Jumat, 15 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 3 - Belum Move On

 




Setelah menyelesaikan makan di area peristirahatan Rury, Harris, dan pak Kahar melanjutkan perjalanan menuju Depok untuk mengantar Rury kembali ke rumah. 


“Kamu mau langsung pulang ke rumah atau ke rumahku dulu Ry?” tanya Harris sembari memasang seat beltnya. 


Rury terkejut dengan pertanyaan pria itu, ia menaikkan kedua alisnya, “Kenapa aku harus ke rumahmu?” 


“Ya… mas Harris, ‘kan masih ingin mengobrol lebih lama dengan neng Rury.” jawab pak Kahar sambil tertawa. 


Harris sejenak nampak terkejut dengan ucapan pak Kahar, ia menatap sopir pribadinya yang sedang tergelak itu kemudian berpindah menatap Rury yang menoleh menatap pak Kahar. 


Namun, kemudian pria itu ikut tertawa dengan situasi tersebut, “Ya, jelas dong pak! Saya ingin tahu bagaimana cerita Rury selama kuliah atau selama mengikuti diklat penyiaran.” ucap Harris. 


“Ohh… iya boleh.” jawab Rury kemudian berhenti menatap dengan pandangan terkejut pada kedua pria dihadapannya ini. 


“Jadi kita langsung ke Bogor?” tanya pak Kahar memastikan. 


“Nggak sekarang pak.” jawab Rury cepat, “Nanti insya Allah, di lain waktu akan sowan.” lanjutnya. 


“Baiklah, jadi kita antar neng Rury ke Depok terlebih dahulu, ya?” tanya pak Kahar kembali memastikan. 

Harris menganggukkan kepala tanda setuju. Mobil berwarna hitam metalik itu pun melanjutkan perjalanan kembali di jalan tol. Selama perjalanan Harris banyak bercerita tentang bagaimana kehidupan di London, sesekali pak Kahar menimpali dengan lelucon sehingga perjalanan menjadi lebih menyenangkan dihiasi senda gurau. 


Rury lebih banyak mendengarkan percakapan Harris dan pak Kahar, ia hanya sesekali berbicara saat ditanya atau disinggung. Namun, ia merasa cukup menikmati perjalanan tersebut. 


Setelah hampir dua jam perjalanan sampailah mereka di Depok, halaman rumah dengan cat hijau itu terlihat sepi. 


“Beneran nggak mau ikut ke Bogor saja neng? dari pada sepi sendirian gitu di rumah.” tanya pak Kahar sambil memperhatikan rumah Rury. 


Rury tertawa mendengar pertanyaan pak Kahar, “Lain kali saja ya, pak. Nggak apa-apa kok, saya sudah biasa sendirian.” jawab Rury sambil beranjak hendak membuka pintu mobil. 


“Meskipun sudah biasa sendiri, tapi jika kamu memang butuh bantuan, segera hubungi aku, ok!” ucap Harris sambil tersenyum pada Rury. 


Gadis itu terperanjat dengan perkataan Harris, ia mengangguk dan membalas senyuman itu. Setelah keluar dari mobil, ia melambaikan tangan pada keduanya yang kemudian meninggalkan halaman rumah Rury. 


Perempuan itu memasuki rumahnya yang sepi, ibunya masih bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita di Arab Saudi, kedua adiknya bersekolah di kota Madiun. Rury masih menempati rumah orang tuanya seorang diri karena Bapak pun semakin jarang pulang. 


Kembali ke rumah sama halnya dengan berteman kembali dengan kesendirian, setelah mencuci tangan, dan kaki, serta membasuh wajahnya. Rury memasuki kamar tidurnya, setelah mengganti bajunya, ia merebahkan tubuh di kasur, matanya menatap langit-langit kamar. 


Ia merasakan punggungnya terasa pegal setelah melakukan perjalanan dari Depok ke Bandara Soekarno Hatta. Sudah lama Rury tak mengalami perjalanan jauh seperti ini.

Dan ia masih harus mengerjakan pekerjaannya. 


“Benarkah, Harris sudah berada di Indonesia?” tanya Rury dalam hatinya sendiri, ia masih belum bisa mempercayai akan kembalinya Harris. 


Rury mengeluarkan ponsel dari dalam tas, benda itu sempat terlupa beberapa saat setelah ia bertemu dengan Harris. Ia melihat ada beberapa notifikasi yang tercantum di layar, saat ia buka. Beberapa pesan tersebut dari Romi. 


“Ada apa dengan pria itu, apa dia masih belum mengerti dengan perkataanku sebelumnya?” rutuk Rury 


Ia mulai memeriksa satu persatu pesan dari Romi, 


“Ry, mas nggak bisa kalau hanya berteman biasa denganmu, Nggak mungkin mas memungkiri perasaan mas padamu.” 


Pesan pertama tersebut membuat Rury memajukan bibirnya, 

“Nggak bisa berteman tapi tetap maunya bertemu terus.” ucap Rury kesal, ia kemudian memeriksa pesan berikutnya.


“Ry, sedang berada dimana? sudah makan siang?” 


“Duh, dia kenapa masih perhatian seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita sih, ya?” batin Rury lagi.


“Ry, kenapa pesan mas tidak ada yang dijawab? mas telepon tidak diangkat. Are you ok?”  pesan ketiga Rury baca dengan mata semakin membesar. 


Gadis itu memeriksa riwayat panggilan pada ponselnya dan menemukan ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor telepon yang ia pikir merupakan format nomor kantor Romi. 


“Ternyata dia benar-benar tidak paham arti di reject.” Rury mengembuskan napas, “Bagaimana lagi harus ku jelaskan pada pria ini ya?” 


Sejenak gadis itu terdiam berpikir, kepalanya terasa penat tiba-tiba saja, kemudian jarinya mengetikkan sesuatu pada ponselnya. 


“Aku baik-baik saja, ada apa mas menghubungiku? apa ada hal yang penting?” sebuah pesan balasan ia kirimkan ke nomor ponsel Romi.


Diliriknya jam dinding yang telah menunjukkan pukul tiga sore, Rury menutup mulutnya yang menguap, ia menggelengkan kepalanya berusaha mengusir rasa kantuk yang datang. Sebentar lagi adzan Ashar akan berkumandang, ia tidak ingin melewatkan waktu Ashar yang hanya sebentar. 


Perempuan dengan wajah kuyu itu meletakkan ponsel di atas meja tulisnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh diri sebelum salat Ashar. Rury tak menyadari saat ponsel itu berdering karena satu panggilan telepon masuk, dan menjadikannya sebuah panggilan tak terjawab. 


Sepuluh menit kemudian Rury kembali ke kamarnya, tanpa menoleh pada hal lain gadis itu segera melakukan salat Ashar. 


Setelah merapikan peralatan salatnya, Rury merapikan beberapa barang dari dalam tas yang ia bawa saat menjemput Harris di bandara tadi. 


Saat sedang meletakkan beberapa barang di atas meja tulisnya tak sengaja pouch yang sedang ia keluarkan menimpa ponsel yang juga ia letakkan di sana. 

“Ah, aduh, maaf nggak sengaja.” ucap Rury merasa bersalah, ia segera meraih ponsel tersebut dan memeriksanya. 


“Syukurlah aman, coba cek layar.” ucap Rury kemudian mengaktifkan ponsel tersebut dan menampilkan layar yang dipenuhi beberapa panggilan tak terjawab. 


Rury mengernyitkan dahi, ia tahu nomor yang tercantum di daftar panggilan ponselnya adalah nomor Romi. Rury mengusap wajah dengan kedua tangannya, ia kemudian duduk di tepi kasurnya sambil memandangi ponselnya. 


“Kenapa ya, mas Romi ini, saat aku sudah berniat meninggalkan dia. Dia justru gencar sekali mencoba menjangkau aku?” pikir Rury. 


Gadis itu melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah lima sore, tiba-tiba ia mendengar gemuruh dari perutnya.


“Aku sudah merasa lapar lagi!” keluh Rury sambil memegangi perutnya. 


Saat hendak beranjak dari duduknya, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya, diraihnya benda tersebut. 


“Nomor baru, siapa, ya?” pikir Rury sambil memperhatikan deretan angka yang diawali 021 tersebut. 


Rury merasa ragu untuk menerima panggilan tersebut, namun nomor itu tak kunjung berhenti menghubungi nomornya membuat dering ponselnya terus terdengar, karena gadis itu lupa untuk mengaktifkan mode diam. Sejenak ia menghela napas, kemudian menekan tombol terima panggilan, 


“Halo, selamat sore! dengan siapa mohon maaf?” tanya Rury segera saat telepon tersebut terhubung. 


“Rury, dimana?” sebuah suara berat seorang pria, yang justru balik bertanya, membuat mata Rury membesar seketika. 


Bersambung ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar