Sabtu, 30 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 21 - Lailatuki Sa’idah

 



Harris menghubungi Rury malam itu melalui telepon, pria itu bercerita tentang keluarga dan juga alasan bagaimana ia kemudian termotivasi untuk bekerja keras dalam hidupnya. Harris mengungkapkan bila sejak mengenal Rury lebih dekat, membuatnya seakan menemukan alasan untuk bekerja keras dan berusaha lebih dalam hidup. 


Namun entah bagaimana perbincangan yang mulanya hanya ungkapan senang Harris karena mengenal Rury, tiba-tiba menjadi menyinggung perihal hubungan mereka. Rury yang menganggap adalah suatu hal wajar bila sebagai sahabat mereka bisa saling dukung dan memotivasi, justru mendapat pertanyaan yang membuat gadis itu terkejut, 


“Hanya sahabat saja, kah?” tanya Harris.


Rury tertegun dengan pertanyaan tersebut, “Iya sahabat, apa aku salah menyebut kita sebagai sahabat?” Rury memilih untuk bertanya balik pada pria itu. 


“Nggak juga sih.” jawab Harris pendek. 


“Lalu kenapa harus ditanya lagi?” ucap Rury tergelak, berusaha menutupi apa yang terbersit dalam pikirannya yang menyadari, sepertinya Harris mulai memancing dirinya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada pria itu. 


“Ya, hanya memastikan bagaimana level hubungan kita.” jawab Harris 


“Segala pake level sih pak, bukan kah level hubungan kita naik sedikit hari ini?” ujar Rury


“Oh, ya?” Harris terdengar penasaran dengan ucapan Rury. 


“Iya, mulanya kita hanya berteman, lalu bersahabat dan merasa dekat, alhamdulillah hari ini kedudukanku naik jadi asisten pribadi Tuan Harris. Bukankah seperti itu pak Harris?” kelakar Rury 


Pria itu sontak terbahak mendengarnya, ia tak menduga bila gadis ini memberikan jenjang hubungan yang cukup unik. 


“Ya, ya, bisa juga sih. Selamat ya atas kenaikan jabatan Anda!” sahut Harris menanggapi kelakar Rury. 


“Terima kasih pak, tolong jangan minta di traktir pas gajian pertama ya!” sambung Rury


Harris kembali tergelak, “Ya baiklah. Ah tapi nggak seru dong kalau nggak ada makan-makan pas gajian pertama.” ujar Harris. 


“Makan-makan ya? kalau nggak mahal sih ya bolehlah nanti.” jawab Rury ceria.


“Oia, besok ketemu yuk!” ajak Harris tiba-tiba

“Lho, kan, kita baru saja ketemu hari ini. Lagipula aku belum terima gaji pertamaku sebagai asisten, pak. Sabarlah!” jawab Rury. 


Harris tertawa, “Ya, bukan dalam rangka traktir aku kok. Bertemu untuk membahas lusa aku harus bagaimana.” 


“Lusa? ada apa dengan lusa?” tanya Rury


“Lusa ada jamuan makan siang dengan kolega perusahaan.” jawab Harris


“Kenapa membahasnya denganku, bukankah seharusnya kau bahas itu dengan sekretaris kantor?” ujar Rury tidak mengerti. 


“Karena kamu asistenku, tolong beritahu aku sebaiknya aku pakai baju apa.” jawab Harris ringan 


“Ooh, begitu. Pakailah yang sudah ku belikan kemarin. Jas biru navy bagus, coba lah kau cek lagi.” usul Rury


“Atau bagaimana kalau selama sebulan ini, kamu stay di rumahku, jadi bisa langsung melakukan tugasmu sebagai asistenku. Tenang saja, Mami and Daddy tidak akan kembali ke rumah selama aku disini, atau nanti aku bisa coba bicara pada Mami, untuk mengizinkanmu stay disini selama aku masih beradaptasi dengan pekerjaanku.” ujar Harris senang


“Hah? nggak ah, masa aku stay di rumah cowok.” protes Rury “Ah itu bisa-bisanya kamu saja Ris agar bisa ngerjain aku, kan?” tuduh Rury 


“Ya Allah ukhti, jangan suudzon dong!” jawab Harris sambil tergelak.


“Kan, agar lebih praktis saja, toh kan disini ada teh Iis ada pak Kahar. Mana berani juga aku macam-macam.” jawab Harris “Ya kalaupun aku macam-macam aku berani bertanggung jawab, tenang saja!”


“Ih, Harris ada-ada saja. Terus aku nanti tidur dimana? nggak mau kalau disuruh bareng kamu.” tolak Rury


“Yee… siapa juga yang minta kamu tidur di kamar aku. Kamu nanti bisa menempati kamar tamu, atau kalau mau pulang ke rumah nanti bisa di antar sama pak Kahar.” jawab Harris 


Rury terdiam, ia ragu dengan usulan Harris. Ia tahu pria itu adalah pribadi yang baik, namun usulan untuk tinggal di rumahnya adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Rury sebelumnya. 


“Tapi nanti bagaimana dengan rumah orang tuaku ini? masa’ aku tinggalkan kosong begitu saja.” keluh Rury gamang


“Kan kamu masih bisa pulang Ry, bukan meninggalkan total. Selama libur mengajar saja, tapi kalau mau keterusan juga nggak apa-apa sih.” ucap Harris. 

Rury terdiam, ia tahu bahwa ia pun tak memiliki banyak kegiatan selama libur mengajar sekolah ini. Meski sudah berusaha mencari pekerjaan part time pun, namun belum ada yang bisa menerima pekerja untuk durasi hanya sebulan. 


“Galau, ya?” tanya Harris. 


“Iya, kamu ada-ada saja idenya. Nggak usah stay di sana deh, lagipula kalaupun aku di sana, kamu kan juga harus pergi ke kantor atau keluar rumah mengurus pekerjaanmu, ya terus aku ngapain?” 


“Kamu bisa langsung ikut aku!” jawab Harris, “Jadi aku tidak perlu jauh-jauh menjemputmu lagi, langsung saja ketuk kamar, minta kau bersiap and go.” 


“Duh, tapi aku nggak pede kalau harus ikut kamu bertemu dengan rekan bisnismu.” jawab Rury jujur.


“Kenapa?” tanya Harris


“Aku tidak cantik.” jawab Rury cepat “Tapi… namanya asisten memang nggak harus cantik sih ya? yang penting mau bekerja dan membantu tuannya.” sambungnya lagi.


“Nah, itu kamu paham.” ujar Harris lega 


“Wait berarti kamu juga setuju ya kalau aku tidak cantik?” tuduh Rury tiba-tiba


“Bukan seperti itu, maksudku adalah kamu tidak perlu merasa rendah diri karena hal yang g esensial.” Harris berusaha memberikan jawaban dengan hati-hati, ia sadar masalah visual adalah hal yang cukup sensitif bagi banyak perempuan. 


“Iya nggak apa-apa juga sih kalau memang kamu punya pendapat begitu. Berarti kamu logis dan waras.” ucap Rury sambil tertawa 


  “Kenapa seperti itu?” tanya Harris bingung


“Yaa, karena memang kenyataannya aku secara visual tidak cantik. Aku tahu kok itu, bukan rendah diri, lebih kepada sadar diri sih.” jawab Rury


“Ya ampun, Ry. Every woman is beautiful in their own way, lagipula tenang saja, kita itu akan terlihat cakep dan kece di mata orang yang tepat.” ujar Harris memberikan pendapatnya


“Iya sih betul juga. Kira-kira kamu orang yang tepat nggak sih buat aku?” tanya Rury tiba-tiba


Hening sejenak, Harris terdiam ia hanya menggaruk kepalanya, 

“Duh dipancing nih, bagaimana ya?” batinnya.


“Bingung ya Ris?” tanya Rury kemudian terbahak “Nggak apa-apa kok.” 


“Buat aku kamu itu manis Ry, simple but sweet, manisnya tuh pas!” jawab Harris akhirnya cepat memotong perkataan Rury. 


“Wow, makasih loh opini Anda pak.” jawab Rury kemudian setelah sempat tertegun beberapa detik mendengar perkataan Harris.


“Iya sama-sama, manis!” ujar Harris


“Ya, nggak perlu jadi manggil aku manis dong, serasa memanggil kucing kedengarannya!” protes Rury 


Harris tertawa, ia merasa penatnya hari ini seakan hilang setelah mendengar nada riang suara Rury, 


“Thanks ya Ry, u made my day better!” 


Bersambung ***


Jumat, 29 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 20 - Hanya Sahabat, Kah?



Rury sedang berbaring di kamarnya sambil membaca buku, cuaca malam hari yang dingin karena hujan membuatnya semakin malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Seharian berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota membuat kakinya terasa pegal, ditambah perdebatan dengan Romi  melalui ponsel sore tadi cukup menguras emosi dan energinya, membuatnya semakin penat.   


Tiba-tiba ponselnya berdering, Rury menurunkan buku dari hadapan wajahnya, ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. 


“Siapa yang menelepon jam segini ya?” gumam Rury, 


Suara dering ponselnya tak kunjung berhenti, Rury menghela napas, dengan malas ia letakkan buku bacaannya dan bangkit dari kasurnya untuk beranjak ke meja tulisnya dimana ponsel itu ia letakkan. 


Ia melihat ke layar ponsel, tercantum nama Harris disana, Rury mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tak salah lihat. Setelah memeriksanya kembali nama itu belum berubah, 


Segera ditekannya tombol terima panggilan, 

“Assalamualaikum. Kenapa Ris, malam-malam belum tidur?” tanya Rury tanpa basa-basi saat telah tersambung. 


“Waalaikumsalam, apa kamu sudah tidur sebelumnya?” pria itu justru balik bertanya.


“Enggak sih, belum tidur. Belum terlalu mengantuk.” jawab Rury “Kamu kenapa malam-malam telepon, jangan bilang kamu baru sampai dirumah selarut ini?” tuduh Rury begitu saja.


“Iya, baru selesai mandi, kira-kira tiga puluh menit yang lalu aku baru sampai di rumah.” jawab Harris. 


“Kamu kan mengantar aku pulang sekitar jam tiga atau setengah empat sore, perjalanan Depok ke Bogor paling lama hanya akan memakan waktu satu jam. Tapi kamu baru sampai rumah jam setengah sembilan malam, ada gap waktu sekitar empat jam.” Rury merinci detail perjalanan Harris.


Pria itu tergelak mendengar respon Rury, “Luar biasa Ry, detil banget sih segala dihitung dengan menit dan jam durasi perjalanan aku.” 


“Ya biar lebih terpercaya saja kata-kata aku, karena based on data. Jadi kalau lah aku mau suudzon ada alasan logisnya.” jawab Rury enteng 


“Betul juga sih!” ucap Harris menyetujui alasan Rury “Tadi aku tidak langsung kembali ke rumah. Aku bertandang ke rumah sepupuku yang terletak di daerah Dramaga, kebetulan dia baru akan kembali lagi ke pondok setelah pulang libur sepuluh hari.” lanjutnya.


“Ooh… pondok mana memangnya sepupumu itu?” tanya Rury


“La Tansa putri, sama sepertimu ukhti!” jawab Harris


“Hah? benarkah? kenapa aku baru tahu ya.” ucap Rury terkejut.


“Bukankah aku pernah cerita kalau aku pernah lihat kamu di kantin untuk tamu saat kamu baru selesai mengurus pionering untuk pramuka. Aku saat itu sedang ikut mengunjungi adik sepupuku itu, yang sepertinya mengidolakan dirimu sebagai kakak kelas yang cukup populer ya masa itu.” jawab Harris sambil tergelak.


“Ooh… ya… ya baiklah aku ingat kamu pernah cerita. Tapi apa dia belum lulus? sepertinya itu sudah lama sekali.” tanya Rury, 


“Insya Allah tahun depan, sekarang dia kelas lima, jadi ini adalah libur perpulangan terakhir dia. Lain waktu ikutlah bersamaku menjenguknya, jadi dia itu cucu dari budeku yang memiliki restoran di rest area waktu kita makan saat perjalanan Solo ke Bogor beberapa tahun lalu setelah lulus. Ingat?” ujar Harris membuat Rury berpikir memutar kembali memorinya ke masa saat pertama kali bertemu Harris di bis. 


“Ya aku masih ingat kalau itu, oh begitu. Apakah banyak di keluargamu yang bersekolah di pondok La Tansa?” tanya Rury.  


“Nggak sih, hanya ada lima orang setahuku, kakak laki-laki ku pun sempat beberapa tahun di La Tansa, hanya saja ia tak sampai lulus, kebetulan ketika itu Mami keberatan saat ia dipindah ke cabang lain, sehingga ya akhirnya meneruskan ke sekolah umum. Yang lainnya adalah sepupuku salah satunya Sarah yang tinggal di Bogor juga, sementara yang lain adalah sepupu keluarga yang tinggal di Solo.” cerita Harris.


“Wah keren sekali keluarga besarmu, ya! meski dari keluarga terpandang dan kaya raya, tapi masih mau menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren.” puji Rury 


“Ada banyak alasan juga sih sebenarnya kenapa beberapa keluargaku mau menyekolahkan anak mereka ke pondok. Selain agar ada bekal ilmu agama, beberapa juga karena kemauan si anak. Contohnya aku, aku sangat bersedia dikirim ke pondok karena waktu itu berpikir hidup sendirian di rumah sangat membosankan, kakakku memutuskan kuliah dan bahkan menetap di luar negeri setelah lulus dari Dwi Warna. Jadi ya, akupun memutuskan untuk menyetujui usul mami agar aku sekolah di La Tansa saja. Dan bertemulah aku denganmu berkat sekolah di La Tansa.” terdengar nada ceria pada suara Harris di akhir ucapannya. 


Ucapan Harris tak ayal membuat Rury menyunggingkan senyum, pria ini selalu berhasil membuatnya seakan tersanjung dengan kata-katanya yang terdengar tulus. 


“Menyesal nggak setelah ketemu aku, hidup kamu jadi lebih repot ya?” tanya Rury sambil tertawa kecil 


“Enggak dong! kenapa harus menyesal, justru sejujurnya aku jadi lebih termotivasi untuk bekerja keras setelah kenal kamu lebih personal.” jawab Harris.


“Eh, kok jadi bekerja keras?” tanya Rury tak mengerti, pikirannya tiba-tiba teringat pada hadiah uang yang Harris pernah berikan padanya. 


“Iya, serius. Dulu aku kan hidup ya hidup saja nggak ada target atau ghiroh yang spesifik. Nggak ada keinginan atau cita-cita tertentu, ya karena benar seperti yang pernah kamu bilang ke aku, mungkin karena sejak kecil aku sudah mendapat privilege kemudahan ini itu karena terlahir di keluarga berada, bahkan masa depanku saja seolah sudah ditentukan harus menjadi penerus perusahaan Daddy dan Mami. Jadi kayak nggak ada challenge dalam hidupku.” jawab Harris


“Ya kan enak dong kamu punya hidup seperti yang diimpikan banyak orang. Eh tapi, apa korelasinya dengan aku? iya sih aku selalu dukung dan support kamu, tapi kan aku nggak pernah nyuruh kamu kerja keras.” kilah Rury, ia masih belum mengerti alasan mengapa Harris merasa termotivasi untuk bekerja lebih keras setelah bertemu dengannya. 


Harris kembali tergelak, “Iya memang kamu nggak pernah nyuruh, tapi kamu membuatku berjanji agar jadi leader yang lebih baik, kan? dan proses menjadi seperti itu ternyata tidak sekedar dari hanya duduk di kantor dan memberikan tanda tangan.” jawab Harris. “Tapi selain itu aku senang sih, kamu itu pekerja keras, mau berusaha untuk survive dan chase your dream. Hidup kamu tuh jadi lebih passionate gitu kalau aku lihat, aku juga ingin merasakan hidup yang seperti itu sih. Then I think I have to work harder and smarter.” lanjutnya.


“Syukurlah kalau ada hal baik yang bisa kamu lihat dari aku, sebagai sahabat kita memang harus saling mendukung dan memotivasi.” ucap Rury penuh semangat. 


“Hanya sahabat saja, kah?” tanya Harris tiba-tiba.


Bersambung ***

Habibie Laysa Zauji - Bab 19 - Romi Si Keukeuh




Sore itu setelah membersihkan diri sepulang menemani Harris membeli keperluan kerjanya, Rury menerima panggilan telepon dari Romi, pria itu mencurigai Rury pergi dengan pria lain setelah mendapat kabar dari salah satu koleganya. 


Tak hanya itu Romi juga bersikeras bahwa ia masih memiliki hubungan kasih dengan Rury. Hal itu membuat Rury kesal, terlebih dengan pernyataan Romi, 


"I can not just be your friend!" 


Rury mendengus kesal, "How many times I told you, if you can not be my friend. Then just leave!"


"Mas nggak bisa." Jawab Romi


"Kenapa nggak bisa? Mas kan sudah punya istri cantik, punya rumah bagus, mapan, kerjaan bagus. You can live in a good life without me!" Terang Rury


"I can't lose you!" Ucap Romi


"Tapi itu kan resiko dari mengkhianati sebuah hubungan." Balas Rury 


"Ya, kamu benar. Tapi mas ingin berusaha lagi." 


Rury mengernyitkan dahinya, "Berusaha untuk apa?" 


"To be with you." Jawab Romi.


Rury tergelak dengan jawaban Romi, "You can not have two women in the same time. Your heart is only one, not enough for two love." Ucap Rury 


"Dalam agama kita diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu, tidak dilarang." Ucap Romi


"Dilarang jika prianya tidak adil, jika ada pasangan yang tidak ridho, dan jika tidak bisa memenuhi kebutuhan keduanya secara finansial." Balas Rury,


 "Lagipula jaman Rasul, sunah tersebut dijalankan untuk menolong juga wanita yang membutuhkan, atau untuk misi perdamaian agama, rata rata juga bukan dengan yang lebih muda." Tambah Rury


"Mas mengerti, tapi intinya kan tidak dilarang jika memang mampu untuk memiliki lebih dari satu!" Kilah Romi


Rury menggelengkan kepalanya, ia merasa gemas dengan pendapat Romi, "Oke, kalaulah mas menganggapnya seperti itu. Tapi mas kan sudah punya istri, nggak ada istri didunia ini yang bakal rela kalau suaminya terbagi." 


"Kalau itu akan jadi urusan mas nantinya." Jawab Romi 


"Yang pasti, mas minta tolonglah tetap ada!" Pinta Romi


"Mas egois!" Maki Rury kesal 


"Mas percaya kalau dirimu itu untuk mas. I won't leave you, trust me!" Ucap Romi


Rury terdiam, ia menghela napas dengan berat. 

"Mas tolong lah jangan egois. Kalau aku terus bersama mas, bagaimana aku akan mendapatkan jodoh lain. Mas mah enak sudah laku, sudah menikah!" Ucap Rury kesal. 


"Ya kan, Rury sama mas. Nggak perlu lagi lah khawatir tentang nanti jadinya ssma siapa, kan sudah ada mas." Jawab Romi 


"Masih banyak pria pria di luar sana yang belum mendapat jodoh atau pasangan. Lebih baik mas ikhlaskan saja aku agar lebih manfaat bagi pria lain." Ujar Rury gemas. 


"But I can't Ry. I can just be your friend ad also can not let  someone else having you." Jawab Romi cepat 


"Sumpah ya kenapa mas ribet banget. Mas nggak bisa semau mas begitu saja. Segala sesuatu ada aturan yang harus diikuti secara mutlak." Ucap Rury 


"Tapi manusia boleh mengupayakan apa yang ia kehendaki, bukan?" Balas Romi


"Tapi kalau soal Jodoh, itu kuasa Allah sepenuhnya. 


"Nggak juga, ada unsur upaya manusia di dalam hal tersebut. Seperti menentukan mau ketemu siapa, mau jalan dengan siapa." Dengan Ragu Rury menjelaskan kembali. 


"Intinya kita nggak bisa semau kita menentukan fate kita. Dan nggak bisa memaksakan apa yang kita mau." Lanjut Rury


Terdengar Romi berdehem sesaat hening. 

"Ry kita ketemu saja yuk, mas kangen juga pada dirimu!" 


Rury terkejut dengan ajakan Romi yang tiba-tiba keluar dari mulutnya, 

"Random banget sih mas ini, kita baru saja membahas tentang hubungan kita yang akan menemukan banyak kendala jika dipaksa jalan. Tiba-tiba mas malah ngajak ketemu, bagaimana sih?" 

Tawa kecil menyertai ucapan tersebut. 


"Justru itu, agar kita bisa membahas hal ini dengan pikiran lebih jernih, dan juga meluruskan kesalahpahaman yang mungkin masih ada di antara kita. Sebaiknya kita bertemu face to face, jadi benar-benar bisa mengetahui maksud dari setiap ucapan." Jawab Romi 


"Nggak ah, nggak baik bertemu berdua-duaan dengan suami orang." Balas Rury dengan sedikit menyindir. 


"Ya nggak apa - apa, toh I'm still yours!" Kilah Romi


"Pinter banget ngegombalnya mas ini. Dari segi mana nya sih 'mine' yang mas maksud itu?" Tanya Rury sambil tertawa


"You have my heart dear, trust me you win it!" Jawab Romi


Yang lagi-lagi mendapat respon tawa dari Rury. 

"Nggak lah, aku nggak percaya sama sekali. Your wife already have your heart, your body, your mind, and your money. I am not asking anything." 


Romi terdiam, 

"Ni cowok mau sampai bagaimana lagi sih aku jabarin, agar dia terbuka pikirannya dan menyerah untuk tidak melanjutkan hubungan dengan aku lagi?" Batin Rury. 


"Sudahlah mas, our relationship won't going well mau bagaimanapun juga. Kita sudah sama - sama mengalami trust issue dan itu cuma akan menciptakan hubungan yang tidak sehat." Ucap Rury 


"But I still believe that you are the only one for me!" Jawab Romi 


"Astaga mas. Berhenti berpikir narsis lah! Jangan serakah, mas kan sudah dapat satu jodoh. Cukupkan lah diri mas dengan itu. Kasih kesempatan orang lain yang belum dapat jodoh!" Rury berkata dengan nada gemas karena lagi-lagi pria ini kembali ke keyakinannya yang absurd menurut Rury. 


"Apakah sebenci itu kamu terhadap mas Ry?" Tanya Romi tiba-tiba


"Maksud mas bagaimana?" Rury justru balik bertanya, ia tak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan Romi. 


"Mas tahu mas salah, mas sadar mas sudah berlaku buruk. Tapi saat mas ingin mencoba memperbaikinya, kamu justru mematahkan terus setiap upaya yang mas lakukan." Keluh Romi dengan suara parau.


Sejenak Rury tertegun, "Eh kenapa malah jadi begini ya?" Batinnya. 


"Mas berusaha agar tetap bisa in touch denganmu Ry, tapi semakin lama kamu justru semakin sulit mas hubungi, diajak bertemu selalu saja ada alasan. Membalas pesan mas juga hanya sekedarnya singkat-singkat." Lanjut Romi menyampaikan keluhan perasaannya pada Rury. 


"Mas nggak bisa membohongi diri mas Ry, pikiran mas tuh seakan nggak tenang kalau dalam sehari belum dengar suara kamu, atau belum mendapat kabar darimu. Kalau ditanya kenapa? Mas juga nggak tahu, nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata meski hanya bisa mas rasakan." 


Rury mendengarkan dengan seksama, meskipun tak sepenuhnya kata-kata Romi ia percayai namun setidaknya pria itu berhak untuk didengarkan. 


Dan Rury sejenak hanya terdiam, masih berusaha mencari kata-kata yang baik untuk menanggapi semua ucapan Romi. 


"Mas yakin kamu pun sebenarnya masih ada rasa pada mas, masih sayang pada mas. I can feel it dari saat kita bertemu kembali beberapa waktu lalu." 


Rury teringat momen dimana akhirnya ia bertemu kembali dengan Romi sebulan setelah pernikahan pria itu dengan wanita lain. 


"Mas, jika obat rindu adalah bertemu, bisa jadi itu nafsu. Tenang aja, aku akan tetap mendoakan hal baik untuk mas, itu caraku mencintai orang lain, yang tak akan pernah bisa kumiliki."


Bersambung ***

Kamis, 28 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 18 - Kecurigaan Romi




Rury yang telah kembali ke rumah sehabis menghabiskan separuh harinya untuk menemani Harris membeli pakaian kerjanya. Baru saja selesai membersihkan diri, ponselnya berbunyi dan membuat Rury membelalakkan mata saat melihat deretan angka dan nama penelpon nomor ponselnya saat itu. 


Untuk beberapa saat Rury mengacuhkan panggilan tersebut meski membuat ponselnya berdering memekakkan telinga , ia pikir panggilan itu akan menyerah dan berhenti menelpon. Tapi dugaannya salah, nomor tersebut kembali melakukan panggilan ke nomor Rury dan membuat ponsel tersebut kembali berdering hanya dalam jarak waktu hitungan sepersekian detik. 


“Duh malah nelepon ulang.” gumam Rury resah. 


Dengan ragu akhirnya ia menekan tombol terima panggilan dari nomor tersebut, dan mendekatkan benda tersebut ke telinganya. 


“Assalamualaikum, halo!” sapa Rury saat sambungan telepon telah terhubung.


“Waalaikumsalam. Rury sedang berada dimana?” tanya sebuah suara berat seorang pria. 


“Dirumah, kenapa? apa ada hal urgent?” Rury balik bertanya, ia berusaha mengatur suaranya setenang mungkin meskipun dalam hatinya saat ini sedang berkecamuk karena mendengar suara pria yang sebenarnya sangat ingin dilupakannya. 


“Seharian ini di rumah?” tanya pria itu lagi.


Rury mengernyitkan dahinya, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang didapatkannya. 

“Kenapa mas seperti menyelidiki aku? mau berada di manapun aku kan tidak memberikan pengaruh apapun pada mas Romi.” ucap Rury dengan sedikit nada kesal pada suaranya. 


“Apa mas salah kalau hanya bertanya? mas coba hubungi kamu sejak siang tidak ada satupun yang dijawab.” keluh Romi 


“Tapi apa iya harus sedetail itu?” protes Rury lagi. “Toh aku kan sudah jawab, aku di rumah.” 


"Mas hanya ingin memastikan, itu saja. Nggak perlu marah!" Ucap Romi dengan tenang


"Memastikan apa?" Tanya Rury 


"Ya memastikan kalau dirimu benar sedang berada di rumah seharian ini." Jawab Romi,


Namun, Rury merasa ada hal lain yang membuat Romi bertanya sedetail itu padanya. 

"Bukankah aku juga sebenarnya sudah membalas pesan mas sejak siang, ya?" Ujar Rury.


"Iya ada pesan yang masuk, tapi itu tidak menjawab pertanyaan mas." Jawab Romi


"Memang kenapa mas sangat ingin tahu detail aku kemana dan dimana?" Tanya Rury merasa ada hal lain yang disembunyikan pria bernama Romi yang juga pernah menjalin kasih dengannya. 


Diam, tak terdengar jawaban apapun dari Romi, Rury sesaat menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihatnya, untuk memastikan jika masih terhubung dalam sambungan telepon atau tidak, 


"Mas? Ya sudah jika tidak ada hal lain yang …" baru saja Rury hendak mengakhiri percakapan, tiba tiba, 


"Mas dapat kabar katanya kamu jalan dengan pria lain hari ini." Potong Romi cepat. 


Rury terkejut dengan apa yang disampaikan Romi dengan cepat itu, 

"Darimana dia tahu kalau aku pergi dengan Harris hari ini?" Batin Rury 


"Kabar dari siapa?" Tanya Rury berusaha setenang mungkin 


"Ada teman yang lagi meeting di GI siang tadi, dia pernah ketemu dirimu saat mas ajak promo radio grup bandnya." Jawab Romi


"Yang mana ya?" Rury berusaha mengingat sosok yang Romi maksud.


"Mas Fajar, waktu itu kita ketemu di radio yang di Tebet." Jawab Romi


"Oh mas Fajar, iya aku ingat." Ujar Rury 


"Perasaan tadi sepanjang hari di GI nggak ada om om yang nyapa aku deh." Batin Rury lagi sambil mengingat-ingat bagaimana ia melewati hari ini. 


"Oleh karena itu mas ingin memastikan kabar dari mas Fajar itu." Lanjut Romi


Rury terdiam, tiba-tiba ia merasa bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Romi. 


Ia merasa sebenarnya tak salah bila ia pergi dengan pria lain, toh itu hanya sebatas teman. Lagipula saat ini Rury menganggap bahwa ia dan Romi pun sudah bukan pasangan kekasih lagi. Karena pria itu telah menikahi perempuan lain. 


Namun, disisi lain ia tahu, jika ia jujur, bukan tidak mungkin akan menyulut keributan dengan pria yang dua belas tahun lebih tua secara usia darinya ini. 


"Ry!" Panggil Romi seakan menuntut jawaban dari Rury. 


"Iya, aku masih ada." Jawab Rury. 


"Aku di rumah. Mungkin yang dilihat mas Fajar orang lain yang mirip denganku. Wajahku kan pasaran." Lanjut Rury berusaha setenang mungkin menutupi kegusaran dalam hatinya karena entah mengapa ia justru memilih untuk berbohong. 


"Benarkah?" Romi seakan tak percaya. 


"He-emmm." Respon Rury sambil mengangguk. 


Dalam hatinya ia bersyukur pembicaraan ini hanya melalui sambungan telepon, sehingga ia tak perlu berusaha keras mengatur raut wajahnya yang selalu sulit diajak kompromi saat harus berbohong. 


"Baiklah, jika memang seperti itu." Ujar Romi setelah terdiam beberapa saat. 


Rury mengembuskan napas perlahan dengan menjauhkan ponsel dari sisinya untuk sesaat. Agar perasaan leganya tak terdengar oleh Romi. 


"Ok, anything else?" Tanya Rury, entah mengapa ia menjadi seakan tak sabar untuk segera mengakhiri perbincangan dengan Romi. 


Sayangnya, nampaknya Romi yang menangkap hal tersebut, justru melontarkan pertanyaan lain. 

"Tapi kenapa telepon mas nggak ada yang diangkat sejak siang?" 


Raut wajah Rury yang semula sudah senang berubah kembali menjadi tak bergairah. 


"Lagi mengerjakan hal lain, jadi nggak ke angkat, aku silence tadi ponselku." Jawab Rury sekenanya. 


"Mengerjakan apa sih sampai segitu sibuknya?" Tanya Romi lagi membuat Rury kembali merasa diselidiki.


"Apapun itu, it's my privacy, mas nggak harus tahu." Jawab Rury lugas. 


"But I want to know." balas Romi


"Buat apa? Buat apa mas tahu tentang aku?" Rury balik bertanya dengan suara sinis. 


"Ya mas perlu tahu dong tentang my girl." Jawab Romi enteng 


"Your girl? Hey… are you kidding me?" Tanya Rury sambil tergelak, ia merasa pria ini sungguh diluar dugaannya. 


"I am not your girl, mas!" Lanjut Rury


"Yes you are, you're still my girl, my princess!" Ucap Romi yang terdengar seperti rayuan belaka di telinga Rury. 


Rury tertawa mendengar ucapan Romi, "Hey, stop telling me that I am your princess. Because how awful if I was your princess, a princess who was already being betrayed, and left without any explanation in advance." 


Romi terdiam mendengar perkataan menohok Rury yang secara terang-terangan menyindirnya. 


"Nggak lah." Ucap Romi


"Nggak bagaimana, itu kan sudah terjadi. You already did it!" Balas Rury. 


"Ya terus sekarang kamu maunya bagaimana?" Tanya Romi merasa tersudut dengan sindiran Rury. 


"Aku? Aku nggak pengen apa-apa kok. Toh kita juga sebenarnya sudah tidak ada komitmen hubungan apapun lagi, kan?" Ucap Rury menegaskan. 


"Jangan berkata seperti itu Ry! I'm still your Mas, and I'm still want to be by your side." Jawab Romi mematahkan perkataan Rury


"Mas, ingetlah mas ini sekarang sudah bukan bujang lagi!" Tegur Rury akhirnya, karena merasa kesal dengan Romi yang bersikeras untuk tetap memiliki jalinan hubungan dengannya. 


"But, I can not just be your friend!" Sahut Romi dengan suara emosional. 


Bersambung***

Rabu, 27 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 17





Sudah tiga puluh menit Rury dan Harris mengunjungi beberapa toko lainnya di pusat perbelanjaan tersebut. 


"Sepertinya sudah cukup belanja pakaian kamu." Ucap Rury sambil memperhatikan beberapa tas belanja tambahan yang ada di tangan Harris. 


"Kau benar. Cukup dulu, nanti jika membutuhkan tambahan, tolong kau belikan untukku ya!" Pinta Harris. 


"Padu padankan saja dengan pakaian yang sudah ada di lemarimu." Usul Rury. 


"Aku tidak mau pagi hariku ditambah dengan kepusingan harus mengurus outfit bekerja. Jadi jika memang ada yang lebih simpel bisa langsung pakai satu setel atau yang sudah disiapkan, itu jauh lebih baik." Balas Harris.


Rury hanya tersenyum mendengar penjelasan Harris. Ia sadar bahwa belum bisa banyak membantu pria yang ia anggap sebagai sahabat itu. 


"Baiklah, mari kita sudahi agenda belanja hari ini!" Ajak Harris 


"Betul, yuk kita pulang!" Jawab Rury

Keduanya melangkah menuju area parkir dimana mobil Harris berada. 


Setelah beberapa saat akhirnya mereka menemukan mobil berwarna hitam metalik itu. Harris membuka kunci mobil secara otomatis. Semendara Rury hanya memperhatikan gerak gerik Harris  


"Yuk masukl!" Ucap Harris.


Rury menuruti usulan Harris, ia masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman. 


Harris pun segera menempati kursi kemudi, setelah mengenakan sabuk pengaman. Pria itu memutar kunci mobilnya, menyalakan mesin. 


"Beneran ya, kita langsung pulang je runah?" Tanya Harris memastikan.


Rury mengangguk tanda setuju. Harris mulai memutar kemudinya, melaju meninggalkan pusat perbelanjaan besar di ibukota tersebut. 


***


Hari sudah mulai sore saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman rumah Rury. 


"Sampai juga akhirnya. Benar benar jadi assistant day hari ini. Luar biasa!" Ucap Rury sambil meregangkan tubuhnya sesaat sebelum meraih tasnya dari bangku belakang. 


"Eh ternyata banyak juga yang dibeli hari ini." Ucap Rury saat melihat deretan tas belanja yang berjajar rapi bagian kursi belakang. 


"Iya, baru sadar ya." Balas Harris yang ikut serta melihat hal tersebut.


"Habis berapa semua ini totalnya Ris?" tanya Rury ingin tahu. 


"Entahlah, mungkin beberapa juta." Jawab Harris enteng. "Sudahlah, tidak apa -apa!" Lanjut Harris cepat saat melihat perubahan raut wajahnya. 


"Lagipula ini untuk bekerja juga, it's ok. Oia, jangan lupa kamu ambil juga pakaian yang tadi kita beli untukmu!" Ucap Harris


"Aku tidak membeli pakaian." Jawab Rury tidak mengerti. 


"Aku yang belikan. Mungkin nanti saat aku membutuhkanmu untuk ke kantor bersamaku, jadi kau bisa gunakan itu!" Terang Harris 


Mendengar hal tersebut, Rury sangat terkejut. 

"Kapan kamu belinya?" 


"Tadi saat kita berkunjung ke beberapa butik. Aku sudah memintamu untuk membeli bagi dirimu sendiri. Tapi sepertinya kamu tidak mendengar saranku dan tetap sibuk dengan pakaian untukku." Ujar Harris tenang. 


 Pria itu kini melihat ke arah deretan tas belanja tersebut, meraih salah satu tas mengintip isinya sejenak lalu menyerahkannya pada Rury,


“Semoga kamu suka, tapi aku pikir itu cocok kok di kamu!” ucap Harris sambil tersenyum. 


Rury menerima tas itu dengan wajah datar, tak tahu harus berkata apa, ia tak menduga bila akan mendapatkan sesuatu juga dari pria itu. 


“Aku harus bilang apa, ya, selain terima kasih?” tanya Rury 


“Cukup bilang, I will wear it, when we meet again later!” jawab Harris sambil mengerlingkan matanya ke arah Rury. 


Rury hanya tersenyum, “Sejak kapan sih kamu jadi genit gitu Ris?” 


Harris hanya mengangkat bahunya, sambil tersenyum, 


“Ya, baiklah. Insya Allah, nanti akan digunakan. Oia, kamu nggak usah turun cuma buat bukain pintu!” larang Rury, saat melihat pria itu akan melepas sabuk pengamannya. 


Gadis itu dengan cepat menekan tuas pintu mobil hingga dapat terbuka, membuat Harris mengurungkan niatnya. 

“Thank you for today, have a nice rest. I will call you later when I have arrived at home!” ucap Harris. 


“You’re welcome. Santai aja, kayak ke siapa saja deh!” ucap Rury geli, Harris bersikap seolah mereka dalam hubungan pacaran. “Take care!” 


Harris hanya tertawa mendengar perkataan Rury, ia memutar kemudinya dan menyempatkan diri melempar senyum pada gadis itu saat sebuah lambaian tangan melepas kepergiannya dari halaman rumah seorang perempuan yang telah lama ia kenal itu. 


***

Rury mengembuskan napas setelah mobil Harris tak lagi nampak di pelupuk matanya. Ada rasa senang dalam hatinya, bisa bertemu dan bersama lagi dengan Harris, namun disisi lain ia juga merasa khawatir jika kedekatan mereka semakin bertambah, dan bahkan tak lagi terhalang jarak, apa masih bisa mempertahankan hubungan hanya sebagai sahabat. 


Sementara Rury belum lupa apa yang pernah ia janjikan pada Tuan Danish, ayahanda Harris, tentang pernyataannya bila ia akan mencoba untuk hanya menjadi sahabat Harris. 


“Ya sudahlah, coba dijalani saja. Toh tidak ada komitmen apapun juga di antara aku dan Harris.” gumam Rury kemudian. 


Gadis itu membuka pintu rumah yang terkunci, hari sudah sore saat ia masuk ke ruang tamu rumahnya. Entah kapan penghuni rumah ini akan kembali, tak ada kabar dari Mamanya yang masih bekerja menjadi tenaga kerja wanita ke timur tengah, Bapak pun tidak selalu berada di rumah, sementara kedua adik Rury dipindahkan ke Jawa Timur oleh Bapaknya. 


Saat libur sekolah seperti ini memang seringkali membuat Rury mati gaya, karena profesinya sebagai guru, sehingga musim liburan seperti ini menjadikan kegiatan mengajarnya otomatis terhenti semua. Diperparah dengan sifat Rury yang tidak suka bepergian untuk sekedar jalan-jalan ke mall atau nongkrong di kafe bersama teman-temannya selayaknya anak muda seusianya. 


Teman-teman semasa sekolah menengahnya di pondok pesantren dulu juga sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing dan banyak yang kemudian berada di kota lain menyesuaikan kampus tempat mereka kuliah. 


“Apa iya, aku benar-benar tidak punya teman? kok aku baru sadar, ya?” gumam Rury kemudian sambil berjalan menuju kamarnya. 


Rury tergolong pribadi yang pemikir, sehingga ia bisa memikirkan apapun meski sedang melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan apa yang ia pikirkan. 


Setelah meletakkan tas ransel dan tas belanja pemberian Harris, Rury menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Tak lama saat kembali ke kamarnya, pandangannya terpaku pada tas belanja yang ia letakkan di atas meja tulisnya. 


“Beliin apa sih Harris sebenarnya?” gumam Rury penasaran. Baru saja tangannya hendak meraih tas berwarna biru langit itu, sebuah bunyi keras mengejutkannya yang ternyata ponsel Rury berdering karena ada panggilan masuk yang menelpon nomornya. 


“Duh ngagetin saja, mana sepi banget kan, jadi kedengarannya kenceng banget.” gerutu Rury pada dirinya sendiri, “Siapa sih yang telepon, masa Harris sudah sampai dirumah?” gumam gadis itu sambil meraih ponselnya dan seketika matanya membesar saat melihat sebuah nama yang tercantum di layarnya. 


Bersambung ***