Harris menghubungi Rury malam itu melalui telepon, pria itu bercerita tentang keluarga dan juga alasan bagaimana ia kemudian termotivasi untuk bekerja keras dalam hidupnya. Harris mengungkapkan bila sejak mengenal Rury lebih dekat, membuatnya seakan menemukan alasan untuk bekerja keras dan berusaha lebih dalam hidup.
Namun entah bagaimana perbincangan yang mulanya hanya ungkapan senang Harris karena mengenal Rury, tiba-tiba menjadi menyinggung perihal hubungan mereka. Rury yang menganggap adalah suatu hal wajar bila sebagai sahabat mereka bisa saling dukung dan memotivasi, justru mendapat pertanyaan yang membuat gadis itu terkejut,
“Hanya sahabat saja, kah?” tanya Harris.
Rury tertegun dengan pertanyaan tersebut, “Iya sahabat, apa aku salah menyebut kita sebagai sahabat?” Rury memilih untuk bertanya balik pada pria itu.
“Nggak juga sih.” jawab Harris pendek.
“Lalu kenapa harus ditanya lagi?” ucap Rury tergelak, berusaha menutupi apa yang terbersit dalam pikirannya yang menyadari, sepertinya Harris mulai memancing dirinya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada pria itu.
“Ya, hanya memastikan bagaimana level hubungan kita.” jawab Harris
“Segala pake level sih pak, bukan kah level hubungan kita naik sedikit hari ini?” ujar Rury
“Oh, ya?” Harris terdengar penasaran dengan ucapan Rury.
“Iya, mulanya kita hanya berteman, lalu bersahabat dan merasa dekat, alhamdulillah hari ini kedudukanku naik jadi asisten pribadi Tuan Harris. Bukankah seperti itu pak Harris?” kelakar Rury
Pria itu sontak terbahak mendengarnya, ia tak menduga bila gadis ini memberikan jenjang hubungan yang cukup unik.
“Ya, ya, bisa juga sih. Selamat ya atas kenaikan jabatan Anda!” sahut Harris menanggapi kelakar Rury.
“Terima kasih pak, tolong jangan minta di traktir pas gajian pertama ya!” sambung Rury
Harris kembali tergelak, “Ya baiklah. Ah tapi nggak seru dong kalau nggak ada makan-makan pas gajian pertama.” ujar Harris.
“Makan-makan ya? kalau nggak mahal sih ya bolehlah nanti.” jawab Rury ceria.
“Oia, besok ketemu yuk!” ajak Harris tiba-tiba
“Lho, kan, kita baru saja ketemu hari ini. Lagipula aku belum terima gaji pertamaku sebagai asisten, pak. Sabarlah!” jawab Rury.
Harris tertawa, “Ya, bukan dalam rangka traktir aku kok. Bertemu untuk membahas lusa aku harus bagaimana.”
“Lusa? ada apa dengan lusa?” tanya Rury
“Lusa ada jamuan makan siang dengan kolega perusahaan.” jawab Harris
“Kenapa membahasnya denganku, bukankah seharusnya kau bahas itu dengan sekretaris kantor?” ujar Rury tidak mengerti.
“Karena kamu asistenku, tolong beritahu aku sebaiknya aku pakai baju apa.” jawab Harris ringan
“Ooh, begitu. Pakailah yang sudah ku belikan kemarin. Jas biru navy bagus, coba lah kau cek lagi.” usul Rury
“Atau bagaimana kalau selama sebulan ini, kamu stay di rumahku, jadi bisa langsung melakukan tugasmu sebagai asistenku. Tenang saja, Mami and Daddy tidak akan kembali ke rumah selama aku disini, atau nanti aku bisa coba bicara pada Mami, untuk mengizinkanmu stay disini selama aku masih beradaptasi dengan pekerjaanku.” ujar Harris senang
“Hah? nggak ah, masa aku stay di rumah cowok.” protes Rury “Ah itu bisa-bisanya kamu saja Ris agar bisa ngerjain aku, kan?” tuduh Rury
“Ya Allah ukhti, jangan suudzon dong!” jawab Harris sambil tergelak.
“Kan, agar lebih praktis saja, toh kan disini ada teh Iis ada pak Kahar. Mana berani juga aku macam-macam.” jawab Harris “Ya kalaupun aku macam-macam aku berani bertanggung jawab, tenang saja!”
“Ih, Harris ada-ada saja. Terus aku nanti tidur dimana? nggak mau kalau disuruh bareng kamu.” tolak Rury
“Yee… siapa juga yang minta kamu tidur di kamar aku. Kamu nanti bisa menempati kamar tamu, atau kalau mau pulang ke rumah nanti bisa di antar sama pak Kahar.” jawab Harris
Rury terdiam, ia ragu dengan usulan Harris. Ia tahu pria itu adalah pribadi yang baik, namun usulan untuk tinggal di rumahnya adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Rury sebelumnya.
“Tapi nanti bagaimana dengan rumah orang tuaku ini? masa’ aku tinggalkan kosong begitu saja.” keluh Rury gamang
“Kan kamu masih bisa pulang Ry, bukan meninggalkan total. Selama libur mengajar saja, tapi kalau mau keterusan juga nggak apa-apa sih.” ucap Harris.
Rury terdiam, ia tahu bahwa ia pun tak memiliki banyak kegiatan selama libur mengajar sekolah ini. Meski sudah berusaha mencari pekerjaan part time pun, namun belum ada yang bisa menerima pekerja untuk durasi hanya sebulan.
“Galau, ya?” tanya Harris.
“Iya, kamu ada-ada saja idenya. Nggak usah stay di sana deh, lagipula kalaupun aku di sana, kamu kan juga harus pergi ke kantor atau keluar rumah mengurus pekerjaanmu, ya terus aku ngapain?”
“Kamu bisa langsung ikut aku!” jawab Harris, “Jadi aku tidak perlu jauh-jauh menjemputmu lagi, langsung saja ketuk kamar, minta kau bersiap and go.”
“Duh, tapi aku nggak pede kalau harus ikut kamu bertemu dengan rekan bisnismu.” jawab Rury jujur.
“Kenapa?” tanya Harris
“Aku tidak cantik.” jawab Rury cepat “Tapi… namanya asisten memang nggak harus cantik sih ya? yang penting mau bekerja dan membantu tuannya.” sambungnya lagi.
“Nah, itu kamu paham.” ujar Harris lega
“Wait berarti kamu juga setuju ya kalau aku tidak cantik?” tuduh Rury tiba-tiba
“Bukan seperti itu, maksudku adalah kamu tidak perlu merasa rendah diri karena hal yang g esensial.” Harris berusaha memberikan jawaban dengan hati-hati, ia sadar masalah visual adalah hal yang cukup sensitif bagi banyak perempuan.
“Iya nggak apa-apa juga sih kalau memang kamu punya pendapat begitu. Berarti kamu logis dan waras.” ucap Rury sambil tertawa
“Kenapa seperti itu?” tanya Harris bingung
“Yaa, karena memang kenyataannya aku secara visual tidak cantik. Aku tahu kok itu, bukan rendah diri, lebih kepada sadar diri sih.” jawab Rury
“Ya ampun, Ry. Every woman is beautiful in their own way, lagipula tenang saja, kita itu akan terlihat cakep dan kece di mata orang yang tepat.” ujar Harris memberikan pendapatnya
“Iya sih betul juga. Kira-kira kamu orang yang tepat nggak sih buat aku?” tanya Rury tiba-tiba
Hening sejenak, Harris terdiam ia hanya menggaruk kepalanya,
“Duh dipancing nih, bagaimana ya?” batinnya.
“Bingung ya Ris?” tanya Rury kemudian terbahak “Nggak apa-apa kok.”
“Buat aku kamu itu manis Ry, simple but sweet, manisnya tuh pas!” jawab Harris akhirnya cepat memotong perkataan Rury.
“Wow, makasih loh opini Anda pak.” jawab Rury kemudian setelah sempat tertegun beberapa detik mendengar perkataan Harris.
“Iya sama-sama, manis!” ujar Harris
“Ya, nggak perlu jadi manggil aku manis dong, serasa memanggil kucing kedengarannya!” protes Rury
Harris tertawa, ia merasa penatnya hari ini seakan hilang setelah mendengar nada riang suara Rury,
“Thanks ya Ry, u made my day better!”
Bersambung ***




