Sejenak Harris terpaku dengan pertanyaan seorang perempuan di meja resepsionis kantornya,
"Maaf Bapak siapa?" Tanyanya dengan wajah menyelidik
Harris berdehem, sejurus kemudian ia sadar bila pegawainya yang satu ini tak mengenalnya bisa jadi karena bukanlah pegawai lama. Namun, bukankah seharusnya sudah ada pemberitahuan sebelumnya bahwa hari ini akan kedatangan seorang pemimpin, sehingga pegawai pun mestinya sudah mengetahui siapa yang akan bekerja dengan mereka.
Baru saja Harris hendak menjawab rasa ingin tahu sang resepsionis, sebuah suara memanggilnya,
"Pak Harris, selamat datang!"
Harris menoleh dan melihat sosok Batara, sekretaris ayahnya di kantor tersebut.
“Selamat pagi pak Batara!” balas Harris sambil tersenyum dan meraih uluran tangan Batara.
Batara Hendra, pria tiga puluh tahunan yang telah menjadi sekretaris ayahnya selama lima tahun belakangan ini. Harris sudah mengenal pria ini, karena selain pernah bertemu beberapa kali di kantor, Batara juga tak jarang mendatangi kediaman keluarga Owen di kota Bogor untuk urusan pekerjaan dengan tuan Danish.
Kedua pria itu saling bersalaman dan tersenyum, sementara sang resepsionis hanya terpaku melihat keduanya, karena tidak menyangka bila pria asing yang baru saja masuk ke kantor ini telah memiliki akses personal VIP. Kini ia hanya dapat menatap keduanya dari meja resepsionisnya.
“Perjalanan lancar pak? menyetir sendiri atau dengan pak Kahar?” tanya Batara ramah.
“Alhamdulillah lancar, saya bersama pak Kahar, untuk sementara ini akan di antar beliau.” jawab Harris.
“Benar, lebih santai ya pak!” ucap Batara yang dibalas dengan senyuman Harris
“Well, sebaiknya saya segera ke ruangan saya, lalu bisa kita meeting semua pegawai pada jam sepuluh nanti? saya rasa perlu memperkenalkan diri pada semua staf agar tidak terjadi kesalahpahaman saat saya tegur nanti.” ucap Harris
Batara mengangguk, “Bisa pak, saya sudah jadwalkan juga sebenarnya untuk bertemu seua pegawai. Mari kita ke ruangan bapak!”
Kedua pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan kantor, meninggalkan meja resepsionis dengan sang pegawai perempuan yang kini hanya dapat menggaruk kepalanya karena merasa tersindir dengan perkataan atasannya tersebut.
***
Harris dan Batara melewati ruang kerja kubikel pegawai, saat mereka lewat tak ayal lagi banyak mata yang tertuju pada sosok Harris, terlebih staff wanita.
“Eh, eh itu bos baru? duh ganteng banget sih.”
“Masih muda tahu, anaknya Mr. Danish.”
Harris mengabaikan suara-suara yang sampai di telinganya itu, ia terus melangkah bersama Batara menuju ruang kerjanya.
“Silakan pak!” ucap Batara membukakan pintu sebuah ruang kaca di ujung ruang kubikel pegawai.
Harris masuk ke ruangan tersebut, diikuti Batara.
“Masih sama.” ucap Harris sambil melihat sekeliling ruang kerjanya yang berukuran besar tersebut, ia melangkah menuju meja kerja dengan sebuah plat nama di atasnya.
“Kenapa sudah ada nama saya pak?” tanya Harris pada Batara sambil mengernyitkan dahi, ia pikir hanya menggantikan ayahnya sementara waktu.
“Instruksi dari Mr. Danish langsung pak, beliau minta agar selama bapak disini maka nama di meja ini haruslah nama pak Harris.” jawab Batara
“Stop calling me pak. It’s okay just call me with mas. Seperti yang biasa pak Batara lakukan saja sebelumnya.” ucap Harris sambil tersenyum
Barata tersenyum sungkan, ia hanya mengangguk, ia akui memang agak aneh memanggil anak dari komisaris perusahaan tempatnya bekerja ini dengan pak.
“Kan sekarang mas Harris sudah masuk ke ranah profesional disini, jadi selama di kantor saya harus memberikan contoh pada pegawai lain untuk tetap respect.” jawab Batara
Harris menganggukkan kepalanya, ia memahami posisi Batara,
“Oke, begini saja. Kalau di lingkup kantor boleh panggil pak, tapi kalau di luar kerjaan panggil mas saja biasa ya!”
Batara tersenyum dan mengangguk.
“Oh iya, saya sudah coba cek beberapa dokumen, sepertinya ada penurunan di bagian penjualan untuk dairy product. Dan ada overturn karyawan yang cukup tinggi dalam tiga bulan terakhir.” ucap Harris
“Mas serius sekali sepertinya.” puji Batara yang tidak menyangka bila dokumen laporan perusahaan yang ia berikan beberapa waktu lalu benar-benar membaca secara detail.
Harris menghela napas, ia duduk di kursi kerjanya dan menatap Batara lekat,
“Pak saya nggak punya banyak waktu, Mr. Danish hanya memberikan satu hingga tiga bulan kedepan pada saya untuk menguji coba diri saya sendiri, apakah saya mampu untuk mengurus perusahaan ini kedepannya.”
Batara tersenyum, ia tahu tidaklah mudah bagi pemuda di hadapannya ini untuk menghadapi tekanan dari keluarganya.
“Saya percaya mas Harris bisa menangani semua yang ada di sini. Saya juga akan bantu apapun yang mas Harris perlukan terkait perusahaan.” ucap Batara berusaha meyakinkan Harris.
Pria dua puluh tiga tahun itu tersenyum dan menganggukkan kepala,
“Aku pasti akan membutuhkan banyak bantuanmu pak.”
“Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan, satu jam lagi saya akan kembali ke sini dan kita akan meeting bersama semua pegawai untuk pengenalan mas Harris.” ujar Batara
“Baiklah, kita bertemu lagi pukul sepuluh. Saya akan coba memeriksa beberapa hal di ruangan ini.” jawab Harris.
Batara menganggukkan kepala dan beranjak keluar dari ruangan Harris.
Sepeninggal Batara, Harris melepas jasnya, ia membuka tirai ruangan dengan kaca tersebut, pikirannya menerawang sambil memandangi hamparan gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis selatan Jakarta tersebut.
Setelah sepuluh menit hanya berdiri memandang keluar jendela, Harris kembali ke mejanya, ia melihat perangkat komputer di meja tersebut, ia pun menyalakan benda tersebut, beberapa saat Harris sibuk memeriksa data dan file yang ada di dalam komputer tersebut.
Hingga sebuah ketukan terdengar di pintunya,
“Ya masuk!” sahutnya,
Batara muncul dari balik pintu,
“Mas, jam sepuluh, ayo ke ruang meeting!”
“Oke!” jawab Harris, ia mengunci layar komputer, lalu mengenakan jasnya kembali dan melangkah keluar ruang kerjanya.
Ruang kubikel pegawai sudah kosong dan sepi,
“Para staff sudah berkumpul di meeting hall!” ucap Batara
Harris hanya menganggukkan kepalanya, ia berjalan mengikuti langkah Batara menuju meeting hall yang berada di lantai bawah. Setelah melewati beberapa ruangan, sampailah keduanya di sebuah ruangan yang cukup besar.
Batara mengajak Harris untuk berdiri di depan, untuk beberapa saat Batara bercakap-cakap dengan staf lainnya dari divisi HRD. Seorang pegawai datang membawakan sebuah kotak pengeras suara dan juga mikrofon. Ia menyerahkan pada Batara,
Cek, satu dua tiga testing.” ucap Batara di memecah kebisingan yang terjadi diruangan tersebut.
Harris melihat pria yang bertemu dengannya saat di lift tadi, tampak sekali dari raut wajah mereka terlihat ada kecemasan mendalam.
“Ini bos kita yang baru, ya?” terdengar pertanyaan-pertanyaan serupa dari bangku pegawai yang duduk di tribun.
“Selamat siang, baik rekan-rekan sekalian. Sebagaimana yang kita ketahui bila kita akan kedatangan pemimpin baru di perusahaan kita ini. Oleh karena itu agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam mengenali. Mari kita berkenalan dengan seorang pemimpin muda yang ada di samping saya ini. “ ucap Batara membuka meeting hall siang itu.
Batara menyerahkan sebuah mikrofon pada Hariss,
“Selamat siang, saya Avery Harris Owen yang akan bertugas memimpin perusahaan ini untuk satu hingga tiga bulan kedepan.” ucap Harris lantang.



