Sudah tiga puluh menit Rury dan Harris mengunjungi beberapa toko lainnya di pusat perbelanjaan tersebut.
"Sepertinya sudah cukup belanja pakaian kamu." Ucap Rury sambil memperhatikan beberapa tas belanja tambahan yang ada di tangan Harris.
"Kau benar. Cukup dulu, nanti jika membutuhkan tambahan, tolong kau belikan untukku ya!" Pinta Harris.
"Padu padankan saja dengan pakaian yang sudah ada di lemarimu." Usul Rury.
"Aku tidak mau pagi hariku ditambah dengan kepusingan harus mengurus outfit bekerja. Jadi jika memang ada yang lebih simpel bisa langsung pakai satu setel atau yang sudah disiapkan, itu jauh lebih baik." Balas Harris.
Rury hanya tersenyum mendengar penjelasan Harris. Ia sadar bahwa belum bisa banyak membantu pria yang ia anggap sebagai sahabat itu.
"Baiklah, mari kita sudahi agenda belanja hari ini!" Ajak Harris
"Betul, yuk kita pulang!" Jawab Rury
Keduanya melangkah menuju area parkir dimana mobil Harris berada.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka menemukan mobil berwarna hitam metalik itu. Harris membuka kunci mobil secara otomatis. Semendara Rury hanya memperhatikan gerak gerik Harris
"Yuk masukl!" Ucap Harris.
Rury menuruti usulan Harris, ia masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman.
Harris pun segera menempati kursi kemudi, setelah mengenakan sabuk pengaman. Pria itu memutar kunci mobilnya, menyalakan mesin.
"Beneran ya, kita langsung pulang je runah?" Tanya Harris memastikan.
Rury mengangguk tanda setuju. Harris mulai memutar kemudinya, melaju meninggalkan pusat perbelanjaan besar di ibukota tersebut.
***
Hari sudah mulai sore saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman rumah Rury.
"Sampai juga akhirnya. Benar benar jadi assistant day hari ini. Luar biasa!" Ucap Rury sambil meregangkan tubuhnya sesaat sebelum meraih tasnya dari bangku belakang.
"Eh ternyata banyak juga yang dibeli hari ini." Ucap Rury saat melihat deretan tas belanja yang berjajar rapi bagian kursi belakang.
"Iya, baru sadar ya." Balas Harris yang ikut serta melihat hal tersebut.
"Habis berapa semua ini totalnya Ris?" tanya Rury ingin tahu.
"Entahlah, mungkin beberapa juta." Jawab Harris enteng. "Sudahlah, tidak apa -apa!" Lanjut Harris cepat saat melihat perubahan raut wajahnya.
"Lagipula ini untuk bekerja juga, it's ok. Oia, jangan lupa kamu ambil juga pakaian yang tadi kita beli untukmu!" Ucap Harris
"Aku tidak membeli pakaian." Jawab Rury tidak mengerti.
"Aku yang belikan. Mungkin nanti saat aku membutuhkanmu untuk ke kantor bersamaku, jadi kau bisa gunakan itu!" Terang Harris
Mendengar hal tersebut, Rury sangat terkejut.
"Kapan kamu belinya?"
"Tadi saat kita berkunjung ke beberapa butik. Aku sudah memintamu untuk membeli bagi dirimu sendiri. Tapi sepertinya kamu tidak mendengar saranku dan tetap sibuk dengan pakaian untukku." Ujar Harris tenang.
Pria itu kini melihat ke arah deretan tas belanja tersebut, meraih salah satu tas mengintip isinya sejenak lalu menyerahkannya pada Rury,
“Semoga kamu suka, tapi aku pikir itu cocok kok di kamu!” ucap Harris sambil tersenyum.
Rury menerima tas itu dengan wajah datar, tak tahu harus berkata apa, ia tak menduga bila akan mendapatkan sesuatu juga dari pria itu.
“Aku harus bilang apa, ya, selain terima kasih?” tanya Rury
“Cukup bilang, I will wear it, when we meet again later!” jawab Harris sambil mengerlingkan matanya ke arah Rury.
Rury hanya tersenyum, “Sejak kapan sih kamu jadi genit gitu Ris?”
Harris hanya mengangkat bahunya, sambil tersenyum,
“Ya, baiklah. Insya Allah, nanti akan digunakan. Oia, kamu nggak usah turun cuma buat bukain pintu!” larang Rury, saat melihat pria itu akan melepas sabuk pengamannya.
Gadis itu dengan cepat menekan tuas pintu mobil hingga dapat terbuka, membuat Harris mengurungkan niatnya.
“Thank you for today, have a nice rest. I will call you later when I have arrived at home!” ucap Harris.
“You’re welcome. Santai aja, kayak ke siapa saja deh!” ucap Rury geli, Harris bersikap seolah mereka dalam hubungan pacaran. “Take care!”
Harris hanya tertawa mendengar perkataan Rury, ia memutar kemudinya dan menyempatkan diri melempar senyum pada gadis itu saat sebuah lambaian tangan melepas kepergiannya dari halaman rumah seorang perempuan yang telah lama ia kenal itu.
***
Rury mengembuskan napas setelah mobil Harris tak lagi nampak di pelupuk matanya. Ada rasa senang dalam hatinya, bisa bertemu dan bersama lagi dengan Harris, namun disisi lain ia juga merasa khawatir jika kedekatan mereka semakin bertambah, dan bahkan tak lagi terhalang jarak, apa masih bisa mempertahankan hubungan hanya sebagai sahabat.
Sementara Rury belum lupa apa yang pernah ia janjikan pada Tuan Danish, ayahanda Harris, tentang pernyataannya bila ia akan mencoba untuk hanya menjadi sahabat Harris.
“Ya sudahlah, coba dijalani saja. Toh tidak ada komitmen apapun juga di antara aku dan Harris.” gumam Rury kemudian.
Gadis itu membuka pintu rumah yang terkunci, hari sudah sore saat ia masuk ke ruang tamu rumahnya. Entah kapan penghuni rumah ini akan kembali, tak ada kabar dari Mamanya yang masih bekerja menjadi tenaga kerja wanita ke timur tengah, Bapak pun tidak selalu berada di rumah, sementara kedua adik Rury dipindahkan ke Jawa Timur oleh Bapaknya.
Saat libur sekolah seperti ini memang seringkali membuat Rury mati gaya, karena profesinya sebagai guru, sehingga musim liburan seperti ini menjadikan kegiatan mengajarnya otomatis terhenti semua. Diperparah dengan sifat Rury yang tidak suka bepergian untuk sekedar jalan-jalan ke mall atau nongkrong di kafe bersama teman-temannya selayaknya anak muda seusianya.
Teman-teman semasa sekolah menengahnya di pondok pesantren dulu juga sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing dan banyak yang kemudian berada di kota lain menyesuaikan kampus tempat mereka kuliah.
“Apa iya, aku benar-benar tidak punya teman? kok aku baru sadar, ya?” gumam Rury kemudian sambil berjalan menuju kamarnya.
Rury tergolong pribadi yang pemikir, sehingga ia bisa memikirkan apapun meski sedang melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan apa yang ia pikirkan.
Setelah meletakkan tas ransel dan tas belanja pemberian Harris, Rury menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Tak lama saat kembali ke kamarnya, pandangannya terpaku pada tas belanja yang ia letakkan di atas meja tulisnya.
“Beliin apa sih Harris sebenarnya?” gumam Rury penasaran. Baru saja tangannya hendak meraih tas berwarna biru langit itu, sebuah bunyi keras mengejutkannya yang ternyata ponsel Rury berdering karena ada panggilan masuk yang menelpon nomornya.
“Duh ngagetin saja, mana sepi banget kan, jadi kedengarannya kenceng banget.” gerutu Rury pada dirinya sendiri, “Siapa sih yang telepon, masa Harris sudah sampai dirumah?” gumam gadis itu sambil meraih ponselnya dan seketika matanya membesar saat melihat sebuah nama yang tercantum di layarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar