Jumat, 22 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 10 - Mendadak Fashion Stylist





Hari itu Harris mengajak Rury untuk membantunya membeli keperluan pakaian yang akan ia gunakan untuk bekerja selama di Indonesia. Pagi itu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh, namun keduanya telah berada di sebuah butik dengan nuansa pastel tersebut. 


Harris meminta Rury untuk meninggalkan tasnya di mobil, dengan alasan agar lebih leluasa bergerak. 


Mereka disambut seorang  storey yang langsung menanyakan keperluan keduanya dengan ramah,


Harris yang entah mengapa tiba-tiba terlihat gugup, diam tak menjawab pertanyaan sang Storey, pria itu kemudian menatap Rury seakan meminta bantuan, Rury yang menyadari sorot mata Harris, membalas sapaan storey tersebut, 


“Maaf Mbak, kakak saya ingin membeli beberapa pakaian formal untuk bekerja, bisa dibantu untuk pilihan produk yang ada di butik ini?” ucap Rury sigap. 


“Baik, akan saya bantu, mari ke sebelah sana kak!” ajak sang storey pada Rury dan Harris yang kini menatap kesal pada Rury. 


“Hey, kenapa mengaku-ngaku kalau aku kakakmu sih?” protes Harris.


“Ya terus apa? masa pacar?” ucap Rury sambil menjulurkan lidahnya sesaat ke arah Harris. Rury tergelak melihat reaksi Harris.


Ia melangkah mengikuti storey butik, meninggalkan Harris yang menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kesal. Rury melambaikan tangan pada Harris meminta pria itu berjalan mengikutinya. Terlihat sekali bagaimana canggungnya pria berhidung mancung itu. 


“Pantas saja dia minta aku temani beli baju, dia seperti kikuk sekali berkunjung ke butik saja!” pikir Rury geli melihat sikap Harris. 


“Pilihan yang ada di sini kebanyakan kemeja, dan setelan jas.” ucap Rury pada Harris saat pria itu telah berada di dekatnya. 


“Menurut kamu bagus nggak?” tanya Harris dengan wajah datar seolah bingung melihat beberapa produk fashion yang berjajar rapi di depannya. 


“Ih malah balik nanya, kamu biasanya pakai baju apa untuk bekerja?” gumam Rury 


“Aku kan belum pernah belanja baju sendiri sebelumnya Ry, dan aku belum pernah bekerja secara formal untuk kantor Daddy.” jawab Harris “Itu salah satu alasan juga kenapa aku bawa kamu, kamu pilihin saja apa yang menurut kamu cocok di aku!” lanjutnya perlahan.


“Selama ini baju-baju yang kamu pakai siapa yang belikan?” tanya Rury sembari memperhatikan beberapa pilihan jas yang tergantung di rak. 


“Mami, aku belum pernah beli baju sendiri sebelumnya. Semua sudah disiapkan mami dan asistennya.” jawab Harris sambil ikut memperhatikan gerakan tangan Rury memilah milah jas. 


“Dis, anak mami banget sih, kamu!” olok Rury sambil menggelengkan kepala, “Waktu sekolah di pondok dulu bagaimana?” 


Rury dan Harris memiliki background pendidikan sekolah menengah yang sama yaitu lulusan dari pondok pesantren yang sama, hanya saja karena kebijakan pemisahan lokasi asrama santri putra dan santri putri, membuat keduanya baru saling mengenal setelah lulus. 


“Dulu waktu di pondok, kan. Baju nggak neko-neko. Karena dibatasi jadi ya tidak perlu banyak pilihan, hanya seragam dan baju harian sederhana. Dan itu semua sudah disiapkan Mami sejak kedatangan di tahun ajaran baru, aku tidak akan meminta baju baru selain untuk keperluan kegiatan di pondok, life is really simple.” jawab Harris sambil menggaruk-garuk kepalanya. 


Rury tersenyum mendengar penjelasan Harris, ia pun mengetahui peraturan tersebut, namun tetap saja di kalangan santri putri adakalanya muncul tren fashion tertentu yang membuat santriwati lain mengikuti tren tersebut yang menyebabkan adanya kebutuhan belanja pakaian baru. Meski pakaian yang telah ada, sudah mencapai batas maksimal kepemilikan pakaian. 


“I see, ya baiklah sebagai asisten yang baik. Tenang kakak bos, adik Rury yang manis ini akan membantu Anda hari ini, menjadi lebih glow up berpenampilan saat bekerja nanti!” ucap Rury sambil mengerlingkan matanya ke arah Harris yang mendadak terpaku melihat kerlingan iseng dari Rury. 


“Tapi apa, ya. Menurutku pakaian yang tersedia disini kurang ok buat kamu yang berjiwa muda, goal kita adalah membuat kamu look young charismatic leader gitu, kan?” ucap Rury yang kini sudah berpindah memperhatikan jejeran jas di rak lain. 


Harris hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Rury, tiba-tiba Rury datang menghampiri Harris dan memasangkan sebuah jas berwarna hitam ke tubuh Harris, 


“Coba, ini ok nggak di kamu?” ujarnya sambil memperhatikan Harris dengan sebuah jas terpasang di tubuhnya. 


“Menurut kamu bagaimana? tapi kalau sekedar jas hitam sih aku sudah punya yang sejak dulu digunakan di pondok.” ucap Harris enteng.


Rury menatap datar pada pria itu, “Hey masa jas sekolah dibuat kamu kerja juga sih, ya meskipun mungkin jas itu masih bagus sih.” 


“Tapi kayaknya pakaian di sini lebih untuk ke penampilan eksekutif sudah tua gitu Ris, aku kurang sreg sih sebenarnya kalau disuruh memilihkan untuk kamu.” ucap Rury


“Jadi bagaimana? masa kita nggak beli sama sekali setelah kamu pegang-pegang itu koleksi jas!” tanya Harris dengan pelan pada Rury. 


“Iya sih, nggak enak juga ya sama storey-nya, Sebentar aku coba cek produk lain yang sekiranya useful buat kamu juga ya.” jawab Rury kemudian ia melangkah ke bagian lain dari butik. 


Tiba-tiba langkah Rury terhenti saat melewati rak berisi deretan vest pria, ia tertegun dan kemudian seperti teringat sesuatu, 


“Kenapa, mau beli vest ini?” tanya Harris menghampiri Rury yang masih terdiam. 


“Ah enggak, cuma teringat suatu tempat yang mungkin kita bisa temukan style yang lebih ok untuk kamu.” jawab Rury sambil tersenyum.


“Oh, ya? dimana?” tanya Harris antusias. 


“Nanti deh aku kasih tahu, sekarang tolong bayar dasi ini dulu agar kita nggak keluar butik ini dengan tangan kosong!” pinta Rury sambil memperlihatkan sebuah dasi berwarna biru metalik dengan bahan beludru. 


“Bagus juga, baiklah ayo ke kasir!” ucap Harris senang. 


Keduanya membayar sehelai dasi yang Rury pilih. Setelah mengucapkan terima kasih mereka keluar butik dan masuk ke mobil yang terparkir tepat di halaman butik. 


"Jadi next destination kemana?" Tanya Harris saat mereka telah berada dalam mobil. 


"Budget kamu untuk keperluan ini banyak, kan ya?" Rury balik bertanya. 


"Ada budgetnya tapi jangan sampai seharga kendaraan bermotor juga sih. Bisa pusing nanti aku cari gantinya." Jawab Harris "Aku, kan baru memulai karir jadi ya, belum banyak mendapat fasilitas dan pendapatan setaraf ayahku." Lanjutnya. 


"I see, wajar sih. Haha tapi ya tentu saja nggak akan over budget sih insya Allah. Tenang saja!" Jawab Rury sambil tertawa. 


"So, where are we going for the next destination?" Tanya Harris lagi. 


"Grand Indonesia shopping mall." Jawab Rury mantap.


"Ok, let's go!" Seru Harris, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju meninggalkan halaman parkir salah satu butik di kawasan Kemang tersebut. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar