Sabtu, 23 Maret 2019

Together We Were Stronger

Together stronger

(My song for Hikaru)

Yang aku tahu ku harus tetap kuat
Yang aku tahu ku harus terus berjuang
Yang aku tahu dirimu adalah alasan
Aku kuat, ku berjuang, untukmu hey yg tersayang
Engkau ada, didunia bukan tuk sia sia
Dan aku berharap, kau kan bangga, telah ada...

Ada orang berkata kita bukan apa-apa
Ada mereka mencela kita bukan siapa siapa
Tapi selama kita bersama dan satukan rasa together we will be stronger

Aku kuat, ku berjuang, untukmu hey yang tersayang
Engkau ada, didunia bukan tuk sia sia
Dan aku berharap, kau kan bangga telah ada...

Percayalah...
Suatu hari nanti kita kan punya segalanya
Suatu hari nanti kita kan jadi berguna
Biar saja jika kita berbeda, cause
Together we will be stronger...

Aku kuat, ku berjuang, untukmu hey yang tersayang (together we will stronger)
Engkau ada, didunia, bukan tuk sia sia (together we will be stronger)
Dan aku berharap, kau kan bangga telah ada...

Cause,
Together we will be stronger ...
Together we will be stronger ...
Together ... We will be stronger....

Rabu, 13 Maret 2019

Menikah Untuk Berpisah

Well, some absurd tittle maybe right ?!? Commonly people getting married to be together with their lover, tie the relationship in some comitment, and yess many things about love love and love in the early age of marriage haha.

But not all couple get that lucky thing called endless love in marriage.
Some of them forced to face the fact that not just happines and love which appeared in marriage life but also the new real bigger problem in life.

It doesn't easy to make 2 head with a different brain and different life background become connected one each other.

20/06/2019
Well, g semua orang akan menemukan cinta sejatinya dalam pernikahan. And mnrt gw g melulu benar bahwa pernikahan adalah akhir dr sebuah love journey.

Gw jg g ngerti banget sih ttg yg disebut dengan cinta sejati hehe i m not the love expert i knew it. But kata pencarian di google cinta sejati adalah dua orang yg saling mencintai dan saling mendampingi sampe akhir hayat. Hahai i dont know is it true or not, but for me kayaknya g gitu juga sih ya kalo melihat ke realitanya.

Ada case dimana pasangan yg mendampingi di hari kematiannya itu bukan krn cinta sejati tapi buat mastiin bahwa orang yg bikin dia menderita selama ini already really gone for sure and won't hurt him/her anymore in this life atau yg berharap bs lebih bebas menikmati harta peninggalan (jika ada)  🤣🤣🤣 wew so sorry if it is sound so insane, but i found it in real life 😁 makanya gw g terlalu percaya dengan yg gue dapet dari hasil googling hahaha.

😪 Why telling about love is always make me exhausting quickly. Cont later...

Senin, 11 Maret 2019

Alone or Lonely

Got this part when listening to Sam Smith - Dancing with the stranger.


" Moms, it's okay for you to stop feeling guilty for your son/s' dad not being in the household. You can raise your son/s to be exceptional just like the single mothers of President Barack Obama, Les Brown and Tom Cruise did. In fact, a large percentage of strong men credit their moms for successful development. All you have to do is have high expectations, learn the best ways to discipline, love and empower boys. "

Allow Dr. Alduan Tartt, nationally recognized positive psychologist, parenting/teen expert and former board member of the 100 Black Men of America show you how.

Jumat, 08 Maret 2019

Ukhti Idola

In this empty bed when I'm alone, I've been such a mess
Anywhere you are is where I want to go, You are my address
I don't care how I get it
Need one way ticket home


Refrain dari lagu One Ok Rock berjudul One Way Ticket tiba-tiba mengalun memecah keseriusanku menatap layar komputer di meja kerjaku, tentu saja hal tersebut juga mengundang beberapa tatapan mata tetangga meja kerjaku, kuraih ponselku yang lupa kuubah silent mode, sederet nomor telepon provider Indosat tertera dilayarnya.

" Wah nomor siapa ini ya?" tanyaku dalam hati.

Refrain One Way Ticket mengalun kembali untuk yang kedua kalinya, dan kali ini membuat Eva teman sebelahku memundurkan kursinya hingga membuatnya cukup terlihat disebelahku, situasi kantoran kubikel memungkinkan kami untuk saling bicara disela bekerja.

" Telepon dari siapa sih kak? coba angkat !" Tanya Eva
" Gak tahu, gak ada namanya" jawabku datar
" Ya udah paling enggak matiin kalo gak mau diangkat, brisik tahu" celotehnya.
Kutekan tombol telepon hijau pada layar ponselku dan mendekatkannya ke telinga.

"Ha..." kata sapaanku terpotong cepat oleh satu suara asing
" Salamualaikum, kak Ciput" terdengar riang sekali suara tersebut
"Waalaikum salam, siapa ya ini?" tanyaku
" Kak Ciput kan ini, Akira Putria yang dulu di Darussalam?" Tanyanya masih dengan nada bersemangat dan membuatku cukup terkejut.

"Eh iya, kok tahu, maaf ini siapa y?" kuulangi pertanyaanku
"Ini Iga kak, dulu mondok di ma'had juga" jawabnya
"Oh iya kah, Iga yang mana ya?" tanyaku hati-hati, karena sungguh aku benar-benar belum mengingat siapa orang yang berbicara di speaker ponselku saat ini.

"iih Antum kan ukhtii waktu di ma'had" jawabnya.
"What?" reflek aku sedikit mengernyitkan dahi
"hahaha iya kak, ini Iga yang dari Surabaya. Waktu di ma'had kita kan segudep sebelum Ana aladawam (berhenti sekolah di pondok pesantren)" jawab suara yang mengaku bernama Iga.

"ooh I see, yang ada tahi lalat di dagu bukan y?" Tanyaku
"iyaaa, yang pernah kasih surprise kakak waktu ulang tahun Kakak di gudep waktu kelas 4" celoteh Iga dengan riangnya, namun berhasil membuatku mendadak mengingat kembali sosok Iga Aisyah Lestari dan tentang momen tersebut dan kami pun tertawa, sekitar 10 menit akhirnya kuhabiskan waktu menjawab pertanyaan - pertanyaan Iga, kami bertukar kabar, dan sedikit bernostalgia tentang masa saat di pondok Darussalam dulu, sebagai timbal balik ku tanyakan pula tentang bagaimana dirinya saat ini, dan diakhiri dengan kesepakatan kami untuk saling follow akun sosial media Instagram.

Setelah Iga menutup teleponnya, sejenak aku tertegun dan merasa tak percaya bahwa setelah sekian lama, masih ada sosok yang mengingatku dengan kesan yang baik. Tiba-tiba fikiranku kembali mengingat ke masa itu saat masih bersekolah di sebuah pondok pesantren khusus putri di sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur bernama Darussalam, sekolah sistem pesantren yang terkenal memiliki kurikulum berbeda dari sekolah lainnya di negeri ini, disiplin dan peraturan yang cukup ketat namun positif, plus sistem organisasi apik dengan kegiatan yang variatif, bahkan bisa dibilang Hogwartnya nusantara dengan sistem islam, masih ingat kan Hogwart di buku Harry Potternya JK Rowling.

Diriku kala itu bisa dibilang meski merasa murid biasa saja namun bagi beberapa orang nampaknya meninggalkan kesan tersendiri khususnya adik kelas.

Kala itu aku yang memang seringkali secara sengaja atau tidak sengaja terlibat dalam beragam aktifitas non exact cukup sering terlihat di khalayak pelajar santriwati Darussalam, didukung oleh nama yang terdengar tidak pasaran dan sering dianggap aneh tapi justru menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang membuatku cukup diingat baik teman se-angkatan, kakak kelas, dan tentu saja adik kelas.

Oia, let me tell u tentang satu rules pergaulan di Darussalam, yaitu tentang panggilan, jadi ada satu larangan untuk memanggil orang lain khususnya kakak kelas atau orang yang lebih tua dengan panggilan aliasnya, sebenarnya secara umum memang tidak dibolehkan juga sih untuk menggunakan panggilan buruk, dan sudah dijelaskan juga sebenarnya dalam Al-Quran surat Al Hujuraat ayat 11

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim "

Nah tapi memang untuk keakraban kadang beberapa orang memiliki nama alias yang acapkali lebih beken daripada nama aslinya dan beberapa kadang terkesan kurang sopan. Tapi di Darussalam para adik kelas tidak diperkenankan untuk memanggil atau menyebut nama orang yang lebih tua darinya dengan panggilan alias tersebut, bagi yang melanggarnya ya bisa dikategorikan tidak sopan. 

Aku sendiri tentu saja tidak luput dari yang namanya panggilan alias, tapi alhamdulillah nama aliasku Ciput tidak terlalu melenceng dari nama asliku Akira Putria, dan aku pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Tapi untuk kesopanan maka adik kelas atau yang bukan kawan akrab seangkatanku akan memanggil dengan nama resmi ku.

Menjadi kakak kelas bukan lah perkara mudah karena dituntut untuk siap menjadi suri tauladan dan siap memimpin di berbagai aspek keseharian hidup sebagai santriwati. Dan memang sudah seperti itu siklusnya, ketika masih di kelas awalpun aku merasakan bagaimana dipimpin oleh kakak kelas baik dalam hal berorganisasi maupun sehari-hari. 

Aku sendiri tergolong yang cukup sering terkena tunjuk ataupun terpilih menjadi ketua suatu kegiatan, dan membuatku yang sebenarnya pendiam dan introvert mau tidak mau berinteraksi dengan adik kelas. Dan resiko dari dikenal adik kelas adalah seringkali menjadi berkelanjutan diluar atau setelah kegiatan tersebut berakhir. Hal tersebut membuat tidak sedikit dari rekan angkatanku menganggapku termasuk populer hanya karena sering disapa adik kelas. 

"Salamualaikum Ukhti Putri" sapa beberapa orang yang berpapasan denganku saat sedang berjalan menuju kantor administrasi yang berjarak sekitar 800 meter dari ruang kelasku bersama beberapa rekan sekelasku Meitadan Santi.
"Waalaikum salam" jawabku dengan sedikit senyum datar mencoba tetap menjadi manusia normal, meski kadang berharap agar bisa tidak terlihat saat sedang berjalan keluar kamarku. 
Lalu merekapun berlalu dengan senyum senyum simpul yang entah apa artinya dalam fikiran mereka, membuatku kadang tidak nyaman juga sebenarnya. 

"Wah kudu siap siap nih kita" Santi tiba tiba berseru 
"Siap siap buat apa?" Tanya Meita 
"Siap siap di salamualaikumin ukhti shogir (adik lebih kecil atau muda) sampe depan administrasi" jawab Santi sambil melirik ke arahku, dan membuatku menatapnya tidak mengerti.
"Oh I see, kita jalan sama ukhti almasyhuroh sih ya hahaha" respon Meita sambil tertawa 
"Apaan sih kalian, gak sepopuler itu juga kali diriku. y udah yuk cepetan jalannya ke kantor administrasi" jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Meski ya memang perkataan mereka menjadi kenyataan sepanjang perjalanan kami banyak adik kelas yang menyapa kami, oke diriku lebih tepatnya, dan membuat Santi dan Meita menahan tawa karena merasa benar. 

Menjadi dikenal tidak selalu membuatku senang, karena saat melakukan kesalahan meski mungkin sepele akan menjadi lebih mudah diketahui orang lain dan menjadi sesuatu yang sepertinya masalah besar. Like one day ;

" Hope to be coming Akira Putria to CLI Room after sunset praying " Suara bagian pengumuman Organisasi pelajar menggema di masjid selepas menunaikan sholat petang itu.
" Okay, what's the matter now?" tanyaku dalam hati
" Put, your name?" ujar Kania sahabatku
" yes it is" jawabku dengan senyum yakin namun getir, sambil berdiri sembari melipat sajadahku diiringi tatapan penuh tanya dan mungkin juga doa dari Kania.
Aku meninggalkan Kania yang harus mengikuti pengajian rutin ba'da magrib di masjid setiap hari Kamis. Kuturuni tangga masjid dan menuju CLI Room di gedung bernama Syanggit yang bersebrangan dengan masjid, masih dengan mengenakan mukena atasanku.

Oia di pondok Darussalam mewajibkan kami para santriwatinya untuk berbahasa Arab dan Inggris sesuai dengan jadwalnya dalam kehidupan kami sehari-hari, kami tidak diperkenankan berbahasa Indonesia selain untuk momen momen tertentu saja dan hal tersebut dimaksudkan untuk mengasah kemampuan bahasa asing santriwatinya agar siap berkomunikasi dengan siapapun selepas sekolah. Dan CLI yang merupakan singkatan dari Central Language Improvement ada sebagai bagian dari organisai pelajar di pondok ini untuk menjadi penegak disiplin dalam berbahasa tersebut, dan tentu saja akan ada teguran dan hukuman bagi setiap pelanggar peraturan termasuk peraturan berbahasa ini.

Sesampainya di kantor CLI aku disambut oleh seorang kakak kelas yang kuketahui bernama Aira duduk di kursi serambi kantor CLI.
" Akira Putri right ? Class 3 B and from Maghrib Hostel (nama ruang asramaku) ?" dia menyapaku sambil memperhatikan secarik kertas di tangannya, reflek aku mendekatinya dan menganggukkan kepalaku.
" yes I am " jawabku
" Did you know the reason we call your name?" tanya Kak Aira dengan sorot mata yang lumayan mengintimidasi dalam pandanganku.
Sejenak aku berfikir apa saja kata yang sudah kuucapkan hari ini, tapi sayangnya aku tidak merasa ada yang salah dengan ucapanku hari ini.
" I'm sorry, I don't know " jawabku jujur
" u don't feel that u have did some mistake ?" tanyanya dengan nada mulai meninggi membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah kulakukan hari ini, dan aku hanya merespon perkataan Kak Aira dengan gelengan kepala.

Kulihat Kakak CLI yang sebenarnya cukup disegani banyak adik kelas ini membaca selembar kertas tipis abu abu yang kuduga adalah spy paper report selembar kertas berbahaya dan biasanya digunakan pelanggar lain yang mendapatkan hukuman untuk menjadi mata mata bagi siapapun yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan ucapa atau dalam peraturan berbahasa. 

" I just got this paper today and written your name on it, I wonder how could you forgot the mistake u just did " ujar kak Aira yang menurutku adalah salah satu Anggota CLI yang cukup disegani banyak adik kelas. 

" I really don't remember, I m so sorry sister " jawabku masih dengan ekspresi penuh tanya. 
" Ok listen, right here written Akira Putria 4C spoke bahasa when first resting of class in front of Mufadhol building" Kak Aira menjelaskan dengan nada suara agak tinggi dari sebelumnya, nampaknya dia mulai kesal dengan diriku kali ini. 

Hal lain yang seringkali membuat tidak nyaman adalah dalam organisasi atau kegiatan maka biasanya orang lebih dikenal akan dimajukan untuk menjadi ketua dari organisasi atau kegiatan tersebut, dimana menjadi kepala atau ketua bukanlah hal yang sepele karena porsi tanggung jawabnya. 






Rabu, 06 Maret 2019

Live Without Haris ( a part of In The Name of Friendzone )

Prolog 

Haris, a name that I didn't think before  that I'll remember in my future.

Seorang pria sederhana dengan efek yang bisa dirasa luar biasa dalam hidup gue meski dia bukan seseorang yang pernah memiliki ikatan khusus dengan gue.

Pertama kali kenal pria ini ketika masa sekolah menengah atas yang gue jalani di salah satu pondok pesantren modern di jawa timur, waktu itu gue kelas 6 yang setara dengan siswi SMA kelas 3. Seorang adik kelas mengirimkan foto dan biodata singkat gue ke salah satu majalah islam remaja yang sedang hits kala itu tahun 2000an awal, kemudian terpampanglah foto lugu gue dengan biodata yang berisi nama, alamat rumah, sekolah, nomor telepon, hobi, dan cita cita. Mulanya gue gak tahu tentang hal itu sampai kemudian seorang ustadzah atau guru mengucapkan selamat karena terpampang di salah satu halaman majalah tersebut sebagai pembaca terpilih edisi kesekian (gue udh g ingat lagi detilnya) dan artinya akan ada banyak orang yang melihat selain ustadzah tersebut, usut punya usut ternyata memang ada sekelompok adik kelas yang melakukannya tanpa maksud aneh aneh karena toh mereka pun g mengangkaa akan terpilih, tapi nasi sudah menjadi bubur ya sudahlah gue g ambil pusing dengan hal tersebut yang saat ini mungkin beken dengan istilah 'prank' tersebut, karena gue pikir toh I m safe in this boarding school no one will recognize me a lot juga. 

But, one day gue menerima paket yang tidak biasa, tertulis pengirimnya Mama Papa (wait I never call my father with papa actually) alamat nya betul alamat rumah ortu gue. Paketnya tapi tidak besar, bukan kardus indomie sebagaimana yg biasa diberikan ortu gue, melainkan kardus 0


Gue ketemu lagi dengan pria ini dimasa gue kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, waktu itu gue baru semester empat FISIP jurusan Hubungan Internasional

Selasa, 05 Maret 2019

Nyimak lagunya Skylar Grey - Everything I Need

Pagi ini pas gue perjalanan ke kantor, someone sent me a link of some song, pas gue liat sih Skylar Grey - Everything I Need. Setau gue ost nya film Aquaman yg rilis bbrp waktu lalu tapi gue g sempet nonton. Dan gue jg g ngeh bgt lagunya kek mana.

Gue ceklah di aplikasi joox, well kalo nyimak dr liriknya nih lagu melow telling about someone yg start ke dunia dgn unhappy story tp doi dibutuhin bg seseorang.

Anjir knp sekarang gue mendadak ngerasa basah di mata ya dengerin ni lagu 😅 jijik banget kalo gue in the mode of touchable by a sad song.

G paham sih knp gue dikirimin lagu ini oleh beliau yg dirahasiakan 🤣. Dan td pas awal dengerin di kereta gue malah merasa bete dan lil bit in anger, apaan sih digombalin pagi pagi, eneg bgt, drop mood gue dr biasa aja ke pengen udahan kenal beliau.

Soalnya terdengar bulshit bgt kalo lirik di lagu Skylar ini di kaitkan ke perasaan doi, krn g berbanding lurus dgn realita dan tindakan yg sudah terjadi 😂. Gatel banget tangan pengen blokir wa nya tu beliau tp belom kelakon juga sih smp detik ini.

Tadi sih gue udh kirimin lagu balasan yaitu Take what u want nya One Ok Rock, I don't care itu cocok atau enggak, pokoknya itu yg lagi gue denger pagi tadi jd gue kirim itu lagu sbg bentuk kekesalan gue.

Trus mendadak gue merasa diingatkan lagi ttg penyesalan dlm hidup gue yaitu; menikah, menikah, dan pulang ke rumah ortu with Hikaru.

Oia beliau itu siapa sih? Dirahasiakan sih. But sbnrnya ada di bbrp crita crita gue diblog ini.

Does Father's Karma exist?

Gue Dian, anak perempuan sulung di sebuah kluarga, gue mulanya g ngeh dan g peduli dgn anggapan or mitos kalo apa yg pernah dilakuin cowo semasa hidupnya or semasa jomblonya maka bisa ng-impact ke anak perempuannya kelak.

But, i start to think about it since something happen in my life, the worst thing that I never think about before, something that actually I ever afraid about, happen to me suddenly and so quickly, and almost made me loosing my faith, seriously my faith.

It's what people said as Karma, do u think karma really does exist? I m not so sure actually. But I'll tell u the story of me, Dian.

Cross The Lovers Line

Cerita cinta young adult, let me think about the figures name.

Inspiration from Meghan Trainor album The Love Train.

Ungkapan cross the lover line mean berubahnya status sebuah hubungan dari apa menjadi ke jenjang lainnya yg biasanya lebih tinggi atau serius.

Sabtu, 02 Maret 2019

Rumitnya Jadi Wali Murid

2 maret 2019

Hari ini gw nganter hikaru tes tulis masuk sekolah dasar, yg x ini di MI. Gw n hikaru start kluar rumah jam 8 dan sampe sekolahan sekitar 8.10 pake Gojek. Udah rame.

Honestly gw emang kurang bergaul sih di kawasan tempat tinggal sini, trlebih sejak punya anak tapi g pernah resepsi, bukan karena takut akan gunjingan orang tapi lebih ke males aja memang.

Jadi pas di calon sekolah Hikaru pun gw g kenal siapapun, but thanks god my son is a humble and friendly human plus popular (in fact) jadi dia seperti menenangkan gw (yg sbnrnya biasa aja juga sih) di tempat asing yg ramai ini.

Lucunya klo biasanya ortu yg ngenalin anaknya ke org lain yg dy kenal pas dlm suatu pertemuan, itu g berlaku bagi gue di banyak moment ahahha seringkali Hikaru lah yg pertama kali kenal seseorang lalu memperkenalkan gue sebagai Ibunya 😊 really such a nice thing I've got in life as mom, perasaan yg agak lebay sih mungkin bagi bbrp org, tp buat gw yg jarang di-akuin orang sbg someone importantnya ke orang lain, itu happines banget, terlebih sm anak sendiri 😍.

Hikaru ngenalin gw ke bbrapa anak sebayanya yg otomatis ngenalin gw ke mama nya itu anak haha, dan ya hal tersebut membuat gw jd mau g mau punya temen berbincang selama Hikaru menjalani tes di dalam kelas y jd g kliatan trlalu aneh dan ansos lah gw akhirnya hehehe.

Setelah anak anak calon pelajar masuk ke ruang tes dan para ortu diminta menunggu diluar, nah y bbrp ortu anak kenalannya Hikaru nyapa gue yg hampir rata rata bilang 'baru tau mamanya Hikaru, y ampun masih muda y ternyata, pernah liat cuma kirain bukan mamanya Hikaru' dalam hati gw 'lha trus gw ini sapa yak !?!' but y sudahlah, senyumin ajah toh bukan salah mereka, bukan salah gue juga sih tapi hahaha. Ya obrolan ngalor ngidul ala emak emak buat ngisi waktu kosong nunggu anak gitulah kira kira sebenarnya , agak disayangkan sih krn g da briefing khusus buat para ortu dr pihak sekolah meski tes buat anak anak beneran serius bahkan bbrp ortu kliatan cemas banget ngalahin expresi grogi anaknya yg jalanin tes hehe ya that's parent dude 😊 oftenly feel more than their kids feel haha.

Obrolan ngalor ngidul yg mulanya seputar kondisi masing masing anak, persiapan buat ngadepin tes, prediksi hasil tes, pilihan sekolah lain, kegiatan emak emak di tempat les, tiba tiba brubah haluan ke masalah pasangan hidup gegara ternyata anak dites menulis data ortu mereka dan ada anak yg tiba tiba kluar dan manggil mamanya krn kyknya merasa g bs nulis bagian tersebut entah krn grogi atau bad mood mendadak, ya namanya juga bocah masih kecil br mau ngenal dunia sekolah lanjutan.

Well, gw jd tiba tiba worry sih ttg hikaru krn jarang bgt ngebahas perihal ortu ortu bgini, apalagi nulis nama ayahnya, omaygat 😌 meskipun bukan hal tabu tp ya memang jarang bgt disinggung sih hal ttg ayah bahkan namanya sekalipun. Gue sbg enak ngasih tau, udh ngasih tau, g da nutupin identitas ayah dy, cuma yaa gimana y, well sometimes we didn't think seriously about someone who doesn't exist physically near and seen in our daily right?!?, Can u get my mean?!? Meskipun tanpa mengurangi rasa respect dan care kami terhadap beliau yg tidak bersama kami tersebut.

Ok back to Hikaru, ke gue sih lbh tepatnya pas tau kenyataan tersebut, omaygat what Hikaru will answer that without confiousness, apa dia bakal kluar ruangan juga seperti anak yg sebelumnya gue liat? Atau menahan baper didalam sana sampe tes berakhir, seriously i have no idea meski gw udh siapin diri klo dy tiba tiba kluar dan memastikan his father name. But, Hikaru g kluar ruangan, he stay in there dan gue cuma bs doain terus agar doi feel comfort n fine jalanin tes sampe akhir.

Pas gw lagi sibuk sama kekhawatiran di hati gue sendiri, tiba tiba ada emak emak yg nanya

" Hikaru gimana udh diajarin blom nulis nama ayahnya ?"

Inside my heart 'ouch u pinch me lady'  sambil senyum yg entah gmn itu bentuk senyum gw sbnrnya, i told that emak emak ' Hikaru udah tau kok, insya allah dy bisa harus gimana' 😊 gue senyum diluar tapi retak didalam hahaha thats what I feel. 

"eh iya y kl g salah kan, ayahnya Hikaru g ada y"  sahut emak lain lagi.

'uwow what's the matter is this?!?' otomatis gue narik garis di dahi, kok berlanjut ke sana sih.