Prolog
Haris, a name that I didn't think before that I'll remember in my future.
Seorang pria sederhana dengan efek yang bisa dirasa luar biasa dalam hidup gue meski dia bukan seseorang yang pernah memiliki ikatan khusus dengan gue.
Pertama kali kenal pria ini ketika masa sekolah menengah atas yang gue jalani di salah satu pondok pesantren modern di jawa timur, waktu itu gue kelas 6 yang setara dengan siswi SMA kelas 3. Seorang adik kelas mengirimkan foto dan biodata singkat gue ke salah satu majalah islam remaja yang sedang hits kala itu tahun 2000an awal, kemudian terpampanglah foto lugu gue dengan biodata yang berisi nama, alamat rumah, sekolah, nomor telepon, hobi, dan cita cita. Mulanya gue gak tahu tentang hal itu sampai kemudian seorang ustadzah atau guru mengucapkan selamat karena terpampang di salah satu halaman majalah tersebut sebagai pembaca terpilih edisi kesekian (gue udh g ingat lagi detilnya) dan artinya akan ada banyak orang yang melihat selain ustadzah tersebut, usut punya usut ternyata memang ada sekelompok adik kelas yang melakukannya tanpa maksud aneh aneh karena toh mereka pun g mengangkaa akan terpilih, tapi nasi sudah menjadi bubur ya sudahlah gue g ambil pusing dengan hal tersebut yang saat ini mungkin beken dengan istilah 'prank' tersebut, karena gue pikir toh I m safe in this boarding school no one will recognize me a lot juga.
But, one day gue menerima paket yang tidak biasa, tertulis pengirimnya Mama Papa (wait I never call my father with papa actually) alamat nya betul alamat rumah ortu gue. Paketnya tapi tidak besar, bukan kardus indomie sebagaimana yg biasa diberikan ortu gue, melainkan kardus 0
Gue ketemu lagi dengan pria ini dimasa gue kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, waktu itu gue baru semester empat FISIP jurusan Hubungan Internasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar