In this empty bed when I'm alone, I've been such a mess
Anywhere you are is where I want to go, You are my address
I don't care how I get it
Need one way ticket home
Refrain dari lagu One Ok Rock berjudul One Way Ticket tiba-tiba mengalun memecah keseriusanku menatap layar komputer di meja kerjaku, tentu saja hal tersebut juga mengundang beberapa tatapan mata tetangga meja kerjaku, kuraih ponselku yang lupa kuubah silent mode, sederet nomor telepon provider Indosat tertera dilayarnya.
" Wah nomor siapa ini ya?" tanyaku dalam hati.
Refrain One Way Ticket mengalun kembali untuk yang kedua kalinya, dan kali ini membuat Eva teman sebelahku memundurkan kursinya hingga membuatnya cukup terlihat disebelahku, situasi kantoran kubikel memungkinkan kami untuk saling bicara disela bekerja.
" Telepon dari siapa sih kak? coba angkat !" Tanya Eva
" Gak tahu, gak ada namanya" jawabku datar
" Ya udah paling enggak matiin kalo gak mau diangkat, brisik tahu" celotehnya.
Kutekan tombol telepon hijau pada layar ponselku dan mendekatkannya ke telinga.
"Ha..." kata sapaanku terpotong cepat oleh satu suara asing
" Salamualaikum, kak Ciput" terdengar riang sekali suara tersebut
"Waalaikum salam, siapa ya ini?" tanyaku
" Kak Ciput kan ini, Akira Putria yang dulu di Darussalam?" Tanyanya masih dengan nada bersemangat dan membuatku cukup terkejut.
"Eh iya, kok tahu, maaf ini siapa y?" kuulangi pertanyaanku
"Ini Iga kak, dulu mondok di ma'had juga" jawabnya
"Oh iya kah, Iga yang mana ya?" tanyaku hati-hati, karena sungguh aku benar-benar belum mengingat siapa orang yang berbicara di speaker ponselku saat ini.
"iih Antum kan ukhtii waktu di ma'had" jawabnya.
"What?" reflek aku sedikit mengernyitkan dahi
"hahaha iya kak, ini Iga yang dari Surabaya. Waktu di ma'had kita kan segudep sebelum Ana aladawam (berhenti sekolah di pondok pesantren)" jawab suara yang mengaku bernama Iga.
"ooh I see, yang ada tahi lalat di dagu bukan y?" Tanyaku
"iyaaa, yang pernah kasih surprise kakak waktu ulang tahun Kakak di gudep waktu kelas 4" celoteh Iga dengan riangnya, namun berhasil membuatku mendadak mengingat kembali sosok Iga Aisyah Lestari dan tentang momen tersebut dan kami pun tertawa, sekitar 10 menit akhirnya kuhabiskan waktu menjawab pertanyaan - pertanyaan Iga, kami bertukar kabar, dan sedikit bernostalgia tentang masa saat di pondok Darussalam dulu, sebagai timbal balik ku tanyakan pula tentang bagaimana dirinya saat ini, dan diakhiri dengan kesepakatan kami untuk saling follow akun sosial media Instagram.
Setelah Iga menutup teleponnya, sejenak aku tertegun dan merasa tak percaya bahwa setelah sekian lama, masih ada sosok yang mengingatku dengan kesan yang baik. Tiba-tiba fikiranku kembali mengingat ke masa itu saat masih bersekolah di sebuah pondok pesantren khusus putri di sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur bernama Darussalam, sekolah sistem pesantren yang terkenal memiliki kurikulum berbeda dari sekolah lainnya di negeri ini, disiplin dan peraturan yang cukup ketat namun positif, plus sistem organisasi apik dengan kegiatan yang variatif, bahkan bisa dibilang Hogwartnya nusantara dengan sistem islam, masih ingat kan Hogwart di buku Harry Potternya JK Rowling.
Anywhere you are is where I want to go, You are my address
I don't care how I get it
Need one way ticket home
Refrain dari lagu One Ok Rock berjudul One Way Ticket tiba-tiba mengalun memecah keseriusanku menatap layar komputer di meja kerjaku, tentu saja hal tersebut juga mengundang beberapa tatapan mata tetangga meja kerjaku, kuraih ponselku yang lupa kuubah silent mode, sederet nomor telepon provider Indosat tertera dilayarnya.
" Wah nomor siapa ini ya?" tanyaku dalam hati.
Refrain One Way Ticket mengalun kembali untuk yang kedua kalinya, dan kali ini membuat Eva teman sebelahku memundurkan kursinya hingga membuatnya cukup terlihat disebelahku, situasi kantoran kubikel memungkinkan kami untuk saling bicara disela bekerja.
" Telepon dari siapa sih kak? coba angkat !" Tanya Eva
" Gak tahu, gak ada namanya" jawabku datar
" Ya udah paling enggak matiin kalo gak mau diangkat, brisik tahu" celotehnya.
Kutekan tombol telepon hijau pada layar ponselku dan mendekatkannya ke telinga.
"Ha..." kata sapaanku terpotong cepat oleh satu suara asing
" Salamualaikum, kak Ciput" terdengar riang sekali suara tersebut
"Waalaikum salam, siapa ya ini?" tanyaku
" Kak Ciput kan ini, Akira Putria yang dulu di Darussalam?" Tanyanya masih dengan nada bersemangat dan membuatku cukup terkejut.
"Eh iya, kok tahu, maaf ini siapa y?" kuulangi pertanyaanku
"Ini Iga kak, dulu mondok di ma'had juga" jawabnya
"Oh iya kah, Iga yang mana ya?" tanyaku hati-hati, karena sungguh aku benar-benar belum mengingat siapa orang yang berbicara di speaker ponselku saat ini.
"iih Antum kan ukhtii waktu di ma'had" jawabnya.
"What?" reflek aku sedikit mengernyitkan dahi
"hahaha iya kak, ini Iga yang dari Surabaya. Waktu di ma'had kita kan segudep sebelum Ana aladawam (berhenti sekolah di pondok pesantren)" jawab suara yang mengaku bernama Iga.
"ooh I see, yang ada tahi lalat di dagu bukan y?" Tanyaku
"iyaaa, yang pernah kasih surprise kakak waktu ulang tahun Kakak di gudep waktu kelas 4" celoteh Iga dengan riangnya, namun berhasil membuatku mendadak mengingat kembali sosok Iga Aisyah Lestari dan tentang momen tersebut dan kami pun tertawa, sekitar 10 menit akhirnya kuhabiskan waktu menjawab pertanyaan - pertanyaan Iga, kami bertukar kabar, dan sedikit bernostalgia tentang masa saat di pondok Darussalam dulu, sebagai timbal balik ku tanyakan pula tentang bagaimana dirinya saat ini, dan diakhiri dengan kesepakatan kami untuk saling follow akun sosial media Instagram.
Setelah Iga menutup teleponnya, sejenak aku tertegun dan merasa tak percaya bahwa setelah sekian lama, masih ada sosok yang mengingatku dengan kesan yang baik. Tiba-tiba fikiranku kembali mengingat ke masa itu saat masih bersekolah di sebuah pondok pesantren khusus putri di sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur bernama Darussalam, sekolah sistem pesantren yang terkenal memiliki kurikulum berbeda dari sekolah lainnya di negeri ini, disiplin dan peraturan yang cukup ketat namun positif, plus sistem organisasi apik dengan kegiatan yang variatif, bahkan bisa dibilang Hogwartnya nusantara dengan sistem islam, masih ingat kan Hogwart di buku Harry Potternya JK Rowling.
Diriku kala itu bisa dibilang meski merasa murid biasa saja namun bagi beberapa orang nampaknya meninggalkan kesan tersendiri khususnya adik kelas.
Kala itu aku yang memang seringkali secara sengaja atau tidak sengaja terlibat dalam beragam aktifitas non exact cukup sering terlihat di khalayak pelajar santriwati Darussalam, didukung oleh nama yang terdengar tidak pasaran dan sering dianggap aneh tapi justru menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang membuatku cukup diingat baik teman se-angkatan, kakak kelas, dan tentu saja adik kelas.
Oia, let me tell u tentang satu rules pergaulan di Darussalam, yaitu tentang panggilan, jadi ada satu larangan untuk memanggil orang lain khususnya kakak kelas atau orang yang lebih tua dengan panggilan aliasnya, sebenarnya secara umum memang tidak dibolehkan juga sih untuk menggunakan panggilan buruk, dan sudah dijelaskan juga sebenarnya dalam Al-Quran surat Al Hujuraat ayat 11
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim "
Nah tapi memang untuk keakraban kadang beberapa orang memiliki nama alias yang acapkali lebih beken daripada nama aslinya dan beberapa kadang terkesan kurang sopan. Tapi di Darussalam para adik kelas tidak diperkenankan untuk memanggil atau menyebut nama orang yang lebih tua darinya dengan panggilan alias tersebut, bagi yang melanggarnya ya bisa dikategorikan tidak sopan.
Aku sendiri tentu saja tidak luput dari yang namanya panggilan alias, tapi alhamdulillah nama aliasku Ciput tidak terlalu melenceng dari nama asliku Akira Putria, dan aku pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Tapi untuk kesopanan maka adik kelas atau yang bukan kawan akrab seangkatanku akan memanggil dengan nama resmi ku.
Kala itu aku yang memang seringkali secara sengaja atau tidak sengaja terlibat dalam beragam aktifitas non exact cukup sering terlihat di khalayak pelajar santriwati Darussalam, didukung oleh nama yang terdengar tidak pasaran dan sering dianggap aneh tapi justru menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang membuatku cukup diingat baik teman se-angkatan, kakak kelas, dan tentu saja adik kelas.
Oia, let me tell u tentang satu rules pergaulan di Darussalam, yaitu tentang panggilan, jadi ada satu larangan untuk memanggil orang lain khususnya kakak kelas atau orang yang lebih tua dengan panggilan aliasnya, sebenarnya secara umum memang tidak dibolehkan juga sih untuk menggunakan panggilan buruk, dan sudah dijelaskan juga sebenarnya dalam Al-Quran surat Al Hujuraat ayat 11
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim "
Nah tapi memang untuk keakraban kadang beberapa orang memiliki nama alias yang acapkali lebih beken daripada nama aslinya dan beberapa kadang terkesan kurang sopan. Tapi di Darussalam para adik kelas tidak diperkenankan untuk memanggil atau menyebut nama orang yang lebih tua darinya dengan panggilan alias tersebut, bagi yang melanggarnya ya bisa dikategorikan tidak sopan.
Aku sendiri tentu saja tidak luput dari yang namanya panggilan alias, tapi alhamdulillah nama aliasku Ciput tidak terlalu melenceng dari nama asliku Akira Putria, dan aku pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Tapi untuk kesopanan maka adik kelas atau yang bukan kawan akrab seangkatanku akan memanggil dengan nama resmi ku.
Menjadi kakak kelas bukan lah perkara mudah karena dituntut untuk siap menjadi suri tauladan dan siap memimpin di berbagai aspek keseharian hidup sebagai santriwati. Dan memang sudah seperti itu siklusnya, ketika masih di kelas awalpun aku merasakan bagaimana dipimpin oleh kakak kelas baik dalam hal berorganisasi maupun sehari-hari.
Aku sendiri tergolong yang cukup sering terkena tunjuk ataupun terpilih menjadi ketua suatu kegiatan, dan membuatku yang sebenarnya pendiam dan introvert mau tidak mau berinteraksi dengan adik kelas. Dan resiko dari dikenal adik kelas adalah seringkali menjadi berkelanjutan diluar atau setelah kegiatan tersebut berakhir. Hal tersebut membuat tidak sedikit dari rekan angkatanku menganggapku termasuk populer hanya karena sering disapa adik kelas.
"Salamualaikum Ukhti Putri" sapa beberapa orang yang berpapasan denganku saat sedang berjalan menuju kantor administrasi yang berjarak sekitar 800 meter dari ruang kelasku bersama beberapa rekan sekelasku Meitadan Santi.
"Waalaikum salam" jawabku dengan sedikit senyum datar mencoba tetap menjadi manusia normal, meski kadang berharap agar bisa tidak terlihat saat sedang berjalan keluar kamarku.
Lalu merekapun berlalu dengan senyum senyum simpul yang entah apa artinya dalam fikiran mereka, membuatku kadang tidak nyaman juga sebenarnya.
"Wah kudu siap siap nih kita" Santi tiba tiba berseru
"Siap siap buat apa?" Tanya Meita
"Siap siap di salamualaikumin ukhti shogir (adik lebih kecil atau muda) sampe depan administrasi" jawab Santi sambil melirik ke arahku, dan membuatku menatapnya tidak mengerti.
"Oh I see, kita jalan sama ukhti almasyhuroh sih ya hahaha" respon Meita sambil tertawa
"Apaan sih kalian, gak sepopuler itu juga kali diriku. y udah yuk cepetan jalannya ke kantor administrasi" jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Meski ya memang perkataan mereka menjadi kenyataan sepanjang perjalanan kami banyak adik kelas yang menyapa kami, oke diriku lebih tepatnya, dan membuat Santi dan Meita menahan tawa karena merasa benar.
Menjadi dikenal tidak selalu membuatku senang, karena saat melakukan kesalahan meski mungkin sepele akan menjadi lebih mudah diketahui orang lain dan menjadi sesuatu yang sepertinya masalah besar. Like one day ;
" Hope to be coming Akira Putria to CLI Room after sunset praying " Suara bagian pengumuman Organisasi pelajar menggema di masjid selepas menunaikan sholat petang itu.
" Okay, what's the matter now?" tanyaku dalam hati
" Put, your name?" ujar Kania sahabatku
" yes it is" jawabku dengan senyum yakin namun getir, sambil berdiri sembari melipat sajadahku diiringi tatapan penuh tanya dan mungkin juga doa dari Kania.
Aku meninggalkan Kania yang harus mengikuti pengajian rutin ba'da magrib di masjid setiap hari Kamis. Kuturuni tangga masjid dan menuju CLI Room di gedung bernama Syanggit yang bersebrangan dengan masjid, masih dengan mengenakan mukena atasanku.
Oia di pondok Darussalam mewajibkan kami para santriwatinya untuk berbahasa Arab dan Inggris sesuai dengan jadwalnya dalam kehidupan kami sehari-hari, kami tidak diperkenankan berbahasa Indonesia selain untuk momen momen tertentu saja dan hal tersebut dimaksudkan untuk mengasah kemampuan bahasa asing santriwatinya agar siap berkomunikasi dengan siapapun selepas sekolah. Dan CLI yang merupakan singkatan dari Central Language Improvement ada sebagai bagian dari organisai pelajar di pondok ini untuk menjadi penegak disiplin dalam berbahasa tersebut, dan tentu saja akan ada teguran dan hukuman bagi setiap pelanggar peraturan termasuk peraturan berbahasa ini.
Sesampainya di kantor CLI aku disambut oleh seorang kakak kelas yang kuketahui bernama Aira duduk di kursi serambi kantor CLI.
" Akira Putri right ? Class 3 B and from Maghrib Hostel (nama ruang asramaku) ?" dia menyapaku sambil memperhatikan secarik kertas di tangannya, reflek aku mendekatinya dan menganggukkan kepalaku.
" yes I am " jawabku
" Did you know the reason we call your name?" tanya Kak Aira dengan sorot mata yang lumayan mengintimidasi dalam pandanganku.
Sejenak aku berfikir apa saja kata yang sudah kuucapkan hari ini, tapi sayangnya aku tidak merasa ada yang salah dengan ucapanku hari ini.
" I'm sorry, I don't know " jawabku jujur
" u don't feel that u have did some mistake ?" tanyanya dengan nada mulai meninggi membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah kulakukan hari ini, dan aku hanya merespon perkataan Kak Aira dengan gelengan kepala.
Kulihat Kakak CLI yang sebenarnya cukup disegani banyak adik kelas ini membaca selembar kertas tipis abu abu yang kuduga adalah spy paper report selembar kertas berbahaya dan biasanya digunakan pelanggar lain yang mendapatkan hukuman untuk menjadi mata mata bagi siapapun yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan ucapa atau dalam peraturan berbahasa.
Menjadi dikenal tidak selalu membuatku senang, karena saat melakukan kesalahan meski mungkin sepele akan menjadi lebih mudah diketahui orang lain dan menjadi sesuatu yang sepertinya masalah besar. Like one day ;
" Hope to be coming Akira Putria to CLI Room after sunset praying " Suara bagian pengumuman Organisasi pelajar menggema di masjid selepas menunaikan sholat petang itu.
" Okay, what's the matter now?" tanyaku dalam hati
" Put, your name?" ujar Kania sahabatku
" yes it is" jawabku dengan senyum yakin namun getir, sambil berdiri sembari melipat sajadahku diiringi tatapan penuh tanya dan mungkin juga doa dari Kania.
Aku meninggalkan Kania yang harus mengikuti pengajian rutin ba'da magrib di masjid setiap hari Kamis. Kuturuni tangga masjid dan menuju CLI Room di gedung bernama Syanggit yang bersebrangan dengan masjid, masih dengan mengenakan mukena atasanku.
Oia di pondok Darussalam mewajibkan kami para santriwatinya untuk berbahasa Arab dan Inggris sesuai dengan jadwalnya dalam kehidupan kami sehari-hari, kami tidak diperkenankan berbahasa Indonesia selain untuk momen momen tertentu saja dan hal tersebut dimaksudkan untuk mengasah kemampuan bahasa asing santriwatinya agar siap berkomunikasi dengan siapapun selepas sekolah. Dan CLI yang merupakan singkatan dari Central Language Improvement ada sebagai bagian dari organisai pelajar di pondok ini untuk menjadi penegak disiplin dalam berbahasa tersebut, dan tentu saja akan ada teguran dan hukuman bagi setiap pelanggar peraturan termasuk peraturan berbahasa ini.
Sesampainya di kantor CLI aku disambut oleh seorang kakak kelas yang kuketahui bernama Aira duduk di kursi serambi kantor CLI.
" Akira Putri right ? Class 3 B and from Maghrib Hostel (nama ruang asramaku) ?" dia menyapaku sambil memperhatikan secarik kertas di tangannya, reflek aku mendekatinya dan menganggukkan kepalaku.
" yes I am " jawabku
" Did you know the reason we call your name?" tanya Kak Aira dengan sorot mata yang lumayan mengintimidasi dalam pandanganku.
Sejenak aku berfikir apa saja kata yang sudah kuucapkan hari ini, tapi sayangnya aku tidak merasa ada yang salah dengan ucapanku hari ini.
" I'm sorry, I don't know " jawabku jujur
" u don't feel that u have did some mistake ?" tanyanya dengan nada mulai meninggi membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah kulakukan hari ini, dan aku hanya merespon perkataan Kak Aira dengan gelengan kepala.
Kulihat Kakak CLI yang sebenarnya cukup disegani banyak adik kelas ini membaca selembar kertas tipis abu abu yang kuduga adalah spy paper report selembar kertas berbahaya dan biasanya digunakan pelanggar lain yang mendapatkan hukuman untuk menjadi mata mata bagi siapapun yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan ucapa atau dalam peraturan berbahasa.
" I just got this paper today and written your name on it, I wonder how could you forgot the mistake u just did " ujar kak Aira yang menurutku adalah salah satu Anggota CLI yang cukup disegani banyak adik kelas.
" I really don't remember, I m so sorry sister " jawabku masih dengan ekspresi penuh tanya.
" Ok listen, right here written Akira Putria 4C spoke bahasa when first resting of class in front of Mufadhol building" Kak Aira menjelaskan dengan nada suara agak tinggi dari sebelumnya, nampaknya dia mulai kesal dengan diriku kali ini.
Hal lain yang seringkali membuat tidak nyaman adalah dalam organisasi atau kegiatan maka biasanya orang lebih dikenal akan dimajukan untuk menjadi ketua dari organisasi atau kegiatan tersebut, dimana menjadi kepala atau ketua bukanlah hal yang sepele karena porsi tanggung jawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar