Selasa, 19 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 7 - Assistant Day

 


Dering telepon berbunyi dengan keras, memekakkan telinga Rury yang baru saja membuka matanya perlahan, setelah meregangkan tubuhnya, dengan malas ia menyibak selimutnya, dan beranjak ke meja tulisnya dan meraih ponsel yang masih saja berdering, seakan memaksanya untuk menjawab panggilan tersebut. 


"Halo, dengan siapa?" Tanya Rury langsung tanpa basa-basi.


"Assalamualaikum, shobahal khoir ukhti!" Sapa Harris dalam bahasa Arab. 


Seketika Rury membelalakkan matanya, "Aduhhh… Harris. Kenapa sih, menelepon pagi-pagi begini?" Maki Rury kesal.


"Hey, ini sudah jam enam pagi. Jangan bilang kamu nggak salat Subuh tadi?" Selidik Harris. 


"Apaan sih? Suudzon saja kamu ini. Tentu saja aku salat. Habis itu tidur lagi." Jawab Rury 


"Oh, ok. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk bersiap-siap pergi ke luar?" Tanya Harris tiba-tiba


"Hah? Ke luar? Ke mana? Aku masih libur mengajar, so I just stay home today." Ucap Rury, ia tidak mengerti arah pembicaraan Harris. 


"Ukhti Rury al jamilah (yang cantik), apa sudah lupa dengan kesepakatan kita kemarin?" Tanya Harris. 


"Hah? Kesepakatan apa?" Rury semakin tidak mengerti, ia baru saja bangun tidur, masih berusaha memahami apa yang sebenarnya telah ia lewati. 


"Baiklah, kalau begitu dengan senang hati, akan saya ingatkan kembali, ya." Ucap Harris 


"Duh, Harris kenapa sih?" Maki Rury dalam hati. 


"Iya, apa coba kesepakatan yang kamu maksud? Seingatku kita tidak ada kesepakatan apapun!" Jawab Rury polos.


"Kita sudah sepakat bahwa kamu akan menjadi asistenku selama sebulan ini aku berada di Indonesia." Jawab Harris


"Apa? Mana bisa begitu!" protes Rury "Hey, aku tidak menyetujui apapun. Not fair!" Gerutu Rury 


"Kan, aku sebagai CEO yang membuat kesepakatan dan kamu tinggal menjalankan!" Ucap Harris sambil tergelak.


"Wait, what?" Tanya Rury terkejut dengan ucapan Harris yang begitu cerianya tertawa.


"Sudahlah, no more protest. Toh, kamu juga belum ada kegiatan kan selama libur mengajar dan belum mulai kuliah lagi. Segeralah bersiap, dua jam lagi aku sampai depan rumahmu, oke!" Ucap Harris masih dengan tawa kecilnya. 


"Tapi…" sanggah Rury


"See you, Assalamualaikum!" Jawab Harris kemudian mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja. 


Rury tak percaya dengan sikap Harris, ia memandang layar ponselnya yang telah tak aktif karena telepon telah berakhir. 


"Apaan sih? Baru satu hari di Indonesia. Dia sudah jadi pria menyebalkan!" Sungut Rury


Namun, kemudian tiba-tiba saja gadis itu menyeringai saat meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian bergegas menuju kamar mandi. 


***

Suara mobil terdengar tak jauh dari halaman rumah Rury, 


"Jangan jangan mobil Harris?" Pikir Rury sambil menghentikan gerakan tangannya memasang jilbab. Ia mencoba menajamkan telinganya, menunggu salam dari pintu rumahnya atau bunyi klakson mobil. 


Setelah beberapa saat ia tak mendengar apa yang dipikirkannya, 

"Eh, mobil orang lain kali, ya? Sudahlah!" Gumamnya. 

Namun sejurus kemudian ponselnya berdering nyaring. Spontan Rury mengelus dadanya karena terkejut, dengan segera ia selesaikan menata jilbab biru tuanya. 


"Halo, assalamualaikum!" Ucapnya saat menerima panggilan tersebut. 


"Waalaikumsalam, sudah siap belum asisten?" Tanya Harris "aku sudah di depan rumahmu. Segeralah keluar sudah beberapa menit aku menunggu." Protesnya namun dengan suara yang cukup tenang. 


"Oke bos!" Jawab Rury kemudian mematikan sambungan teleponnya. 


Ia meraih tas ranselnya dan bergegas keluar rumah, ia melihat sebuah mobil sedan hitam keluaran Jerman sedang terparkir tak jauh dari halaman rumahnya. Rury segera mengunci pintu rumahnya dan menghampiri mobil tersebut. 


Saat ia sudah dekat, tiba-tiba saja Harris keluar dari mobilnya. Rury menghentikan langkahnya, memperhatikan arah langkah Harris yang ternyata menuju pintu mobil untuk kursi penumpang pada bagian depan.


"Eh, mau ngapain sih dia?" Batin Rury sambil memperhatikan gerak-gerik pria dengan kemeja biru muda itu. 


Harris membukakan pintu mobil tersebut, lalu memandang ke arah Rury yang hanya termangu tak jauh dari mobilnya. 


"Hey, come on!" Ujarnya sambil memberikan isyarat dengan kepalanya agar Rury segera masuk ke mobil. 


Meski tertegun dengan sikap Harris, namun Rury mengangguk dan tersenyum, kemudian melangkah mendekati pintu mobil yang masih dipegangi Harris. 


"Thank you!" Rury memasuki mobil dan duduk di kursi bagian depan. 


"You're welcome!" Balas Harris kemudian menutupkan pintu mobil dan kembali menempati kursi kemudi di samping Rury. 


Saat sedang mengenakan sabuk pengaman, tiba-tiba saja Harris menoleh ke arah Rury yang memang memperhatikannya sejak ia duduk. 


"Hey, what's wrong?" Tanya Harris dengan heran. 


"Ris, are you ok?" Rury justru balik bertanya.


Harris mengernyitkan dahinya, "I am ok, why?" 


"Kok, kamu ngeselin tapi sok baik sih bukain pintu segala?" Tanya Rury sambil merapikan sabuk pengaman kursinya, sebuah senyum simpul terlihat di sudut bibirnya. 


"Bukankah sebelumnya aku juga beberapa kali membukakan pintu untukmu?" Ujar Harris 


"Iya sih, tapi dulu enggak sering deh rasanya." Ucap Rury.


"Anggap saja itu hikmah aku beberapa tahun di Eropa, it's just a part of how to treat a girl!" Ucap Harris sambil mulai memutar kemudinya untuk berputar arah meninggalkan halaman rumah Rury. 


Rury hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Harris. 


"Eh, tapi harusnya aku di belakang dong bukan di depan?" Ucap Rury kemudian.


"Hey, meskipun saya membukakan pintu untuk Anda, tapi saya tetaplah Atasan Anda ya saat ini bukan supir pribadi!" Jawab Harris dengan nada kesal 


Rury hanya tertawa mendengarnya, "Ya maaf, cuma bercanda tahu! Lagipula katanya aku asisten, kenapa duduknya berjajar dengan CEO?" 


"Tentu saja, asisten itu selalu mendampingi di sisi atasannya." Ucap Harris


"Apa iya?" Tanya Rury tak percaya, sambil menoleh pada Harris.


Dengan mantap pria itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, saat melihat gadis disampingnya itu hanya ber-oh ria. 


"Eh tapi, sudah lama juga tidak naik mobilmu ini?" Ucap Rury tiba-tiba sambil memandangi sisi-sisi mobil Harris


"Iya betul, kangen ya?" Tanya Harris dengan nada ceria.


"Nggak juga sih biasa saja!" Jawab Rury datar. 

Membuat Harris menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal, dan Rury hanya tertawa melihat reaksi pria itu. 


"Mobil ini tetap diletakkan dirumah, karena di sana, aku menggunakan kendaraan yang ada dirumah keluarga. Tapi selama di Indonesia aku akan gunakan kembali, toh ini masih bagus mesinnya karena masih selalu dirawat oleh pak Kahar juga." Ucap Harris menjelaskan. 


"Oh iya, kenapa pak Kahar tidak ikut hari ini?" Tanya Rury, tiba-tiba teringat dengan sopir pribadi keluarga Harris. 


Sejenak Harris terdiam, kemudian ia menjawab. "Because today is assistant day." 


"Assistant day?" Ulang Rury tak mengerti 


"Aduh ukhti, kan hari ini kamu yang bertugas sebagai asisten aku!" Ucap Harris dengan gemas. 


"Oh begitu." Respon Rury pendek. Namun justru membuat Harris gemas dan tergelak. 


"Hari ini aku harus membeli beberapa baju formal untuk bekerja dan meeting. Sementara di rumahku hanya ada aku, pak Kahar, dan teh Iis. Karena asisten perusahaan yang ditunjuk ayahku, pulang ke rumahnya sendiri dan kami hanya akan bertemu saat di kantor atau di pertemuan bisnis." Terang Harris, "Jadi…" 


"Jadi?" Tanya Rury 


"I have officially hired you as my personal assistant!" Lanjut Harris. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar