Rury dan Harris yang telah berada di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan elit pusat Jakarta, menyusuri koridor mall yang menghubungkan antara area parkir basement dengan bagian dalam mall dimana beragam outlet produk dari brand terkemuka berada.
Koridor yang panjang membuat keduanya tak habis berbincang, dan Harris dibuat terkejut sekaligus heran dengan jawaban Rury atas pertanyaannya,
“Sometimes you just have a prince, but you don’t even want a prince!” ucap Rury tenang.
“Great, yes. your answer is great.” ucap Harris kemudian.
“Thank you sir!” balas Rury sambil tersenyum, tiba-tiba matanya menangkap beberapa pasang mata perempuan yang berpapasan dengan mereka tertuju ke arah Harris, sementara pria itu berjalan santai tak mempedulikan bila ia membuat banyak perempuan menoleh padanya.
“Eh, Ris Ris, masa cewek-cewek itu pada ngelihatin kamu tahu!” bisik Rury
Harris terkejut dengan ucapan Rury, reflek ia menoleh melihat sekelilingnya, dan benar saja tak sengaja ia menangkap basah beberapa pasang mata wanita yang melihatnya.
Tiba-tiba ia menoleh pada Rury, “Coba kamu lihatin di wajah aku apa ada kotoran? kenapa mereka ngelihatin aku sambil senyum senyum?”
Rury terkejut dengan kelakuan pria yang lebih tinggi darinya itu tiba-tiba saja menundukkan tubuh dan menyorongkan wajah ke hadapannya, sontak ia berhenti, karena Harris pun berhenti. Rury menuruti permintaan Harris dan memeriksa wajah dihadapannya itu, namun yang terjadi justru membuat jantung Rury tiba-tiba berdegup kencang,
“Masya Allah, kenapa ganteng banget sih pria ini?” batin Rury tiba-tiba, membuat dirinya sendiri tertegun dengan apa yang dilihatnya dari dekat.
“Bagaimana Ry? ada kotoran nggak?” tanya Harris lagi membuyarkan pikiran Rury,
Membuat gadis itu terkesiap sejurus kemudian, “Astaghfirullahaladzim!” ucapnya, sambil mengusap kedua matanya, ia tiba-tiba saja merasa malu dan memalingkan tubuh membelakangi Harris.
Harris yang mendapat respon seperti itu dari Rury, sontak terkejut, ia menegakkan tubuhnya lagi, dan menatap bingung ke arah Rury yang tiba-tiba membalikkan badan.
“Kok astaghfirullahaladzim? apa sekarang ada aura setan pada wajahku?” tanyanya polos.
Rury yang menyadari sikapnya dapat memancing kecurigaan Harris, “Ya ampun Rury, stay calm dong! jaga hati, jaga mata, ayok kamu bisa!” batinnya kemudian mengepalkan tangan di di depan dadanya dan membalikkan tubuh menghadap Harris lagi yang sedang memandangnya penuh tanda tanya.
“What now?” ucap Harris ragu.
“Nothing hehe.” jawab Rury pendek. “Nggak ada apa -apa kok di wajah kamu. percaya deh!” lanjutnya kemudian kembali melangkah.
Harris mengikuti langkah Rury sambil menganggukkan kepalanya, meski masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, namun sebuah ide muncul di kepalanya,
“Eh Ry, jangan-jangan apa tadi kamu baru sadar kalau aku cakep?” tanya Harris tiba-tiba
Seketika Rury tergelak, ia menutup mulutnya berusaha menahan tawanya, “Apaan sih ge-er banget jadi cowok!” oloknya pada Harris.
“Tapi, iya, kan?” goda Harris lagi
“Nggak salah lagi sih Ris!” ucap Rury namun hanya dalam hati saja, ia merasa tak bisa mengatakannya dengan jujur saat ini.
Rury hanya tersenyum, “Mungkin buat cewek-cewek lain iya kamu cakep, tapi buat aku, yang sudah tahu bagaimana kamu aslinya, gimana ya…?” Rury menggantung perkataannya,
“Bagaimana apa?” tanya Harris.
“Bagaimana kalau kita coba cek ke toko itu, kelihatannya mereka menjual pakaian pria.” jawab Rury sambil menunjuk ke salah satu outlet berusaha mengalihkan perhatian Harris.
Rury dengan riang melangkah menuju outlet tersebut meninggalkan Harris yang menggeleng-gelengkan kepalanya gemas. Kemudian melangkah mengikuti Rury memasuki outlet dengan dekorasi interior outlet bergaya industrialis.
Seorang pramuniaga wanita tersenyum ramah pada Harris yang kebetulan berada di sisi Rury membuat gadis itu tak terlihat bila dilihat dari sisi kiri pintu masuk.
"Good morning Sir, how may I help you?" Sapanya ramah dalam bahasa Inggris.
Harris terkejut dengan sapaan sang pramuniaga dengan polesan make up yang menyempurnakan penampilannya.
"What do you looking for Sir?" Tanya pramuniaga itu lagi.
Harris nampak bingung, bukan karena ia tak mengerti bahasa inggris yang digunakan sang pramuniaga melainkan mengapa ia disapa dalam bahasa Inggris sementara ia sedang berada di Indonesia.
"Halo mbak, maaf bisa menggunakan bahasa Indonesia saja." Ucap Rury yang tiba-tiba muncul dari belakang Harris, membuat pria itu tersenyum lega.
"Oh, mbaknya sedang mencari apa? Disini khusus pakaian pria maaf." Tanya sang pramuniaga tersebut, nampak dari raut wajahnya ia terlihat terkejut dengan kehadiran gadis berkaos biru dan celana jeans, serta mengenakan sepatu sneaker sederhana.
"Oh, kebetulan saya datang bersama mas ini." Ucap Rury sambil menepuk lengan Harris "Mas ini bukan expat, orang Indonesia juga. Jadi pakai bahasa Indonesia saja nggak apa-apa!"
Sang pramuniaga tersenyum, "Maaf kalau begitu, karena dari penampilannya saya pikir expatriate." Ucapnya sembari menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
Harris tersenyum mendengar penuturan pramuniaga tersebut. Ia bersyukur hari ini Rury bisa menemaninya.
"Jadi begini mbak, bos saya ini butuh beberapa pakaian kerja namun yang semi casual gitu, karena masih muda juga, kan ya. Disini ada nggak suit atau outwear yang begitu?" Tanya Rury kemudian langsung pada tujuannya.
"Oh, ada mbak, di bagian kanan belakang, kami sediakan beragam pilihan selain setelan jas atau tuxedo. Mari saya antar!" Pramuniaga tersenyum dengan senyum mengembang mengajak Rury dan Harris menuju ke bagian toko di sebelah kanan.
Saat sedang berjalan mengikuti pramuniaga, Harris tiba-tiba berbisik, "Ry kenapa segala bilang kalau aku bos, sih?" Protesnya.
Rury hanya tersenyum jail ke arah Harris, "Bukankah kita memang asisten dan atasan?"
Baru saja pria itu hendak membalas perkataan Rury, pramuniaga cantik tersebut telah menatapnya lagi,
"Baik silakan disini tempatnya, silakan dilihat-lihat terlebih dahulu. Untuk kamar pas nya di sebelah sana." Ucapnya sambil menunjukkan dua bilik kamar pas tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Oke mbak, kami lihat-lihat dulu, ya!" Ucap Rury
Saat telah melewati Rury, tiba-tiba pramuniaga itu menghadap Harris dan berkata dengan ramah, "Tuan jika butuh bantuan lainnya silakan panggil saya, ya!" Ucapnya dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Kalau saya butuh bantuan, asisten saya yang akan saya minta terlebih dahulu mbak, tapi terima kasih." Jawab Harrjs dengan wajah datar.
Sejenak pramuniaga itu terkejut kemudian menoleh pada Rury yang hanya tersenyum kecil padanya. Kemudian ia mengangguk dan berlalu meninggalkan Harris dan Rury.
"Oh God kenapa sih mbak-mbak itu menatapku seperti belum pernah melihat lelaki saja!" Rutuk Harris pelan saat menghampiri Rury yang sedang memperhatikan deretan kemeja.
Rury hanya terkekeh mendengar kekesalan Harris, “Bukannya sudah sering ya jadi pusat perhatian cewek-cewek? waktu di kampus saja kalau pas kamu datang lalu kita jalan bareng di kantin atau dikoridor menuju area parkir, wush! semua mata mahasiswi tertuju padamu.” ucap Rury sambil tersenyum kecil mengingat masa awal-awal ia kuliah dan Harris masih dapat menemuinya di kampus.
Harris hanya menghela napas kemudian tertunduk, “Iya juga sih, ya sudahlah!”
“Benar, terima saja konsekuensi jadi orang tampan!” ujar Rury tanpa mengalihkan pandangannya dari rak di hadapannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar