POV Harris.
Hari masih pagi saat seorang pria mengakhiri panggilan teleponnya dengan seseorang yang begitu istimewa baginya. Ia memandangi ponselnya kemudian tersenyum,
“Apa aku benar-benar tertarik pada gadis ini?” batinnya, “Astaghfirullahaladzim!” ucapnya sambil mengusap wajah, ia kemudian menggelengkan kepala dan menghela napasnya.
Harris kemudian meletakkan ponselnya di meja, masih mengenakan bathrobenya ia menuju walk in closetnya dan memilih pakaian yang akan digunakan, sesaat ia tersenyum melihat sebuah jas yang Rury pilihkan untuknya kemarin.
Untuk pertama kalinya ia membeli baju untuk dirinya sendiri, dan ditemani orang selain Maminya. Setelah hampir tiga tahun berkomunikasi jarak jauh dengan Rury, kini Harris mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Indonesia, meski hanya untuk sementara waktu, karena tentu saja ia harus kembali lagi ke Inggris untuk melanjutkan studinya.
Ia tahu ini sebenarnya bukan waktunya untuk berleha-leha, karena ini sebenarnya adalah pertaruhan dirinya dengan sang Ayah yang menentang dirinya untuk masih berhubungan dengan Rury. Teringat kembali perbincangan dengan orang tuanya itu.
“Apa yang bisa kamu harapkan dari gadis biasa seperti dia?” tanya Tuan Danish pada Harris saat anak satu-satunya itu meminta izin padanya untuk kembali ke Indonesia selama beberapa waktu.
“Dia sudah memiliki pria lain, itu berarti kau bukan yang dia tuju dalam hidupnya. Dia lebih memilih untuk mundur daripada berjuang menggapaimu.” ucap Tuan Danish dingin pada Harris yang menemuinya di ruang kerja yang dingin itu.
Harris tahu, ia tak dapat menyangkal ucapan ayahnya yang berdarah Eropa itu. Namun, ia merasa tak lagi dapat menahan diri untuk tak kembali ke Indonesia dan menemui perempuan sederhana yang sudah sejak lama ia kagumi.
“Berikan aku kesempatan untuk melihatnya, meskipun aku belum menyelesaikan studiku sebagaimana kesepakatan kita.” pinta Harris, ia berusaha menurunkan egonya, ia tahu bukan saatnya untuk bersikeras menentang pria ini, setelah kecelakaan yang sebelumnya ia alami karena keras kepalanya untuk kembali ke Indonesia setelah berselisih perihal keharusan dirinya menuntaskan studi terlebih dahulu tanpa kembali ke Indonesia sama sekali.
“Baiklah, menangkan project dengan Bims Corporation, dan bereskan apa yang masih menggantung di kantor Jakarta. Akan lebih baik jika kau juga bisa membereskan hubunganmu dengan teman wanitamu itu!” ucap Tuan Danish akhirnya.
***
Harris menghela napas jika mengingat perkataan ayahnya, ia tahu lambat laun dirinya akan berurusan dengan perusahaan yang telah dibangun kakeknya sejak dahulu, hingga berkembang sebesar kini, Namun, ia tak pernah merencanakan secepat ini.
“You can if you think you can!” terngiang suara Rury yang mencoba memberinya semangat.
Pria dua puluh dua tahun itu tersenyum simpul, kemudian bergegas mengganti bathrobenya dengan setelan day suit. Untuk beberapa saat ia mematut dirinya di depan cermin yang memantulkan sosok pria dewasa dalam balutan day suit yang terasa sangat cocok ia kenakan.
“Pintar juga dia memilih pakaian untukku!” puji Harris dalam hatinya.
Setelah merasa cukup, pria itu melangkah keluar kamarnya menuju ruang makan. Teh Iis sedang berada disana meletakkan sebuah piring untuknya. Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya itu nampak tersenyum ceria.
“Duh, sedang ada yang senang hatinya rupanya hari ini?” tegur Harris saat menarik sebuah kursi makan.
“Eh, mas Harris. Iya dong senang, akhirnya saya bisa meletakkan piring di meja makan ini lagi, setelah sekian lama!” jawab Teh Iis.
“Oh…benarkah?” ucap Harris, “Kalau begitu masaklah yang enak ya Teh. Tapi ini banyak juga kalau untuk saya sendiri.” sambungnya.
Harris melihat ada empat menu pilihan yang terhidang di atas meja makan,
“Padahal kalau sarapan, yang simpel-simpel saja Teh. roti bakar, roti selai, atau roti lapis juga boleh. Karena toh aku, kan gampang makannya!” usul Harris
“Ya enggak apa-apa sekali-kali, ini kan hari pertama mas Harris bekerja di kantor Tuan. Jadi biar istimewa, begitu!” Teh Iis menjelaskan
“Terima kasih, Teh Iis sudah masakin aku ya.” ucap Harris sambil tersenyum.
“Sama-sama, silakan makan yang banyak ya mas biar kuat kerja di kantornya.” balas Teh Iis sambil tersenyum, kemudian beranjak dari meja makan.
“Eh Teh Iis mau kemana?” tanya Harris tiba-tiba,
“Ke dapur lagi mas.” jawab Teh Iis bingung dengan pertanyaan tuan mudanya ini.
See “Nggak temani saya makan?” tanya Harris
“Masa saya menemani mas Harris makan sih.” Teh Iis justru balik bertanya.
Tiba-tiba raut wajah Harris berubah, ia sadar apa yang di ucapkannya terdengar konyol bagi asisten rumah tangganya ini.
Teh Iis yang menyadari perubahan raut wajah Harris tersenyum,
“Bagaimana kalau pak Kahar saya panggilkan ke sini mas? siapa tahu belum sarapan.” tawar Teh Iis
“Oh iya, boleh. Tolong ya Teh!” sahut Harris senang.
Entah kenapa ia merasa aneh berada di meja makan ini sendirian, meskipun suasana menjadi dingin saat makan bersama kedua orang tuanya. Namun, ia tak pernah merasa sepi dan sendiri seperti yang ia rasakan saat ini di ruangan tersebut.
***
Pak Kahar datang dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Assalamualaikum. Mas!" Sapanya sopan pada Harris.
"Waaalaikumsalam. Silakan duduk pak Harris, tolong temani saya sarapan!" Pinta Harris sambil mengarahkan tangannya pada kursi di hadapannya.
Pak Kahar terlihat ragu, ia tidak pernah makan di ruang makan yang diperuntukkan bagi keluarga tersebut. Matanya melirik ke arah Teh Iis, yang seakan mengerti dengan keraguan pria paruh baya tersebut,
"Mari pak, silakan duduk dan sarapan dulu sekalian di sini!" Ujar Teh Iis sambil menarik kursi yang ditunjuk Harris sebelumnya untuk ditempati pak Kahar.
Dengan kikuk pak Kahar duduk, Teh Iis membantunya menyiapkan peralatan makannya,
"Silakan dipilih sendiri ya pak, mau yang mana!" Ucap Teh Iis
Pak Kahar mengangguk, dan menyendokkan nasi serta beberapa lauk ke piringnya.
"Maaf pak Kahar jadi makan disini. Saya merasa tidak ingin makan sendiri!" Ucap Harris menyadari sikap canggung pegawainya itu.
Selama ini Ayahnya sebagai kepala keluarga memang membuat jarak yang cukup tegas antara keluarga inti dengan pegawai dirumah tersebut.
"Iya nggak apa-apa mas!" Jawab pak Kahar sambil tersenyum.
"Kita doakan saja semoga nggak lama lagi mas Harris punya pasangan yang bisa menemani kapanpun!" Ucap Teh Iis tiba-tiba.
Entah mengapa sesaat Harris tertegun dengan ucapan tersebut, dan ia menatap pak Kahar yang juga menatapnya dengan makna tersirat seolah menuju pada satu objek pikiran yang sama, kemudian kedua tersenyum.
"Wah, kalau dua lelaki saling tatap kemudian tersenyum penuh misteri, itu berarti ada sesuatu!" Selidik Teh Iis menyadari sikap keduanya.
"Nggak Teh, bukan begitu." Elak pak Kahar
"Terima kasih doa teteh ya, mungkin doanya bisa lebih sering dan lebih kencang lagi, biar segera terkabul!" Ucap Harris sambil tersenyum.
"Oh… sudah ada calon ya ,mas?" Tanya Teh Iis senang.
"Kasih tahu namanya mas, konon kalau berdoa minta jodoh itu harus spesifik biar nggak tertukar, kasih tahu teteh namanya!" Sambung wanita itu antusias.
Bersambung ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar