Rabu, 20 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 8 - Hanya Memuji





Harris menjemput Rury ke rumahnya untuk memintanya menemani membeli pakaian kerja yang harus digunakannya selama mengurus pekerjaannya di Indonesia. Pria dua puluh tiga tahun itu bahkan meminta Rury untuk menjadi asisten pribadinya selama dirinya harus mengurus pekerjaan. 


"Oooh, jadi aku sudah dinobatkan sebagai asisten pribadi calon penerus Owen Group. Tapi berapa gaji bekerja di Owen Group?" Tanya Rury iseng. 


"Well, ok. Now we talk about money." Ujar Harris sambil tersenyum. 


"Apa ada yang salah?" Tanya Rury. 


"No, it's good. I like it, berarti aku bisa ngomelin kamu dong kalau ada salah?" Jawab Harris kemudian sambil menyeringai. 


"What? Ya kan, habis kamu kayak beneran saja merekrut aku jadi pegawaimu." Ucap Rury kemudian, ia tiba-tiba merasa tak siap jika harus bekerja secara profesional dengan Harris. 


Harris tergelak mendengar ucapan Rury, "Aku ingin kamu bantu aku jadi pemimpin yang baik!" Ujarnya kemudian. 


Rury menoleh pada pria yang sibuk dengan kemudinya, sesaat ia tertegun, raut wajah Harris kini berbeda, dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu di kampus sebelum keberangkatan pria itu ke London. Wajah tampan itu kini terlihat lebih tegas, sorot mata yang lebih tajam,  entah apa saja yang sudah ia lalui selama beberapa tahun di negeri orang. 


Tiba-tiba Harris menoleh, dan mata mereka sesaat bertatapan. Rury terkejut sekaligus malu karena kedapatan sedang memperhatikan Harris. Dengan gugup ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


"Ada apa?" Tanya Harris sambil tersenyum. 


Rury tidak menjawab, ia terdiam memandang keluar jendela. 


"Apa kamu merasa ada yang berubah dari wajahku?" Tanya Harris lagi. 


Rury terkejut, mengapa pria ini seolah dapat membaca pikirannya. 


"Ya begitulah, kalau boleh jujur. Kamu terlihat lebih mature sekarang." Jawab Rury akhirnya. 


Harris tak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum senang, ia merasa perkataan Rury adalah pujian baginya. 


"Dengan kata lain, aku lebih handsome juga, ya?" Tanya Harris sambil menoleh sesaat pada Rury memperlihatkan senyum lebar di wajahnya. 


Seketika Rury memutar bola matanya, seakan tak percaya dengan respon yang ia dapat dari Harris. 


"I said mature, not handsome!" Protesnya 


Harris tergelak, "Memang nggak saling relate antara mature dan handsome?" Tanya Harris 


"Beda kata, beda makna dong akhi!" Jawab Rury kesal. 


"Oh ya?" Ledek Harris. 


"Ya baiklah, whatever, tapi kamu memang sudah handsome sejak lahir." Ucap Rury akhirnya sambil melambaikan tangan pada Harris, sebagai isyarat dia tak ingin meneruskan perdebatan tentang kenarsisan pria berwajah campuran tersebut. 


Lagi-lagi Harris tertawa, "Asik juga punya asisten kamu Ry." Ucapnya 


Rury hanya memajukan bibirnya sesaat dengan kesal menanggapi perkataan Harris. 


"Ini sekarang jadi kita mau kemana?" Tanya Rury setelah beberapa saat ia hanya duduk di kursi penumpang tanpa tahu kemana sang pengemudi akan membawanya. 


"Lebih baik ke shopping mall atau langsung ke butik saja?" Harris meminta pendapat. 


Rury meletakkan tangan di dagunya, seakan mencoba memikirkan rekomendasi yang tepat untuk sahabat karibnya ini. 


"Umm… Yang kamu suka biasanya dari brand apa?" Tanya Rury 


"Any brand. As long as that suit fit me well, and able to represent me as a young charismatic leader." Jawab Harris kali ini dengan raut wajah yang serius. 


Rury tertegun dengan nada suara Harris yang terdengar lebih dalam dan berat. 

"Wah sepertinya bapak Harris sudah siap untuk menjadi seorang pemimpin." Ujar Rury 


Harris menoleh ke arah Rury kemudian menyorongkan ibu jarinya sambil menaikkan kedua alisnya seakan menyetujui perkataan perempuan yang dua tahun lebih muda darinya ini. 


"Tapi mohon maaf bapak Harris yang terhormat. Kenapa Anda tidak tampil apa adanya diri Anda. Siapa tahu itu menjadi nilai plus di mata pegawai Anda nantinya." Usul Rury dengan gaya bahasa seolah ia menuakan Harris. 


Pria itu menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, meski terkejut dengan cara bicara Rury yang dibuat seolah formal, namun perempuan itu masih mampu menyampaikannya dengan nada tak menggurui. Sesuatu yang Harris sukai dari perempuan yang telah ia kenal sejak sekolah menengah itu. 


"Biar bagaimanapun, nantinya aku harus berhadapan dengan pemimpin-pemimpin perusahaan dengan usia yang jauh lebih tua dariku, setidaknya aku sebagai yang lebih muda perlu membuat diriku agar tak diremehkan begitu saja. Apalagi saat mereka tahu aku adalah keturunan dari sang komisaris besar. Bisa saja ada pegawai atau pemimpin yang merasa kehadiranku yang tiba-tiba tidak akan membawa perbaikan, karena aku tak mengawali dari bawah." Terang Harris tanpa menyadari raut wajah Rury yang memandangnya dengan bibir sedikit terbuka seakan terkejut dengan penjelasannya. 


Karena tak mendapat respon dari Rury, Harris pun menoleh, ia tertawa kecil,


"Astaghfirullah ukhti! Afwan, tolong dikontrol sedikitlah ekspresi kagumnya!" Ucap pria itu kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di depannya. 


Rury yang terkejut dengan ucapan Harris kali ini tak merasa tersinggung, ataupun terpancing untuk membalas olokan tersebut. Ia justru bertepuk tangan perlahan beberapa kali sambil menghadap ke arah Harris membuat pria itu kini mengernyitkan dahinya. 


"Hey, hey, what's wrong?" Tanya Harris khawatir karena mendapat respon diluar dugaannya. 


"Thoyib jiddan kalamukum ya akh!" (red.Arabic:Bagus banget kata-katamu bro!) Ucap Rury tanpa sungkan. 


Tanpa sadar Harris kali ini merasa tersipu dengan pujian Rury, ia mengalihkan wajahnya dari hadapan Rury. Merasa ada sesuatu yang berdesir di hatinya, tanpa sadar tangannya menggenggam stir kemudi menjadi lebih kencang untuk sesaat. 


"Calm down bro, duh level ge-er mu masa hanya karena sederet pujian dalam bahasa Arab?!?" Batin Harris berusaha menenangkan gejolak hatinya. 


Sementara Rury yang tak menyadari perubahan yang terjadi pada raut wajah dan sikap sahabatnya ini, masih saja duduk menghadap Harris dengan wajah polos tulus menyanjung. 


"Aku nggak nyangka loh Ris, kamu sudah sedewasa ini pemikirannya! Benar-benar terlihat sudah siap mengambil tanggung jawab besar!" Lanjut Rury 


"Berarti sudah sesuai dengan kriteriamu belum?" Tanya Harris tiba-tiba.


"Hah? Kriteria? Kriteria apa?" Dengan cepat raut wajah Rury berganti menjadi bingung.


"Duh, ustadzati almahbubah! Ingat nggak kalau standar kamu menerima pria adalah yang mengamalkan Dasa Darma Pramuka!" Ucap Harris gemas mengingatkan perkataan gadis muda dihadapannya ini. 


Setelah mendengar perkataan Harris, Rury serta merta ber-oh ria sambil tertawa. 

"Kenapa aku terlupa ya? Thanks to you my handsome reminder." Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dan membungkukkan badannya sedikit ke arah Harris. 


Membuat pria itu ikut tergelak melihat tingkah Rury yang seringkali ekspresif dan spontan. 


"Aku jadi ingat sejak awal ketemu kamu sering banget mengklaim diri sendiri telah mengamalkan Dasa Darma." Ucap Rury sambil tergelak. 


"Itu kan, beberapa tahun lalu. Mungkin waktu itu kamu masih sangsi dengan kata-kataku. Nah, kalau sekarang menurutmu bagaimana?" Tanya Harris.


Rury menghentikan tawanya, kemudian meletakkan tangan di dagunya seolah berusaha berpikir keras, membuat Harris menunggu beberapa saat, 


"Oh, come on. Do not think twice and change your mind!" Protes Harris melihat ekspresi Rury


Rury tertawa kecil, "Okay, okay. Yes you are now, it seems like you are ready to take a bigger responsibility in your life!" Ucap Rury sungguh-sungguh. "And I am proud of you, sir!" 


"But still, there's a challenge in my life, for another heavier responsibility." Jawab Harris tenang.


"What is that? Let me know please!" Tanya Rury dengan antusias. 


Harris hanya terdiam dan menyeringai.



Bersambung***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar