, lalu makan. Sudah sangat lapar." Ujar Rury mulai kesal lagi.
"Mas, kan, hanya tanya, karena mas belum mengetahuinya sebelumnya." Kilah Romi tenang
Namun, justru membuat Rury semakin kesal, gadis itu mengembuskan napas,
" You mustn't know about me. Especially it's my privacy!" Ucap Rury pelan namun tegas
"I guess close friend that you mention is refer to some other guy, right?" Tebak Romi masih belum menyerah untuk menginvestigasi Rury.
Gadis itu memutar bola matanya, pertanda rasa kesal sudah menguasai dirinya. Ia merasa Romi sudah melampaui batas. Namun, Ruru bersyukur hal tersebut terjadi melalui sambungan telepon. Ia tak dapat membayangkan jika harus menghadapi pria itu secara tatap muka. Mungkin ia yang tak sudah tak dapat menahan diri akan bersikap frontal.
"Whoever. Well, kalau sudah tidak ada hal penting lain yang mas bicarakan, I will end the call!" Ucap Rury tegas.
"Baiklah, better for you to have dinner soon and calm your self. I hope next time we can have dinner together and talk about it again." jawab Romi
"Thank you sudah jawab telepon mas. Miss you!" Sambung Romi mengakhiri pembicaraan dengan nada suara lembut.
"Ok, bye!" Jawab Rury kemudian menekan tombol akhiri panggilan di ponselnya.
Rury menggelengkan kepala, ia tak habis pikir dengan sikap Romi yang masih bersikap seakan masih menjadi kekasihnya.
"Duh, lagian kenapa aku bisa sampai keceplosan tentang Harris sih, ya? Bodohnya aku!" Rutuk Rury pada dirinya.
Ia meletakkan ponsel di atas meja tulisnya kemudian beranjak menuju dapur,
"Sebel banget lagian, orang lagi lapar malah di interogasi macam-macam. He is really a kind of bad guy I ever met in life!" Gerutu Rury sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
Bersambung *****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar