Kamis, 05 Mei 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 25 - Work From Office

 



Sejenak Harris terpaku dengan pertanyaan seorang perempuan di meja resepsionis kantornya,


"Maaf Bapak siapa?" Tanyanya dengan wajah menyelidik


Harris berdehem, sejurus kemudian ia sadar bila pegawainya yang satu ini tak mengenalnya bisa jadi karena bukanlah pegawai lama. Namun, bukankah seharusnya sudah ada pemberitahuan sebelumnya bahwa hari ini akan kedatangan seorang pemimpin, sehingga pegawai pun mestinya sudah mengetahui siapa yang akan bekerja dengan mereka. 


Baru saja Harris hendak menjawab rasa ingin tahu sang resepsionis, sebuah suara memanggilnya,


"Pak Harris, selamat datang!" 


Harris menoleh dan melihat sosok Batara, sekretaris ayahnya di kantor tersebut. 


“Selamat pagi pak Batara!” balas Harris sambil tersenyum dan meraih uluran tangan Batara. 


Batara Hendra, pria tiga puluh tahunan yang telah menjadi sekretaris ayahnya selama lima tahun belakangan ini. Harris sudah mengenal pria ini, karena selain pernah bertemu beberapa kali di kantor, Batara juga tak jarang mendatangi kediaman keluarga Owen di kota Bogor untuk urusan pekerjaan dengan tuan Danish. 


Kedua pria itu saling bersalaman dan tersenyum, sementara sang resepsionis hanya terpaku melihat keduanya, karena tidak menyangka bila pria asing yang baru saja masuk ke kantor ini telah memiliki akses personal VIP. Kini ia hanya dapat menatap keduanya dari meja resepsionisnya.


“Perjalanan lancar pak? menyetir sendiri atau dengan pak Kahar?” tanya Batara ramah.


“Alhamdulillah lancar, saya bersama pak Kahar, untuk sementara ini akan di antar beliau.” jawab Harris.


“Benar, lebih santai ya pak!” ucap Batara yang dibalas dengan senyuman Harris


“Well, sebaiknya saya segera ke ruangan saya, lalu bisa kita meeting semua pegawai pada jam sepuluh nanti? saya rasa perlu memperkenalkan diri pada semua staf agar tidak terjadi  kesalahpahaman saat saya tegur nanti.” ucap Harris 


Batara mengangguk, “Bisa pak, saya sudah jadwalkan juga sebenarnya untuk bertemu seua pegawai. Mari kita ke ruangan bapak!” 


Kedua pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan kantor, meninggalkan meja resepsionis dengan sang pegawai perempuan yang kini hanya dapat menggaruk kepalanya karena merasa tersindir dengan perkataan atasannya tersebut. 


***

Harris dan Batara melewati ruang kerja kubikel pegawai, saat mereka lewat tak ayal lagi banyak mata yang tertuju pada sosok Harris, terlebih staff wanita. 


“Eh, eh itu bos baru? duh ganteng banget sih.” 

“Masih muda tahu, anaknya Mr. Danish.” 


Harris mengabaikan suara-suara yang sampai di telinganya itu, ia terus melangkah bersama Batara menuju ruang kerjanya. 


“Silakan pak!” ucap Batara membukakan pintu sebuah ruang kaca di ujung ruang kubikel pegawai. 


Harris masuk ke ruangan tersebut, diikuti Batara. 

“Masih sama.” ucap Harris sambil melihat sekeliling ruang kerjanya yang berukuran besar tersebut, ia melangkah menuju meja kerja dengan sebuah plat nama di atasnya.


“Kenapa sudah ada nama saya pak?” tanya Harris pada Batara sambil mengernyitkan dahi, ia pikir hanya menggantikan ayahnya sementara waktu. 


“Instruksi dari Mr. Danish langsung pak, beliau minta agar selama bapak disini maka nama di meja ini haruslah nama pak Harris.” jawab Batara


“Stop calling me pak. It’s okay just call me with mas. Seperti yang biasa pak Batara lakukan saja sebelumnya.” ucap Harris sambil tersenyum 


Barata tersenyum sungkan, ia hanya mengangguk, ia akui memang agak aneh memanggil anak dari komisaris perusahaan tempatnya bekerja ini dengan pak. 


“Kan sekarang mas Harris sudah masuk ke ranah profesional disini, jadi selama di kantor saya harus memberikan contoh pada pegawai lain untuk tetap respect.” jawab Batara


Harris menganggukkan kepalanya, ia memahami posisi Batara,  

“Oke, begini saja. Kalau di lingkup kantor boleh panggil pak, tapi kalau di luar kerjaan panggil mas saja biasa ya!” 


Batara tersenyum dan mengangguk.

“Oh iya, saya sudah coba cek beberapa dokumen, sepertinya ada penurunan di bagian penjualan untuk dairy product. Dan ada overturn karyawan yang cukup tinggi dalam tiga bulan terakhir.” ucap Harris 


“Mas serius sekali sepertinya.” puji Batara yang tidak menyangka bila dokumen laporan perusahaan yang ia berikan beberapa waktu lalu benar-benar membaca secara detail. 


Harris menghela napas, ia duduk di kursi kerjanya dan menatap Batara lekat, 

“Pak saya nggak punya banyak waktu, Mr. Danish hanya memberikan satu hingga tiga bulan kedepan pada saya untuk menguji coba diri saya sendiri, apakah saya mampu untuk mengurus perusahaan ini kedepannya.” 


Batara tersenyum, ia tahu tidaklah mudah bagi pemuda di hadapannya ini untuk menghadapi tekanan dari keluarganya.


“Saya percaya mas Harris bisa menangani semua yang ada di sini. Saya juga akan bantu apapun yang mas Harris perlukan terkait perusahaan.” ucap Batara berusaha meyakinkan Harris. 


Pria dua puluh tiga tahun itu tersenyum dan menganggukkan kepala,

“Aku pasti akan membutuhkan banyak bantuanmu pak.” 


“Kalau begitu saya akan kembali  ke ruangan, satu jam lagi saya akan kembali ke sini dan kita akan meeting bersama semua pegawai untuk pengenalan mas Harris.” ujar Batara


“Baiklah, kita bertemu lagi pukul sepuluh. Saya akan coba memeriksa beberapa hal di ruangan ini.” jawab Harris.


Batara menganggukkan kepala dan beranjak keluar dari ruangan Harris.


Sepeninggal Batara, Harris melepas jasnya, ia membuka tirai ruangan dengan kaca tersebut, pikirannya menerawang sambil memandangi hamparan gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis selatan Jakarta tersebut.


Setelah sepuluh menit  hanya berdiri memandang keluar jendela, Harris kembali ke mejanya, ia melihat perangkat komputer di meja tersebut, ia pun menyalakan benda tersebut, beberapa saat Harris sibuk memeriksa data dan file yang ada di dalam komputer tersebut. 


Hingga sebuah ketukan terdengar di pintunya, 

“Ya masuk!” sahutnya, 


Batara muncul dari balik pintu, 

“Mas, jam sepuluh, ayo ke ruang meeting!” 


“Oke!” jawab Harris, ia mengunci layar komputer, lalu mengenakan jasnya kembali dan melangkah keluar ruang kerjanya. 


Ruang kubikel pegawai sudah kosong dan sepi, 

“Para staff sudah berkumpul di meeting hall!” ucap Batara 


Harris hanya menganggukkan kepalanya, ia berjalan mengikuti langkah Batara menuju meeting hall yang berada di lantai bawah. Setelah melewati beberapa ruangan, sampailah keduanya di sebuah ruangan yang cukup besar. 


Batara mengajak Harris untuk berdiri di depan, untuk beberapa saat Batara bercakap-cakap dengan staf lainnya dari divisi HRD. Seorang pegawai datang membawakan sebuah kotak pengeras suara dan juga mikrofon. Ia menyerahkan pada Batara, 


Cek, satu dua tiga testing.” ucap Batara di memecah kebisingan yang terjadi diruangan tersebut. 


Harris melihat pria yang bertemu dengannya saat di lift tadi, tampak sekali dari raut wajah mereka terlihat ada kecemasan mendalam. 


“Ini bos kita yang baru, ya?” terdengar pertanyaan-pertanyaan serupa dari bangku pegawai yang duduk di tribun. 


“Selamat siang, baik rekan-rekan sekalian. Sebagaimana yang kita ketahui bila kita akan kedatangan pemimpin baru di perusahaan kita ini. Oleh karena itu agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam mengenali. Mari kita berkenalan dengan seorang pemimpin muda yang ada di samping saya ini. “ ucap Batara membuka meeting hall siang itu. 


Batara menyerahkan sebuah mikrofon pada Hariss, 

“Selamat siang, saya Avery Harris Owen yang akan bertugas memimpin perusahaan ini untuk satu hingga tiga bulan kedepan.” ucap Harris lantang.



Bersambung ***

Rabu, 04 Mei 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 24 - 1st Day at Office




POV Harris.


Waktu sarapan Harris pagi ini terselamatkan dengan kehadiran Pak Kahar dan Teh Iis yang ia minta menemaninya sarapan bersama di ruang makan keluarga. Teh Iis bahkan mengatakan ia akan mendoakan agar Harris segera mendapat jodoh, sehingga tak merasa sepi lagi hari-harinya. Tepat saat asisten rumah tangganya tersebut menanyakan apakah sudah ada nama yang Harris ingin lafalkan dalam doa, baik pak Kahar maupun dirinya justru saling menatap kemudian tersenyum, meninggalkan kecurigaan pada diri Teh Iis, 


“Pak Kahar, kasih tahu dong siapa pacarnya mas Harris?” paksa Teh Iis membujuk rekan kerjanya tersebut. 


Pak Kahar hanya tertawa, “Nggak ada pacar, tapi sahabat akrab sangat dekat.” kemudian lelaki itu terkekeh sambil melirik Harris yang menyuap nasi nya sambil tersenyum. 


“Mas Harris bisa saja! nggak pacar tapi di pepet terus. Begitu, ya?” protes teh Iis


“Bukan seperti itu teh, pak Kahar ngarang saja itu. Nggak ada pacar, kok!” elak Harris tanpa menghentikan suapan makannya.


“Siapa sih, pak? kasih tahu dong!” rajuk Teh Iis, “Biar bisa doain juga kan!” 


“Duh, kamu mah mau tahu aja sih Is!” tegur pak Kahar. 


“Pokoknya Teteh sudah tahu orangnya, kok, sebenarnya!” jawab Harris akhirnya sambil tersenyum.


“Wah, siapa ya?” gumam Teh Iis,


“Siapapun itu, tolong piring-piringnya ya Is!” ucap Pak Kahar sambil menyodorkan piring bekas makan. 


Teh Iis membereskan piring bekas pakai di meja sambil menggumam, bahkan hingga kemudian ia kembali ke dapur. 


Harris merasa geli melihat asisten rumah tangganya yang begitu perhatian padanya ini. 


“Mau berangkat jam berapa mas Harris?” tanya pak Kahar.


“Setengah jam lagi pak, saya bersiap terlebih dahulu ya!” jawab Harris sambil melihat jam tangannya. 


“Baik, saya akan siapkan mobil.” ucap Pak Kahar “Terima kasih mas sudah diajak sarapan bareng.” 

Harris tersenyum, “Saya yang terima kasih karena sudah ditemani.” 

Pak Kahar membalas senyum tuan mudanya itu, kemudian berpamitan menuju garasi. 


Harris beranjak kembali ke kamarnya, ia menyiapkan beberapa perlengkapan gawainya. Dan sebuah map biru berisi surat resmi yang telah ditandatangani ayahnya, sebagai pengesahan bahwa ia benar-benar ditunjuk untuk mengurus perusahaan. 


Ia mengenakan jasnya untuk melengkapi penampilannya hari itu. Sejenak memeriksa penampilan dirinya di cermin, sebelum kemudian ia melangkah keluar kamarnya menuju halaman rumah, dimana pak Kahar telah menunggunya 


Harris masuk ke dalam mobil, ia menempati kursi bagian penumpang bagian depan. Tak lama mobil pun melaju meninggalkan kediamannya di kota Bogor untuk menuju Jakarta.


***

“Sebentar lagi kita sampai mas, saya drop di lobby saja dulu, ya. Agar tidak jauh menuju lift.” ucap pak Kahar mengingatkan Harris yang membaca beberapa dokumen yang ia bawa dari rumah. 


“Oke, pak.” jawab Harris pendek.


“Apa sebaiknya saya minta pak Barata untuk turun dan menemani mas Harris ke atas?” tanya pak Kahar sambil tetap fokus pada kemudinya yang mulai memasuki area gedung


“Nggak apa-apa pak, saya sudah memiliki akses masuk. Saya beberapa kali sempat mengunjungi kantor yang disini, semoga tidak banyak perubahan tata ruang jadi masih aman.” jawab Harris, ia memasukkan kembali lembaran dokumen tersebut ke dalam sebuah amplop. 


Pak Kahar menyorongkan ibu jari kanannya setelah menghentikan mobilnya tepat di depan lobi salah satu gedung yang telah lama berdiri di selatan Jakarta itu. 

“Semoga sukses mas Harris, kalau ada pegawai perempuan yang godain, langsung buka dompet mas saja!” pesan pak Kahar


Harris mengernyitkan dahinya, “Kenapa buka dompet? uang tunai di dompet saya sedikit loh ini pak, belum sempat ke ATM kita.” 


“Nggak perlu pamer duit mas, tapi foto yang ada di dompet mas itu yang perlu ditunjukkan!” jawab pak Kahar sambil tersenyum. 


Sesaat Harris nampak berpikir, sejurus kemudian ia pun tersenyum lebar, “Pak Kahar tahu saja, ya. Tapi boleh dicoba juga idenya, terima kasih pak, saya kerja dulu, nanti makan siang bersama saja, kita keluar!” 


“Siap, mas!” sahut pak Kahar dengan terkekeh senang melihat perubahan raut wajah Harris yang sudah kembali tersenyum setelah selama perjalanan pria dua puluh empat tahun itu hanya membaca dengan raut wajah serius yang membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. 


Harris beranjak keluar dari mobilnya, setelah menutup pintu mobil dan merapikan rambut serta jasnya, salah satu tangannya menenteng sebuah tas kerja. Sejenak pria itu hanya berdiri dan menyapu lobi dengan pandangn matanya, ia tersenyum sejenak berusaha meyakinkan dirinya, kemudian Ia mulai berjalan memasuki gedung dan harus melewati serangkaian pemeriksaan masuk ke dalam gedung. 


Saat hendak menekan tombol pilihan lift, seorang pria mendahuluinya dengan acuh, sesaat Harris sempat melihat pria dengan kemeja abu-abu tersebut yang ternyata kemudian berada satu lift dengannya. 


Saat berada di dalam lift, terdengar sebuah percakapan dari arah belakang tempatnya berdiri. 


“Eh katanya CEO yang baru akan datang hari ini?” 

“Nggak baru sih, karena dia konon anak presdir utama, bukan?” jawab seorang lainnya

“Oh begitu, kudengar dia masih muda.” 

“Ya pasti lebih muda dari kita, terus kenapa? tetap saja, biasanya nggak bisa apa-apa!” olok seorang lainnya. 

“Betul, biasanya anak muda yang dapat jabatan karena warisan ortunya, kalau disuruh kerja nggak bisa apa-apa, tetap mengandalkan pegawai lama yang mulai dari bawah.” 


Harris yang berdiri di hadapan mereka, hanya tersenyum kecut mendengar ucapan-ucapan yang sudah ia tahu bisa saja ia dapat. Namun, ia tidak menyangka bila ini akan menjadi sambutannya di hari pertama bekerja. 


Tak lama saat lift telah sampai di lantai 9 pintu lift terbuka dan mereka bergegas keluar tanpa menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan telah mendengar apa yang mereka perbincangkan. 


Harris hanya memperhatikan orang-orang yang keluar di lantai tersebut, ia tahu di perusahaannya menempati dua lantai di gedung tersebut. Sehingga ruangan pegawai terbagi di lantai yang berbeda namun terhubung sebuah tangga penghubung internal yang tersedia di antara lantai sembilan dan sepuluh. 


Harris tidak ikut keluar, ia akan langsung menuju ruangannya yang terletak di lantai sepuluh. Ia akan menemui pak Barata yang telah ia kabari sejak di mobil saat telah sampai area gedung kantor. 


Pintu lift pun terbuka di lantai sepuluh, Harris yang tinggal seorang di dalam lift menghela napas, kemudian bergumam


"Bismillahirrahmanirrahim, I can if I think I can!" 


Pria dengan wajah rupawan itu berusaha mengafirmasi dirinya agar tetap tenang dan fokus. 


Setelah bergumam, ia melangkahkah kakinya yang beralaskan pantofel hitam, keluar lift menuju ruang kantornya yang tak jauh dari lift. Sebuah pintu kaca besar memperlihatkan bagian dalam kantor yang mengekspose sebuah meja resepsionis yang ditempati seorang pegawai perempuan modis. 


Dengan tenang Harris melangkah menuju pintu kaca tersebut, kemudian ia mengeluarkan kartu aksesnya dan menempelkan pada mesin akses keamanannya. 


Saat pintu kaca terbuka, Harris melihat sang resepsionis terpaku melihatnya, Harris balas menatap wanita itu, 


"Maaf bapak siapa?" Tanya wanita itu tergagap. 


Bersambung***

Senin, 02 Mei 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 23 - CEO’s morning



POV Harris.

Hari masih pagi saat seorang pria mengakhiri panggilan teleponnya dengan seseorang yang begitu istimewa baginya. Ia memandangi ponselnya kemudian tersenyum, 


“Apa aku benar-benar tertarik pada gadis ini?” batinnya, “Astaghfirullahaladzim!” ucapnya sambil mengusap wajah, ia kemudian menggelengkan kepala dan menghela napasnya. 


Harris kemudian meletakkan ponselnya di meja, masih mengenakan bathrobenya ia menuju walk in closetnya dan memilih pakaian yang akan digunakan, sesaat ia tersenyum melihat sebuah jas yang Rury pilihkan untuknya kemarin. 


Untuk pertama kalinya ia membeli baju untuk dirinya sendiri, dan ditemani orang selain Maminya. Setelah hampir tiga tahun berkomunikasi jarak jauh dengan Rury, kini Harris mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Indonesia, meski hanya untuk sementara waktu, karena tentu saja ia harus kembali lagi ke Inggris untuk melanjutkan studinya. 


Ia tahu ini sebenarnya bukan waktunya untuk berleha-leha, karena ini sebenarnya adalah pertaruhan dirinya dengan sang Ayah yang menentang dirinya untuk masih berhubungan dengan Rury. Teringat kembali perbincangan dengan orang tuanya itu. 


“Apa yang bisa kamu harapkan dari gadis biasa seperti dia?” tanya Tuan Danish pada Harris saat anak satu-satunya itu meminta izin padanya untuk kembali ke Indonesia selama beberapa waktu. 

“Dia sudah memiliki pria lain, itu berarti kau bukan yang dia tuju dalam hidupnya. Dia lebih memilih untuk mundur daripada berjuang menggapaimu.” ucap Tuan Danish dingin pada Harris yang menemuinya di ruang kerja yang dingin itu. 


Harris tahu, ia tak dapat menyangkal ucapan ayahnya yang berdarah Eropa itu. Namun, ia merasa tak lagi dapat menahan diri untuk tak kembali ke Indonesia dan menemui perempuan sederhana yang sudah sejak lama ia kagumi. 


“Berikan aku kesempatan untuk melihatnya, meskipun aku belum menyelesaikan studiku sebagaimana kesepakatan kita.” pinta Harris, ia berusaha menurunkan egonya, ia tahu bukan saatnya untuk bersikeras menentang pria ini, setelah kecelakaan yang sebelumnya ia alami karena keras kepalanya untuk kembali ke Indonesia setelah berselisih perihal keharusan dirinya menuntaskan studi terlebih dahulu tanpa kembali ke Indonesia sama sekali. 


“Baiklah, menangkan project dengan Bims Corporation, dan bereskan apa yang masih menggantung di kantor Jakarta. Akan lebih baik jika kau juga bisa membereskan hubunganmu dengan teman wanitamu itu!” ucap Tuan Danish akhirnya. 


***

Harris menghela napas jika mengingat perkataan ayahnya, ia tahu lambat laun dirinya akan berurusan dengan perusahaan yang telah dibangun kakeknya sejak dahulu, hingga berkembang sebesar kini, Namun, ia tak pernah merencanakan secepat ini.


“You can if you think you can!” terngiang suara Rury yang mencoba memberinya semangat. 


Pria dua puluh dua tahun itu tersenyum simpul, kemudian bergegas mengganti bathrobenya dengan setelan day suit. Untuk beberapa saat ia mematut dirinya di depan cermin yang memantulkan sosok pria dewasa dalam balutan day suit yang terasa sangat cocok ia kenakan. 


“Pintar juga dia memilih pakaian untukku!” puji Harris dalam hatinya. 


Setelah merasa cukup, pria itu melangkah keluar kamarnya menuju ruang makan. Teh Iis sedang berada disana meletakkan sebuah piring untuknya. Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya itu nampak tersenyum ceria. 


“Duh, sedang ada yang senang hatinya rupanya hari ini?” tegur Harris saat menarik sebuah kursi makan. 


“Eh, mas Harris. Iya dong senang, akhirnya saya bisa meletakkan piring di meja makan ini lagi, setelah sekian lama!” jawab Teh Iis. 


“Oh…benarkah?” ucap Harris, “Kalau begitu masaklah yang enak ya Teh. Tapi ini banyak juga kalau untuk saya sendiri.” sambungnya.


Harris melihat ada empat menu pilihan yang terhidang di atas meja makan, 


“Padahal kalau sarapan, yang simpel-simpel saja Teh. roti bakar, roti selai, atau roti lapis juga boleh. Karena toh aku, kan gampang makannya!” usul Harris


“Ya enggak apa-apa sekali-kali, ini kan hari pertama mas Harris bekerja di kantor Tuan. Jadi biar istimewa, begitu!” Teh Iis menjelaskan 


“Terima kasih, Teh Iis sudah masakin aku ya.” ucap Harris sambil tersenyum. 


“Sama-sama, silakan makan yang banyak ya mas biar kuat kerja di kantornya.” balas Teh Iis sambil tersenyum, kemudian beranjak dari meja makan. 


“Eh Teh Iis mau kemana?” tanya Harris tiba-tiba, 


“Ke dapur lagi mas.” jawab Teh Iis bingung dengan pertanyaan tuan mudanya ini. 

See “Nggak temani saya makan?” tanya Harris


“Masa saya menemani mas Harris makan sih.” Teh Iis justru balik bertanya. 


Tiba-tiba raut wajah Harris berubah, ia sadar apa yang di ucapkannya terdengar konyol bagi asisten rumah tangganya ini. 

Teh Iis yang menyadari perubahan raut wajah Harris tersenyum, 


“Bagaimana kalau pak Kahar saya panggilkan ke sini mas? siapa tahu belum sarapan.” tawar Teh Iis


“Oh iya, boleh. Tolong ya Teh!” sahut Harris senang. 


Entah kenapa ia merasa aneh berada di meja makan ini sendirian, meskipun suasana menjadi dingin saat makan bersama kedua orang tuanya. Namun, ia tak pernah merasa sepi dan sendiri seperti yang ia rasakan saat ini di ruangan tersebut. 


***


Pak Kahar datang dengan senyum sumringah di wajahnya. 


"Assalamualaikum. Mas!" Sapanya sopan pada Harris. 


"Waaalaikumsalam. Silakan duduk pak Harris, tolong temani saya sarapan!" Pinta Harris sambil mengarahkan tangannya pada kursi di hadapannya. 


Pak Kahar terlihat ragu, ia tidak pernah makan di ruang makan yang diperuntukkan bagi keluarga tersebut. Matanya melirik ke arah Teh Iis, yang seakan mengerti dengan keraguan pria paruh baya tersebut, 


"Mari pak, silakan duduk dan sarapan dulu sekalian di sini!" Ujar Teh Iis sambil menarik kursi yang ditunjuk Harris sebelumnya untuk ditempati pak Kahar. 


Dengan kikuk pak Kahar duduk, Teh Iis membantunya menyiapkan peralatan makannya, 

"Silakan dipilih sendiri ya pak, mau yang mana!" Ucap Teh Iis


Pak Kahar mengangguk, dan menyendokkan nasi serta beberapa lauk ke piringnya. 


"Maaf pak Kahar jadi makan disini. Saya merasa tidak ingin makan sendiri!" Ucap Harris menyadari sikap canggung pegawainya itu. 


Selama ini Ayahnya sebagai kepala keluarga memang membuat jarak yang cukup tegas antara keluarga inti dengan pegawai dirumah tersebut. 


"Iya nggak apa-apa mas!" Jawab pak Kahar sambil tersenyum.


"Kita doakan saja semoga nggak lama lagi mas Harris punya pasangan yang bisa menemani kapanpun!" Ucap Teh Iis tiba-tiba. 


Entah mengapa sesaat Harris tertegun dengan ucapan tersebut, dan ia menatap pak Kahar yang juga menatapnya dengan makna tersirat seolah menuju pada satu objek pikiran yang sama, kemudian kedua tersenyum. 


"Wah, kalau dua lelaki saling tatap kemudian tersenyum penuh misteri, itu berarti ada sesuatu!" Selidik Teh Iis menyadari sikap keduanya. 


"Nggak Teh, bukan begitu." Elak pak Kahar 


"Terima kasih doa teteh ya, mungkin doanya bisa lebih sering dan lebih kencang lagi, biar segera terkabul!" Ucap Harris sambil tersenyum.


"Oh… sudah ada calon ya ,mas?" Tanya Teh Iis senang. 


"Kasih tahu namanya mas, konon kalau berdoa minta jodoh itu harus spesifik biar nggak tertukar, kasih tahu teteh namanya!" Sambung wanita itu antusias. 


Bersambung ***



 




 



Minggu, 01 Mei 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 22 - Harris's Nervous

 



Adzan Subuh berkumandang dengan merdu dari pengeras suara mushola yang berjarak sekitar dua ratus meter dari kediaman Rury. Gadis itu dengan perlahan merasa terbangun dari tidurnya yang tanpa mimpi itu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum kemudian benar-benar terbangun, tangannya reflek menutup mulutnya saat menguap, ia masih merasa mengantuk, namun hari telah pagi, dan ia tak ingin melewatkan waktu salat Subuhnya. 


Dengan agak terhuyung, Rury bangkit dari kasurnya dan melangkah ke kamar mandi. Tak lama ia kembali ke kamarnya dengan wajah lebih segar setelah membasuh dengan air wudhu. Rury segera menunaikan dua rakaat salat Subuhnya. 


Seusai salat perempuan itu tanpa sadar termangu di sisi tempat tidurnya, teringat kembali tentang perbincangannya dengan Harris semalam, 


“Thank you Ry, you made my day better.” ucap pria itu di akhir perbincangan sebelum kemudian menyuruhnya segera tidur karena malam semakin larut. 


“Sebenarnya apa tuan Danish tahu, ya? tentang bagaimana sikap anak lelakinya yang seakan berusaha meyakinkanku untuk bersamanya. Meskipun ya memang sih bersama belum tentu karena mencinta, siapa tahu karena cuma butuh untuk mengusir rasa sepi saja!” pikir Rury kemudian menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.. 


“Iya sih, nggak usah ge-er ah, Ry! Belum tentu juga Harris seperti itu karena ia ada hati padaku, bisa saja dia memang sedang senang menggoda temannya. Seperti Dzie yang ternyata hanya menganggapku layaknya sister saja teman yang lebih muda tepatnya. batin Rury mengingat kembali apa yang pernah dialaminya semasa kuliah pada semester lalu sebelum dia memutuskan untuk cuti kuliah. 


“Kenapa ya, aku ini sudah tidak beruntung dalam hal kehidupan keluarga, eh dalam kehidupan asmara juga tidak beruntung. Selalu di posisi yang tersakiti, sekalinya ada yang suka sama aku, eh yang satu malah menikahi wanita lain tapi mau selingkuh, yang satu lagi beda strata sosialnya jauh banget buat di susul.” Kali ini gadis itu meratapi kisah cintanya yang membuatnya seakan jauh dari kata happy ending. 


Lamunannya buyar saat dering telepon menggema memenuhi ruang tidurnya.  

“Siapa, ya, sepagi ini sudah menghubungiku?” gumam Rury penasaran.


Ia beranjak menuju meja tulis dan meraih ponselnya yang sering ia letakkan di atasnya. Sederet nomor yang telah ia simpan dengan nama Harris tercantum di sana. 


“Wah, panjang umur pria ini! Baru saja aku memikirkannya, sekarang dia muncul di ponselku, lagi!” gumam Rury sambil tersenyum. 


“Assalamualaikum, Ry syukurlah sudah bangun.” suara Harris segera menyambut Rury yang baru saja menekan tombol terima panggilan.


"Waalaikumsalam. Masih pagi bapak Harris, ada apa menghubungiku?" Tanya Rury dengan nada berpura-pura kesal. 

Harris hanya tergelak mendengar pertanyaan Rury, "Afwan, ukhti! I just feel a bit nervous for my first day." 

"Oh… seperti itu. Wajar sih, merasa nervous saat pertama kali melakukan sesuatu. Just calm down!" Ucap Rury berusaha memberi dukungan pada sahabatnya itu. 

Terdengar Harris menghela napas, "I try, I will try to calm down." 

"You can if you think you can!" Seru Rury bersemangat. 

"Kau benar, itulah kenapa aku menghubungimu." Ucap Harris. 


Rury terkejut namun sejurus kemudian tergelak, "Apa dengan menghubungiku kamu akan mendapat ketenangan?" Tanya Rury 


Harris hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Rury.


"Selain dalam rangka untuk menenangkan diri, apa ada hal lain yang ingin Anda instruksikan pada asistenmu ini?" Tanya Rury dengan nada seolah benar-benar berbicara dengan atasannya. 


Sejenak Harris berdehem, "Nggak ada instruksi khusus kok. Benar-benar hanya ingin sedikit mengusir rasa nervous." 


"Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kamu sarapan di rumah sebelum berangkat. Hari ini bersama pak Kahar atau pergi sendiri?" Tanya Rury


"Aku akan pergi bersama pak Kahar, aku pikir untuk beberapa hari sebaiknya pak Kahar yang mengemudikan mobil. Setidaknya aku dapat berbincang dengan seseorang setelah bekerja." Jawab Harris 


"Betul juga, lebih baik seperti itu." Ucap Rury.


"Hanya saja sayangnya pak Kahar tidak bisa ikut masuk sampai ke ruang kantor." Sesal Harris


Rury tertawa mendengar perkataan Harris "Kau bisa bilang bahwa pak Kahar adalah asistenmu, sehingga beliau bisa ikut mendampingimu di ruangan." Saran Rury


"Tidak bisa, orang-orang di kantor sudah tahu jika pak Kahar adalah sopir pribadi keluarga Tuan Danish. Jadi bagaimana bisa aku tiba-tiba menempatkan beliau di ruangan." Jawab Harris 


"Betul juga, ya tidak apa-apa. Everything gonna be ok!" Ucap Rury 


"Doakan aku ya!" Pinta Harris 


Ruru tertegun, pria yang selalu bersikap tenang ini seperti tidak biasanya. Mungkin karena tekanan yang ia rasakan, tak ayal membuat Harris dapat merasa cemas juga menghadapi harinya. 


Rury tersenyum, "Aku doakan selalu untuk kelancaran urusanmu. Just stay calm and confidence. I know you can do your best!" 


"Aamiin. Thank you for supporting me, dear!" Balas Harris


"Sorry what did you just said? Did you just called me with 'Dear'?" Tanya Rury cepat sambil tertawa kecil


"Really? Maybe you just misheard!" Elak Harris.


Keduanya tertawa bersamaan, 

" It's okay, I knew you refers to 'dear friend', right?" Ucap Rury mencoba menepis dugaan yang berlebihan atas apa yang terlontar dari mulut pria itu. 


"No, you wrong!" Jawab Harris mematahkan pendapat Rury, 


Hal itu membuat gadis itu tiba-tiba merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Tanpa sadar ia menahan napasnya menunggu apa yang kemungkinan akan Harris ucapkan. 


"It refers to 'Dear Asisstant!' " lanjut Harris kemudian sambil tertawa.


Rury mengembuskan napasnya lega, kemudian ikut tergelak menyadari kekonyolan pikirannya, 

"Ya ampun Rury, santai saja. Jangan terlalu ge-er, jaga hati Rury!" Batin Rury pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar Harris, pada sambungan telepon mereka. 

"Wait, I will check, sepertinya itu teh Iis." 

Ucap Harris. 


Terdengar pria itu bergerak, dan tak lama, 

"Mas Harris mau sarapan di meja makan atau di kamar?" Suara teh Iis terdengar setelah suara pintu yang terbuka. 


"Saya akan makan di meja makan saja Teh, sebentar lagi saya keluar sarapan. Saya bersiap dulu ya sebentar." Jawab Harris ramah 


"Baik mas, segera ke meja makan ya, selagi hangat jadi masih enak." Ucap teh Iis kemudian meninggalkan pintu kamar tuan mudanya yang membalas pesannya dengan anggukan dan senyuman. 


Harris kembali meletakkan ponsel di telinganya, 

"Ry, are you there?" Tanya Harris


"Yes, I am." Jawab Rury, 

"Ya, sudah. Sebaiknya kamu segera bersiap lalu sarapan." Saran Rury 


"Kau benar, sepertinya matahari juga sudah mulai terlihat. Kamu juga segeralah beraktifitas. Kalau merasa bosan di rumah segera hubungi aku!" Ujar Harris 


"Kenapa harus kamu?" Tanya Rury dengan nada mengejek. 


"Tentu saja, aku kan atasanmu jadi, nggak ada salahnya kalau selalu diinfokan tentang dirimu!" Kilah Harris 


"Ada-ada saja kamu! " Balas Rury sambil tergelak.


"Well, good luck for you today!" Ucap Rury tulus. 


"Yes, thank you Ry!" Balas Harris "Assalamualaikum!" 

Terdengar bunyi nada sambungan telepon telah berakhir.

Rury menurunkan ponsel dari telinga kirinya, sejenak ia menghela napas, 

"Bagaimana aku bisa mensejajarkan diri dengan pria ini? Terasa jauh sekali perbedaan kami." Batinnya.


Bersambung ***