![]() |
| Cover by Ranie Putri via CanvaPro |
Rury memandang hamparan sawah di sisi jalan yang mereka lewati dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bogor. Ia terdiam, bukan karena mengantuk atau bosan. Namun, gadis itu sibuk mencoba menata jantungnya yang berdetak kencang sejak pertemuannya kembali dengan Harris, yang baru saja tiba di Indonesia.
Sementara di sisi lain, Rury merasa telah mengakhiri hubungan dengan Romi, karena pria itu selalu merasa tak bisa menjalani hubungan pertemanan biasa dengannya pasca pernikahannya dengan Gita, wanita lain yang Rury ketahui kemudian sebagai kekasih lama Romi.
Tiba-tiba Rury menghela napas dengan berat,
“Bosan, ya Ry?” tanya Harris tiba-tiba sambil menoleh padanya.
Rury terkejut, ia menoleh pada Harris, “Eh, enggak. Bukan bosan, cuma kepikiran sesuatu tiba-tiba.” jawab Rury
“Atau bagaimana kalau kita ke rest area untuk beristirahat sejenak?” usul pak Kahar.
“Boleh, juga pak. Kita makan dulu, ya Ry!” ucap Harris.
“Oke.” jawab Rury sambil menyorongkan ibu jarinya pada Harris sambil tersenyum.
“Nanti mas Harris pindah ke belakang saja sama neng Rury, jadi…” ucap pak Kahar.
“Enggak pak!” seru Rury dan Harris berbarengan, kemudian saling memandang.
“Loh, kenapa kompak begitu?” tanya pak Kahar sambil tertawa.
Rury kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang, sementara Harris ikut tergelak menyadari kekonyolannya dengan Rury.
“Nggak baik pak kalau saya di belakang samping Rury.” ujar Harris.
Rury menoleh pada Harris yang duduk di sebelah pak Kahar, sementara dirinya menempati kursi penumpang bagian tengah, di belakang mereka.
“Eh, kenapa?” batin Rury terkejut dengan jawaban Harris.
“Nggak baik bagaimana mas?” tanya pak Kahar.
“Masih belum halal pak, sementara saya sudah lama nggak bertemu muka dengan Rury.” jawab Harris.
“Lalu?” tanya pak Kahar
Rury pun menatap Harris dari belakang sambil menajamkan pendengarannya, seketika ia merasa sangat ingin tahu apa alasan pria itu menolak duduk bersebelahan dengannya.
“Ya… kan, bahaya pak, kalau orang terlalu kangen terus berdekatan, sementara belum boleh ngapa-ngapain, kan!” ucap Harris malu-malu.
Tawa pak Kahar meledak setelah mendengar ucapan Harris, sementara Rury melongo menatap Harris dari belakang. Namun, pria itu sepertinya segan untuk menoleh ke belakang.
“Bagaimana bisa pria ini ada pikiran seperti itu?” batin Rury terkelitik, meskipun sejurus kemudian ia membenarkan ucapan Harris.
Mereka sudah beberapa tahun tidak bertemu, ia pun mengakui ada rasa rindu yang begitu sulit untuk dijabarkan. Bahkan membuat keduanya justru menjadi canggung saat tadi pertama kali bertemu kembali di bandara.
Rury merasa ingin sekali memeluk pria yang selama ini telah banyak membantunya. Namun, ia tahu batasan dengan pria yang juga lulusan sekolah yang sama dengannya dulu. Sementara Harris yang terlihat seolah menahan tangannya untuk tidak menyentuh Rury, hanya mampu tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Dan pak Kahar yang tampak menahan tawa menyaksikan keduanya.
“Pak sudah dong ketawanya, namanya juga anak muda, kayak nggak pernah muda saja bapak ini!” terdengar Harris setengah merajuk pada sopir pribadi yang telah ia anggap seperti keluarganya ini.
Pak Kahar meredakan tawanya, sementara Rury merasa tiba-tiba hawa di sekitarnya menjadi panas meskipun air conditioner mobil itu berfungsi dengan baik. Tanpa sadar ia mengipas-ngipaskan tangannya ke arah wajahnya.
“Neng Rury kenapa, kayaknya panas banget!” goda pak Kahar sambil melihat gadis itu dari kaca mobil.
Rury terkejut dengan teguran pak Kahar, ia semakin salah tingkah. Ia berharap Harris tak menoleh padanya.
“Ah… nggak pak. Cukup kok! cuma iseng saja kipas-kipas tangan!” ucap Rury berkilah.
“Iya, bapak paham. Ya sudah, sabar-sabar ya neng Rury. Doakan saja kuliahnya mas Harris cepat selesai, bisa mulai memimpin perusahaan. Terus bisa menghalalkan!” ucap pak Kahar sambil tersenyum.
“Iya pak, semoga mas Harris bisa sukses, amin!” ucap Rury.
Namun, tiba-tiba Harris menoleh padanya dengan pandangan terkejut sekaligus senang.
Rury mengangkat kedua alisnya pada Harris, dengan mimik wajah seolah berkata, “What? any mistakes in my words?”
Namun, pria itu hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, dan kembali menatap ke depan. Meninggalkan Rury dalam kebingungan,
“Wah, sudah mulai memanggil dengan mas, ya neng Rury. Syukurlah!” ucap pak Kahar.
“Eh, apa iya tadi aku…” Rury tak melanjutkan perkataannya, menyadari sesuatu kemudian ia justru menutup mulut dengan tangannya.
“Duh kok aku bisa salah panggilan sih?” gerutu Rury pada dirinya sendiri.
Lagi-lagi pak Kahar tergelak, sementara Harris juga menutup mulutnya dengan tangan seolah menahan tawa.
“Nggak sengaja maaf, ikutan pak Kahar.” jawab Rury malu-malu.
“It’s ok Ry, lagipula memang aku lebih tua sedikit dari kamu, ‘kan?” ucap Harris sambil tersenyum pada Rury.
Gadis itu mengangguk, namun tiba-tiba ia teringat akan Romi, sosok yang selalu ia panggil mas.
“Stop remembering that guy Ry!” ucap Rury sambil menggelengkan kepalanya.
Ia sudah bertekad untuk tidak banyak mengingat tentang pria tersebut.
Tak lama sampailah mereka di sebuah area peristirahatan di sisi jalan, setelah memarkirkan mobil.
“Kita istirahat dulu yuk Ry, aku lapar sekalian ingin makan sesuatu.” ajak Harris, ia turun terlebih dahulu dari mobil.
Saat Rury hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba pintu tersebut telah terbuka dari luar, sesaat Rury terkejut, dilihatnya Harris berdiri memegang pintu mobil,
“Oh iya, Harris memang hobi bukain pintu buat aku ya kalau naik mobil dia, kecuali kalau hanya drop off.” batin Rury mengingat kebiasaan Harris yang sebelumnya pernah ia rasakan.
“Kenapa? yuk keluar!” tegur Harris melihat Rury hanya termangu di ambang pintu.
Rury tersadar kembali dari lamunannya, ia mengangguk kemudian segera turun dari mobil. Harris kembali menutup pintu mobil, setelah memastikan mobil terkunci dengan aman. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah bangunan yang terletak di area peristirahatan tersebut.
“Ry, aku jadi teringat waktu di Solo deh.” ucap Harris tiba-tiba.
“Ah… iya, benar. Saat kita pulang bareng di bis dari Solo.” jawab Rury sambil tersenyum mengingat kembali kenangan saat pertama kali bertemu pria ini.
“Betul, beruntung sekali aku akhirnya bisa berkenalan denganmu.” ucap Harris sambil tersenyum simpul.
“Beruntung kenapa? kenal aku hanya sesuatu yang biasa.” jawab Rury sambil tergelak, ia merasa Harris terlalu berlebihan.
Harris mengembuskan napas, kemudian masih dengan senyuman di bibirnya, ia berkata,
“Bagaimana kalau kita napak tilas lagi, kita traveling yuk ke pondok kita dulu, lalu naik bis dari Solo sampai ke Bogor, bagaimana?” usul Harris.
Rury terkejut, “Umm… apa tidak apa-apa kalau kita traveling berdua saja?” tanyanya sambil menatap Harris.
Raut wajah Harris seketika berubah, “Iya juga sih ya? tapi kalau mengajak pak Kahar pun, nanti kasihan beliau aku kerjain lagi seperti dulu.”
“Kerjain bagaimana?” tanya Rury sambil mengernyitkan dahinya.
“Jadi dulu, aku minta pak Kahar pulang sendiri ke Bogor membawa barang-barangku.” ucap Harris.
“Kenapa jadi sendiri pak Kahar?” tannya Rury lagi.
Tiba-tiba Harris menghentikan langkahnya, kemudian menatap Rury sesaat, “Demi mengejar perempuan yang sudah lama ingin aku kenal.” jawab Harris sambil tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam restoran mendahului Rury yang terkejut dengan perkataan pria itu.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar