Rabu, 27 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 16 - Prince Charming 2




Harris mengajak Rury untuk makan siang di sebuah restoran Jepang yang menjadi favorit keluarganya. Saat sedang menunggu pesanan datang, mereka bercakap-cakap, entah karena akibat sudah lama tak bertemu sehingga keduanya tak kunjung kehabisan topik untuk berbincang. 


Hanya saja ucapan-ucapan Harris yang seakan menjurus ke arah perasaan di antara keduanya, membuat Rury juga harus menahan diri untuk tak mengungkapkan juga apa yang sebenarnya ia rasakan. Gadis itu masih merasa, apapun perasaan yang ia memiliki, belum tentu akan memiliki takdir yang diharapkan. 


"Do you think I am not charming enough to be your prince?" Tanya Harris sambil menatap Rury tajam, seakan tak ada canda dalam pertanyaannya. 


Membuat Rury tertegun sesaat, ia mengembuskan napas, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan balas menatap pria yang hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya itu. 


"Yes, you are kind of a live prince charming!" Ucap Rury "But I am not a princess, not even a royal." 


"I am just a simple eldest daughter of a Low middle class family. Who ever was betrayed by a man, because I don't qualify enough to be taken as a couple." Lanjut Rury tenang. 


"I knew it, I knew your broken heart story." Jawab Harris kemudian tersenyum. 


"And one of those bad guys is still trying to reach you out again, right?" Tanya Harris. 


"Yes, he was." Jawab Rury pelan. 


"Why are you still answering his call and text?" Tanya Harris.


"Because he wishes for it, he wishes that I am not leaving him." Jawab Rury polos


"Yes the past can hurt, but the way you see it, you can either run from it or learn it!" Ucap Harris mengingatkan. 


"Kau benar!" Jawab Rury.


Seorang pramusaji datang membawakan pesanan mereka, dan menatanya di atas meja. 


Setelah kepergian sang pramusaji, Harris mulai menyantap hidangan yang telah tersedia di meja saji. 


"Yuk kita makan dulu saja. Enak lho sushi disini Ry. Cobain, kamu harus banyak makan. Jangan cuma ramen, masa nggak dirumah nggak di GI, makannya mie lagi!" Cerocos Harris yang melihat Rury hanya fokus pada sebuah mangkuk berisi chicken ramen. 


Rury hanya tertawa mendengar Harris. Ia memang menyukai olahan mie, terlebih mie dengan citarasa Jepang. 


"But I really love noodle Ris!" Balas Rury sambil mencampurkan beberapa bumbu tambahan ke dalam mangkuknya.


"I will be noodle then." Ucap Harris sambil memperhatikan Rury.


Rury hanya tersenyum mendengarnya, tanpa membalas ucapan Harris. 


Mereka menikmati makan siang dengan nikmat sambil sesekali bersenda gurau. Tak ada lagi kecanggungan yang terjadi seperti saat baru bertemu kembali kemarin.


"Kapan kamu akan mulai ke kantor?" Tanya Rury setelah menghabiskan semangkuk ramen.


"Besok." Jawab Harris kemudian menyuapkan sushi ke dalam mulutnya. 


"Besok? Sejak pagi?" Tanya Rury lagi


"Nggak terlalu pagi, jam sepuluh. Aku akan ke kantor yang berada di Kuningan." Jawab Harris.


Rury hanya menganggukkan kepalanya, setidaknya ia tahu mulai besok pria ini adalah milik perusahaan keluarganya. 


"Kenapa? Mau ikut?" Tanya Harris


"Untuk apa aku ikut ke kantormu?" Rury balik bertanya dengan geli. 


"Kau kan asistenku, wajar jika ikut aku bekerja." Jawab Harris enteng.


Rury menautkan kedua alisnya dan memandang pria itu dengan pandangan tak percaya atas apa yang baru saja di ucapkan pria di hadapannya ini. 


"Aku kan hanya asisten di luar kantor. Janganlah semena-mena!" Protes Rury


"Nanti aku makan siang dengan siapa?" Tanya Harris dengan nada merajuk. "Masa sendirian." 


"Oh iya, tapi cobalah berkenalan dengan staf staf mu. Nanti kan, juga ada sekretarismu, pergilah makan siang dengan mereka." Jawab Rury, sambil membayangkan kehidupan eksekutif muda kantoran pada umumnya. 


Sejenak Harris terdiam, kemudian aRury memutar bola matanya, ia pikir pria itu sudah melupakan hal tersebut, ternyata ia masih berharap. 


"Ya, baiklah. Insya Allah. Kan aku juga harus melakukan hal lain nantinya, apalagi kalau sekolah sudah kembali aktif, yaa harus kembali mengajar." Jawab Rury.


Harris mengangguk senang. 


Tak lama setelah menghabiskan hidangan yang mereka pesan. Harris membayar pesanan tersebut. Dan keduanya keluar dari restoran Jepang tersebut. 


"Jam dua siang, mau kemana lagi kita?" Tanya Harris sambil melihat jam tangannya. 


"Salat Dzuhur dulu sebentar, lalu pulang." Jawab Rury cepat.


"Langsung pulang?" Tanya Harris lagi dengan nada keberatan.


"Iya, memang mau kemana lagi? Pakaian sudah cukup dibeli." 


"Don't you want to spend any longer with me today?" Tanya Harris tanpa basa-basi.


Rury terkejut sekaligus geli mendengarnya, ia menutup mulut dengan tangannya berusaha menahan gelak tawanya, 


Respon Rury membuat Harris juga ikut tertawa setelah menyadari betapa konyol pertanyaan yang ia lontarkan tersebut. 


"Well, will see later. Sekarang kita ke mushola saja yuk!" Ajak Rury pada Harris yang menurutinya. 


Keduanya melangkah menuju mushola yang letaknya cukup jauh dari restoran tersebut. Kemudian menuju ke ruang sholat masing-masing sesampainya disana. 


Seusai mengembalikan mukena ke tempatnya, Rury duduk di sisi belakang ruang salat, ia mengeluarkan ponselnya dan dilihatnya ada beberapa notifikasi panggilan tak terjawab lagi dari nomor kantor Romi, dan sebuah pesan singkat yang ia terima dari pria itu. 


"Rury, sedang berada dimana? Apakah sedang sibuk sekali? Telepon mas tidak ada yang diangkat. Are you ok?" 


Rury menghela napas sejenak, di satu sisi ia merasa apa yang dilakukan Romi berlebihan, namun di sisi lain ia juga merasa bersalah karena membuat orang lain khawatir. 


Akhirnya dengan cepat ia ketikkan sesuatu sebagai balasan salah satu pesan Romi. 


"Hai mas Romi. Iya hari ini aku ada kegiatan. Aku baik-baik saja, terima kasih!" 


Setelah memastikan pesan tersebut terkirim. Rury memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya, kemudian menyimpannya kembali ke dalam tas. 


Rury bergegas ke luar ruang salat dan mendapati Harris telah menunggunya di ruang tunggu pengunjung mushola. Pria itu tersenyum melihat kedatangannya. 


"Iya benar, saat ini ada prince charming yang single available, meskipun sama-sama tidak mungkin untuk dimiliki, tapi setidaknya bersama Harris, aku tidak dihantui rasa khawatir menyakiti orang lain. Bye mas Romi!" Batin Rury kemudian membalas senyuman Harris. 


“Kenapa kok senyumnya beda?” tanya Harris dengan raut wajah jail.


“Ah, masa sih? biasa saja.” kilah Rury 


“Kirain karena sedang terpesona dengan prince charming!” ujar Harris 


“Ah iya, kau benar. Prince charming!” jawab Rury sambil tersenyum. 


Keduanya kemudian berjalan kembali menuju area perbelanjaan. Tiba-tiba Harris menoleh padanya. 


"Ry, you can love someone and still, choose to say goodbye to him.

You can miss a person everyday and still, be glad that they’re no longer in your life”

Ucap Harris.


Rury terdiam, ia tahu bahwa dirinya tak menyangkal kebenaran ucapan Harris. Kemudian ia mengangguk  sambil tersenyum. 


Bersambung***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar