Senin, 13 September 2021

Mengenal Kusta Lebih Dekat Melalui Media yang Tepat

doc. KBR


Halo Teman, 

Hari ini aku mau berbagi cerita tentang kegiatan yang aku ikuti hari ini Senin, 13 September 2021. Jadi kegiatan Talkshow Ruang Publik KBR ini berlangsung secara virtual karena disiarkan secara live youtube di channel youtube Berita KBR. 

Acara talkshow Ruang Publik hari ini bertema Gaung Kusta di Udara di moderatori oleh mas Rizal Wijaya, dengan narasumber dr. Febrina Sugianto - Junior Technical Advisor NLR Indonesia dan Ibu Malika - Manager Program & Podcast KBR.

Acara ini merupakan kerjasama antara NLR Indonesia dan pihak KBR Indonesia, dalam rangka kampanye Indonesia Bebas Kusta. NLR Indonesia adalah sebuah yayasan nasional dan anggota aliansi NLR yang juga sebuah organisasi non pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. 

Sementara KBR adalah penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999. Dengan dukungan reporter dan kontributor terbaik di berbagai kota di tanah air dan Asia, dengan jaringan radio di berbagai daerah di Indonesia, Asia, dan Australia. 

Dari yang aku simak di talkshow tersebut, dr. Febrina menjelaskan bahwa penyakit kusta secara umum terbagi menjadi 3 tipe diantaranya: kusta tuberkuloid, lepromatosa, dan garis batas. Pengelompokan kusta tersebut ditentukan dari respons kekebalan seseorang terhadap penyakit.

Menurut keterangan dr. Febrina Sugianto juga, kusta bisa disembuhkan karena sudah ada obatnya. Oleh karena itu saat di tempat umum, penderita kusta masih dapat berbaur di tempat umum, misalnya di puskesmas bisa antri dokter di tempat tunggu dokter sebagaimana pasien lainnya. 

Proses pengobatannya MDT (Multi Drugs Therapy) untuk dosisnya disesuaikan dengan tipe penyakit kusta yang diderita. 

Reaksi kusta dapat terjadi pada saat masa terapi MDT karena adanya pengaruh dari kondisi imun, kondisi psikologis atau mengalami stress, beberapa bahkan bisa ada efek perubahan warna kulit.

Terapi MDT ini merupakan terapi intens jadi harus mengkonsumsi obat khusus setiap hari selama 6 sampai 8 bulan. Dan itu harus dilakukan setiap hari dalam jangka waktu tersebut, jika sampai ada absen minum obat maka ada resiko nantinya akan dilakukan pengulangan terapi dari awal jika absennya sudah cukup lama. 

Hal buruk yang seringkali terjadi pada penderita kusta saat masa pengobatan adalah karena masa proses terapi yang lama dan intens karena setiap hari mengkonsumsi obat adakalanya beberapa mengalami kejenuhan, atau jika mengalami reaksi kusta saat terapi maka merasa putus asa. 

Dr. Febrina menyatakan “Hal yang perlu kita perhatikan pada masa MDT berlangsung adalah dukungan atau support terhadap penderita kusta tersebut agar tidak menyerah atau putus harapan untuk terus melakukan proses pengobatan kustanya hingga tuntas. Karena jika berhenti di tengah jalan maka justru dapat menimbulkan efek kurang baik bagi tubuh, dan beberapa justru memerlukan pengobatan ulang sedari awal proses lagi” 

Namun, saat reaksi kusta terjadi, ada baiknya tidak langsung memutuskan sepihak untuk menghentikan pengobatan. Sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan profesional, bahkan di Puskesmas pun sudah tersedia tenaga profesional kusta untuk menangani penderita kusta yang butuh penanganan langsung ataupun konsultasi. 

***

Sementara ibu Malika selaku manajer program dan produser podcast KBR, mengemukakan bahwa peran media dalam kampanye Indonesia bebas kusta adalah sebagai sumber informasi yang benar akan literasi kesehatan, salah satunya dalam hal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kusta dan bagaimana penanganan kusta yang tepat.

“KBR berusaha membuat program - program menarik untuk membantu kampanye SUKA atau Suara Untuk Indonesia Bebas Kusta, seperti mengadakan live talkshow seputar kusta, lomba konten baik, secara video, audio podcast, maupun tulisan. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi informasi baik bagi masyarakat sehingga dapat melawan atau memfilter maraknya informasi tidak valid atau hoax.” terang ibu Malika selaku Manager Program dan Podcast KBR. 

Hoax di bidang kesehatan yang sering beredar salah satunya tentang kusta adalah bahwa hal tersebut adalah penyakit kutukan atau bad luck dalam sebuah komunitas, oleh karena itu peran media pun sangat dibutuhkan untuk melawan kesalahan informasi yang beredar di masyarakat.

NLR Indonesia dan KBR bekerjasama juga dalam meningkatkan akses publik terhadap informasi dan pengetahuan yang benar tentang kusta dan disabilitas. 

***

Talkshow Ruang Publik KRB hari ini terasa cepat sekali selesai meski sebenarnya sudah satu jam acara bincang-bincang tersebut berjalan. 

Pastinya dari talkshow tersebut aku jadi lebih memahami apa itu kusta dan bagaimana penanganan tepat yang seharusnya diberikan. Kita sebagai masyarakat haruslah memberikan ruang dukungan bagi penderita kusta dan disabilitas agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan taraf hidup OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta). 

Buat temen-temen yang juga ingin mengetahui lebih banyak tentang kusta bisa coba berkunjung ke situs resmi NLR Indonesia dan kalau mau ikutan Lomba Konten Baik tentang kusta bisa coba cek di Instagram KBR . Mari mengenal kusta lebih dekat melalui media yang tepat!

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisanku, semoga bermanfaat, ya!

Keep Healthy, Stay Happy, Fight Negativity!


Rabu, 08 September 2021

Hikaru Kembali Ke Sekolah, Tapi Ibu Nggak Balik Ghibah

 


September 2021, bisa jadi bulan yang benar sesuai temanya bagi Hikaru anakku. September Ceria karena mulai awal bulan ini dia bisa kembali ke sekolah untuk kegiatan belajar tatap muka. 

Setelah sekian kali ujian semester, setelah ratusan hari di depan layar zoom akhirnya Hikaru bisa menatap latar putih papan tulis, bisa ada alasan keluar rumah lagi, bisa ada alasan minta uang jajan lagi. Terdengar menyenangkan sekilas. 

Masa pandemi Covid-19 bukan saja ujian bagi kesehatan umat manusia tapi juga ujian bagi pendidikan negeri ini. Menjalani kegiatan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sejak kelas 1 MI dan bahkan naik kelas 3 jalur corona begitu sebutannya. 

Sistem pembelajaran dimasa pandemi memang masih menuai pro dan kontra, disatu sisi orang tua tidak sedikit yang merasa sudah tidak sanggup mengikuti pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Namun, disisi lain bahaya virus Covid juga masih mengintai karena varian baru yang bermunculan. Dan belum tersedia vaksin bagi anak usia dibawah 12 tahun. Sehingga masih memunculkan kekhawatiran orang tua. 

Namun, aku memilih untuk menyetujui surat pernyataan orang tua untuk kesiapan belajar tatap muka, toh hanya 2 kali dalam sepekan untuk simulasi awal, dan durasi belajar hanya 2 jam per tatap muka. Sehingga aku pikir masih dapat diawasi, karena anak datang langsung masuk kelas, dan selesai belajar langsung pulang ke rumah. Orang tua tidak diperkenankan menunggu di area sekolah. Tiap kedatangan ke area sekolah wajib cuci tangan terlebih dahulu. 

Hikaru membekali diri dengan menggunakan masker, membawa hand sanitizer, tisu kering, face shield, dan juga air minum pribadi. Karena masih tidak diwajibkan menggunakan seragam sehingga Hikaru bisa selalu menggunakan baju lengan panjang setiap kali kegiatan tatap muka di laksanakan. Kapasitas kelas tiap sesi belajar juga hanya 50% dari jumlah keseluruhan siswa kelas. Jadi, satu murid bisa duduk sendiri. 

Setelah 3 kali pertemuan sesi belajar tatap muka, Hikaru merasa senang dan jauh lebih semangat belajar. Menurutnya dia jadi lebih merasa sekolah beneran, dan memunculkan rasa tanggung jawab dia sebagai pelajar. Minusnya adalah menurut Hikaru karena durasi yang terbatas sehingga pembelajaran dirasa agak terburu-buru karena dalam 1,5 jam diperuntukkan untuk 3 mata pelajaran di hari tersebut. 

Sementara bagi ibuk, kembali ke sekolah di masa pandemi ini, sedikit menjadi lebih baik. Karena anak mulai senang sekolah, dan karena adanya penerapan protokol kesehatan sehingga masih ada larangan kerumunan di area sekolah, membuat orang tua wali murid hanya datang untuk mengantar dan menjemput. 

Dan hal tersebut dapat menghindari wali murid berkerumun untuk membicarakan hal diluar kegiatan sekolah anak. Sehingga dengan kata lain dapat terhindar dari kebiasaan yang pernah terjadi di masa sebelum pandemi yaitu berkumpul untuk bergosip ria. 

Dan tentu saja dompet ibu juga aman karena tidak ada acara membakso atau arisan bersama, meskipun memang terkesan individualis tapi aku pribadi  merasa itu hal yang cukup positif. Toh, di grup whatsapp wali murid pun kami sudah berinteraksi, dan saat bertemu di sekolah masih saling bertegur sapa, dan mensupport satu sama lain dalam hal kepentingan sekolah anak. 

Sejauh ini kembali ke sekolah masih kami rasakan sebagai hal yang baik, menyenangkan, dan masih aman. 

Semoga keadaan dunia segera membaik, begitu juga dengan perekonomian. Agar kegiatan kembali ke sekolah menjadi hal yang menyenangkan bagi anak - anak kita di masa sekolahnya. 

Stay safe and keep healthy. 

Jangan lupa bahagia bersama keluarga !