Rury sedang berbaring di kamarnya sambil membaca buku, cuaca malam hari yang dingin karena hujan membuatnya semakin malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Seharian berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota membuat kakinya terasa pegal, ditambah perdebatan dengan Romi melalui ponsel sore tadi cukup menguras emosi dan energinya, membuatnya semakin penat.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Rury menurunkan buku dari hadapan wajahnya, ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.
“Siapa yang menelepon jam segini ya?” gumam Rury,
Suara dering ponselnya tak kunjung berhenti, Rury menghela napas, dengan malas ia letakkan buku bacaannya dan bangkit dari kasurnya untuk beranjak ke meja tulisnya dimana ponsel itu ia letakkan.
Ia melihat ke layar ponsel, tercantum nama Harris disana, Rury mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tak salah lihat. Setelah memeriksanya kembali nama itu belum berubah,
Segera ditekannya tombol terima panggilan,
“Assalamualaikum. Kenapa Ris, malam-malam belum tidur?” tanya Rury tanpa basa-basi saat telah tersambung.
“Waalaikumsalam, apa kamu sudah tidur sebelumnya?” pria itu justru balik bertanya.
“Enggak sih, belum tidur. Belum terlalu mengantuk.” jawab Rury “Kamu kenapa malam-malam telepon, jangan bilang kamu baru sampai dirumah selarut ini?” tuduh Rury begitu saja.
“Iya, baru selesai mandi, kira-kira tiga puluh menit yang lalu aku baru sampai di rumah.” jawab Harris.
“Kamu kan mengantar aku pulang sekitar jam tiga atau setengah empat sore, perjalanan Depok ke Bogor paling lama hanya akan memakan waktu satu jam. Tapi kamu baru sampai rumah jam setengah sembilan malam, ada gap waktu sekitar empat jam.” Rury merinci detail perjalanan Harris.
Pria itu tergelak mendengar respon Rury, “Luar biasa Ry, detil banget sih segala dihitung dengan menit dan jam durasi perjalanan aku.”
“Ya biar lebih terpercaya saja kata-kata aku, karena based on data. Jadi kalau lah aku mau suudzon ada alasan logisnya.” jawab Rury enteng
“Betul juga sih!” ucap Harris menyetujui alasan Rury “Tadi aku tidak langsung kembali ke rumah. Aku bertandang ke rumah sepupuku yang terletak di daerah Dramaga, kebetulan dia baru akan kembali lagi ke pondok setelah pulang libur sepuluh hari.” lanjutnya.
“Ooh… pondok mana memangnya sepupumu itu?” tanya Rury
“La Tansa putri, sama sepertimu ukhti!” jawab Harris
“Hah? benarkah? kenapa aku baru tahu ya.” ucap Rury terkejut.
“Bukankah aku pernah cerita kalau aku pernah lihat kamu di kantin untuk tamu saat kamu baru selesai mengurus pionering untuk pramuka. Aku saat itu sedang ikut mengunjungi adik sepupuku itu, yang sepertinya mengidolakan dirimu sebagai kakak kelas yang cukup populer ya masa itu.” jawab Harris sambil tergelak.
“Ooh… ya… ya baiklah aku ingat kamu pernah cerita. Tapi apa dia belum lulus? sepertinya itu sudah lama sekali.” tanya Rury,
“Insya Allah tahun depan, sekarang dia kelas lima, jadi ini adalah libur perpulangan terakhir dia. Lain waktu ikutlah bersamaku menjenguknya, jadi dia itu cucu dari budeku yang memiliki restoran di rest area waktu kita makan saat perjalanan Solo ke Bogor beberapa tahun lalu setelah lulus. Ingat?” ujar Harris membuat Rury berpikir memutar kembali memorinya ke masa saat pertama kali bertemu Harris di bis.
“Ya aku masih ingat kalau itu, oh begitu. Apakah banyak di keluargamu yang bersekolah di pondok La Tansa?” tanya Rury.
“Nggak sih, hanya ada lima orang setahuku, kakak laki-laki ku pun sempat beberapa tahun di La Tansa, hanya saja ia tak sampai lulus, kebetulan ketika itu Mami keberatan saat ia dipindah ke cabang lain, sehingga ya akhirnya meneruskan ke sekolah umum. Yang lainnya adalah sepupuku salah satunya Sarah yang tinggal di Bogor juga, sementara yang lain adalah sepupu keluarga yang tinggal di Solo.” cerita Harris.
“Wah keren sekali keluarga besarmu, ya! meski dari keluarga terpandang dan kaya raya, tapi masih mau menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren.” puji Rury
“Ada banyak alasan juga sih sebenarnya kenapa beberapa keluargaku mau menyekolahkan anak mereka ke pondok. Selain agar ada bekal ilmu agama, beberapa juga karena kemauan si anak. Contohnya aku, aku sangat bersedia dikirim ke pondok karena waktu itu berpikir hidup sendirian di rumah sangat membosankan, kakakku memutuskan kuliah dan bahkan menetap di luar negeri setelah lulus dari Dwi Warna. Jadi ya, akupun memutuskan untuk menyetujui usul mami agar aku sekolah di La Tansa saja. Dan bertemulah aku denganmu berkat sekolah di La Tansa.” terdengar nada ceria pada suara Harris di akhir ucapannya.
Ucapan Harris tak ayal membuat Rury menyunggingkan senyum, pria ini selalu berhasil membuatnya seakan tersanjung dengan kata-katanya yang terdengar tulus.
“Menyesal nggak setelah ketemu aku, hidup kamu jadi lebih repot ya?” tanya Rury sambil tertawa kecil
“Enggak dong! kenapa harus menyesal, justru sejujurnya aku jadi lebih termotivasi untuk bekerja keras setelah kenal kamu lebih personal.” jawab Harris.
“Eh, kok jadi bekerja keras?” tanya Rury tak mengerti, pikirannya tiba-tiba teringat pada hadiah uang yang Harris pernah berikan padanya.
“Iya, serius. Dulu aku kan hidup ya hidup saja nggak ada target atau ghiroh yang spesifik. Nggak ada keinginan atau cita-cita tertentu, ya karena benar seperti yang pernah kamu bilang ke aku, mungkin karena sejak kecil aku sudah mendapat privilege kemudahan ini itu karena terlahir di keluarga berada, bahkan masa depanku saja seolah sudah ditentukan harus menjadi penerus perusahaan Daddy dan Mami. Jadi kayak nggak ada challenge dalam hidupku.” jawab Harris
“Ya kan enak dong kamu punya hidup seperti yang diimpikan banyak orang. Eh tapi, apa korelasinya dengan aku? iya sih aku selalu dukung dan support kamu, tapi kan aku nggak pernah nyuruh kamu kerja keras.” kilah Rury, ia masih belum mengerti alasan mengapa Harris merasa termotivasi untuk bekerja lebih keras setelah bertemu dengannya.
Harris kembali tergelak, “Iya memang kamu nggak pernah nyuruh, tapi kamu membuatku berjanji agar jadi leader yang lebih baik, kan? dan proses menjadi seperti itu ternyata tidak sekedar dari hanya duduk di kantor dan memberikan tanda tangan.” jawab Harris. “Tapi selain itu aku senang sih, kamu itu pekerja keras, mau berusaha untuk survive dan chase your dream. Hidup kamu tuh jadi lebih passionate gitu kalau aku lihat, aku juga ingin merasakan hidup yang seperti itu sih. Then I think I have to work harder and smarter.” lanjutnya.
“Syukurlah kalau ada hal baik yang bisa kamu lihat dari aku, sebagai sahabat kita memang harus saling mendukung dan memotivasi.” ucap Rury penuh semangat.
“Hanya sahabat saja, kah?” tanya Harris tiba-tiba.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar