Penasaran dengan anak - anak tersebut, Hikaru mengikuti perlahan kemudian mengendap di pagar rumah tetangganya sambil berusaha melihat pada anak anak tersebut.
Kelima anak tersebut seperti membawa sesuatu namun tidak terlihat jelas.
Kelima anak tersebut terdengar sibuk dan gaduh.
"Eh eh ambil itu air air" perintah Andi anak paling besar diantara kelima anak tersebut.
Serta merta anak lainnya menuruti perintah Andi, di kelompok tersebut Andi spertinya cukup mendominasi karena anak lainnya terlihat takut padanya.
Tak lama terdengar suara
"Meong... meong... " Suara lemah seekor anak kucing terdengar parau bergema di halaman garasi.
Hikaru yang masih berada di tempat pengintaiannya terkejut mendengar suara tersebut, ia penasaran dengan apa yang sedang terjadi di area rumahnya namun ia juga tidak ingin membuat keributan dengan Andi dan teman temannya. Dengan perlahan Hikaru memberanikan diri berjalan ke arah tangga untuk kerumahnya,
"Pokoknya kalo ketahuan sama Andi, aku mau langsung lari kerumah" pikir Hikaru sambil terus melangkah menuju tangga agar dapat kerumahnya. Entah karena sibuk dengan apa yang mereka lakuka. Di sudur lain halaman garasi Andi dan teman - temannya tidak menyadari bila Hikaru melewati mereka dan menaiki tangga menuju ke lantai atas.
Ketika kakinya telah mencapai lantai atas Hikaru bergegas menuju pintu rumahnya yang untungnya tidak dikunci dilihatnya ibu sedang menyiapkan air hangat mandinya
"Pas banget udah pulang ayo man..." Kalimat ibu terpotong begitu saja.
" Ibu ibu, sini deh tolongin aku, cepet ibu kluar ke tangga trus bilang 'Hayo pada ngapain itu?' ayo cepet" ujar Hikaru dengan cepat sambil menarik tangan ibunya keluar rumah dengan tergesa.
Ibu melihat Hikaru dengan bingung namun belum sempat bertanya lagi
"Ayo bu, bilang yang kenceng 'hayo pada ngapain itu' itu ada anak anak di bawah" Hikaru kembali membujuk ibu.
Meskipun belum memahami dengan apa yang terjadi Ibu melakukan apa yang Hikaru minta
"Hey pada ngapain itu disitu?" Dengan suara dikeraskan ibu mengarahkan wajahnya ke arah halaman garasi bawah. Tak lama terdengar suara lari beberapa anak anak dengan riuhnya
"Eh ada orang ada orang... Ayo pergipergi" terdengar suara Andi memberikan komando pada teman temannya.
Setelah keriuhan mereda, ibu memandang Hikaru
"Ada apa y sebenarnya?" Tanya ibu
"Ssst...ssst.. ibu tunggu sini sebentar" ujar Hikaru, kemudian ia bergegas menuruni tangga menuju halaman garasi meninggalkan ibunya. Disana sudah sepi kembali namun terdengar suara parau anak kucing sayup sayup terdengar dari halaman namun Hikaru tidak melihat ada seekor anak kucing disana.
Hikaru berkeliling halaman garasi yang masih memantulkan suara parau seekor kucing namun belum terlihat wujudnya. Tiba tiba matanya tertuju pada satu undukan yang tidak biasanya terdapat di bagian parkiran motor di halaman tersebut.
Terlihat ada sebuah batako yang mengganjal plastik hitam yang menutupi sebuah benda berbentuk lengkungan seperti tudung saji. Hikaru melangkahkan kaki menuju benda tersebut dan suara kucing tersebut terdengar semakin jelas membuatnya yakin bahwa gundukan itu adalah sumber suara.
Hikaru mencoba memindahkan batako yang berada paling atas diantara tumpukan aneh tersebut, meski agak berat akhirnya Hikaru berhasil memindahkan batako tersebut. Disingkirkannya plastik hitam yang berada dibawah batako tersebut dan ternyata menutupi sebuah kerangka kipas angin dari besi yang berukuran besar didalamnya terdapat ember kecil berwara hijau.
"Duh kok basah embernya y?" Hikaru mengeluhkan kondisi benda dihadapannya. Terlihat ember hijau itu basah dan disekelilingnya ada cipratan semen yang biasa digunakan untuk membangun rumah.
Setelah beberapa saat terdiam, Hikaru akhirnya membuka ember hijau itu dan terlihatlah seekor anak kucing kecil sekali berwarna coklat oranye dengan motif belang meringkuk gemetar dengan tubuh dipenuhi lumuran semen adukan cair hingga mencapai lehernya, dilihatnya si kucing seperti merasakan kesakitan dan hampir tidak berdaya untuk menggerakkan tubuhnya.
"Kasihan baby kucing" ujar Hikaru melihat kucing tersebut. Ia menyentuh tubuh kucing itu dengan ujung telunjuknya terasa masih basah, ia teringat adegan di film kartun yang sering ditontonnya saat si tokoh kartun tidak sengaja menginjak aspal jalan yang masih basah kemudian terjebak dan tidak bisa bergerak setelah semennya mengering.
Semennya masih basah, masih bisa diangkat g ya?" Tanya Hikaru pada dirinya sendiri sementara kucing tersebut masih mengeong dengan suara parau seakan meminta pertolongan.
Tiba tiba terdengar suara ibu memanggil "Hikaru ngapain dibawah cepet mandi udah sore!"
"Aku tidak tahu harus bersihin kamu gimana, aku bawa pulang aja y" ujar Hikaru pada si kucing. Kemudian ia berusaha membersihkan beberapa plastik dan semen disekitar tubuh si kucing, hingga akhirnya ia berhasil mengangkat tubuh si kucing yang masih berlumuran semen basah tersebut, dengan hati hati Hikaru mendekap kucing itu kemudian membawanya naik tangga, si kucing menghentikan suaranya seakan tahu bahwa kini ia sedang ditolong.
Ibu melihat Hikaru muncul di pintu rumahnya dengan wajah bingung tangannya mendekap sesuatu yang basah dan kotor disertai dengan tetesan air kotor yang jatuh ke lantai rumah
"Ibu tolongin kucing ini y" pinta Hikaru kemudian membuka tangannya dan terlihat seekor anak kucing kotor yang nampak lemas.
"Waduh kenapa ini kucing? Ayo sini bawa ke kamar mandi, kita harus cepet mandiin"
Ibu meraih kucing coklat tersebut dari tangan Hikaru lalu membawanya ke kamar mandi diikuti oleh Hikaru.
"Hikaru ganti kaos aja dulu, udh basah itu" seru ibu melihat kondisi baju Hikaru.
Tanpa membantah Hikaru membuka kaosnya, kemudian melihat ibu membasuh kucing tersebut dengan shampo beberapa kali dan membilas dengan air agar tubuh si kucing bersih dari semen. Si kucing terus mengeong selama dimandikan namun tidak memberikan perlawanan apapun.
Setelah dibersihkan kucing tersebut terlihat gemetar karena dinginnya air,
"Ibu ada handuk yang sudah tidak terpakai?" Tanya Hikaru, sejenak ibu berfikir kemudian menjawab "pakai yang ungu saja itu nak" dengan sigap Hikaru mengambil handuk yang dimaksud menyerahkan pada ibu yang segera membungkus si kucing dengan handuk kering tersebut dan berusaha mengeringkan tubuhnya.
"Sekarang Hikaru mandi y" ujar ibu pada Hikaru yang bergegas masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ibu meletakkan si kucing cokelat di sebuah kardus kosong, namun kucing tersebut memilih untuk keluar kardus dan duduk di tikar. Sementara ibu dan Hikaru melanjutkan aktifitas seperti biasa.
Selepas isya kucing tersebut tertidur di atas tikar, mungkin kelelahan setelah apa yang dialaminya.
Hikaru bercerita pada ibu bagaimana ia dapat menemukan kucing malang tersebut, dan mempertanyakan kenapa Andi dan teman temannya melakukan hal tersebut.
"Kamu tahu rumahnya Andi tidak ?" Tanya ibu
"Tidak bu, kenapa?" Hikaru balik bertanya.
"Ooo, ya siapa tahu kita bisa coba bicara ke orang tuanya agar bisa menegur Andi" jawab ibu
"O begitu, sayangnya aku tidak tahu" ujar Hikaru dengan menyesal
" Ya sudah besok kalau kucingnya sudah sehat mudah mudahan dia bisa baik baik aja y" ujar ibu
"Tapi bu kalau kucingnya dinakalin Anak anak sini lagi bagaimana?" Tanya Hikaru khawatir
"Tapi kita kan tidak bisa memelihara kucingnya disini, karena kita harus kembali ke Depok karena ibu harus bekerja" jawab ibu.
Keluarga Hikaru memang tidak menetap dirumahnya di Bogor karena ibu harus bekerja ke Jakarta dan tidak mungkin meninggalkan Hikaru sendiri dirumah, sehingga saat hari kerja mereka menetap di rumah kakek nenek di Depok.
Hikaru terdiam, ia merasa sedih harus meninggalkan kucing kecil tersebut di halaman garasi lagi.
" Aku kasih dia nama Choco Neko soalnya warnanya cokelat, nanti aku akan tanya Eyang buat melihara Choco dirumah" ujar Hikaru mantap
" Ya sudah sekarang tidur dulu ya, nanti kita minta izin sama sama ke eyang" bujuk ibu pada Hikaru karena hari semakin malam. Sementara kucing kecil yang sekarang telah memiliki nama Choco Neko tersebut telah tertidur semakin pulas beralas tikar di kamar yang sama dengan mereka.
