POV Harris.
Waktu sarapan Harris pagi ini terselamatkan dengan kehadiran Pak Kahar dan Teh Iis yang ia minta menemaninya sarapan bersama di ruang makan keluarga. Teh Iis bahkan mengatakan ia akan mendoakan agar Harris segera mendapat jodoh, sehingga tak merasa sepi lagi hari-harinya. Tepat saat asisten rumah tangganya tersebut menanyakan apakah sudah ada nama yang Harris ingin lafalkan dalam doa, baik pak Kahar maupun dirinya justru saling menatap kemudian tersenyum, meninggalkan kecurigaan pada diri Teh Iis,
“Pak Kahar, kasih tahu dong siapa pacarnya mas Harris?” paksa Teh Iis membujuk rekan kerjanya tersebut.
Pak Kahar hanya tertawa, “Nggak ada pacar, tapi sahabat akrab sangat dekat.” kemudian lelaki itu terkekeh sambil melirik Harris yang menyuap nasi nya sambil tersenyum.
“Mas Harris bisa saja! nggak pacar tapi di pepet terus. Begitu, ya?” protes teh Iis
“Bukan seperti itu teh, pak Kahar ngarang saja itu. Nggak ada pacar, kok!” elak Harris tanpa menghentikan suapan makannya.
“Siapa sih, pak? kasih tahu dong!” rajuk Teh Iis, “Biar bisa doain juga kan!”
“Duh, kamu mah mau tahu aja sih Is!” tegur pak Kahar.
“Pokoknya Teteh sudah tahu orangnya, kok, sebenarnya!” jawab Harris akhirnya sambil tersenyum.
“Wah, siapa ya?” gumam Teh Iis,
“Siapapun itu, tolong piring-piringnya ya Is!” ucap Pak Kahar sambil menyodorkan piring bekas makan.
Teh Iis membereskan piring bekas pakai di meja sambil menggumam, bahkan hingga kemudian ia kembali ke dapur.
Harris merasa geli melihat asisten rumah tangganya yang begitu perhatian padanya ini.
“Mau berangkat jam berapa mas Harris?” tanya pak Kahar.
“Setengah jam lagi pak, saya bersiap terlebih dahulu ya!” jawab Harris sambil melihat jam tangannya.
“Baik, saya akan siapkan mobil.” ucap Pak Kahar “Terima kasih mas sudah diajak sarapan bareng.”
Harris tersenyum, “Saya yang terima kasih karena sudah ditemani.”
Pak Kahar membalas senyum tuan mudanya itu, kemudian berpamitan menuju garasi.
Harris beranjak kembali ke kamarnya, ia menyiapkan beberapa perlengkapan gawainya. Dan sebuah map biru berisi surat resmi yang telah ditandatangani ayahnya, sebagai pengesahan bahwa ia benar-benar ditunjuk untuk mengurus perusahaan.
Ia mengenakan jasnya untuk melengkapi penampilannya hari itu. Sejenak memeriksa penampilan dirinya di cermin, sebelum kemudian ia melangkah keluar kamarnya menuju halaman rumah, dimana pak Kahar telah menunggunya
Harris masuk ke dalam mobil, ia menempati kursi bagian penumpang bagian depan. Tak lama mobil pun melaju meninggalkan kediamannya di kota Bogor untuk menuju Jakarta.
***
“Sebentar lagi kita sampai mas, saya drop di lobby saja dulu, ya. Agar tidak jauh menuju lift.” ucap pak Kahar mengingatkan Harris yang membaca beberapa dokumen yang ia bawa dari rumah.
“Oke, pak.” jawab Harris pendek.
“Apa sebaiknya saya minta pak Barata untuk turun dan menemani mas Harris ke atas?” tanya pak Kahar sambil tetap fokus pada kemudinya yang mulai memasuki area gedung
“Nggak apa-apa pak, saya sudah memiliki akses masuk. Saya beberapa kali sempat mengunjungi kantor yang disini, semoga tidak banyak perubahan tata ruang jadi masih aman.” jawab Harris, ia memasukkan kembali lembaran dokumen tersebut ke dalam sebuah amplop.
Pak Kahar menyorongkan ibu jari kanannya setelah menghentikan mobilnya tepat di depan lobi salah satu gedung yang telah lama berdiri di selatan Jakarta itu.
“Semoga sukses mas Harris, kalau ada pegawai perempuan yang godain, langsung buka dompet mas saja!” pesan pak Kahar
Harris mengernyitkan dahinya, “Kenapa buka dompet? uang tunai di dompet saya sedikit loh ini pak, belum sempat ke ATM kita.”
“Nggak perlu pamer duit mas, tapi foto yang ada di dompet mas itu yang perlu ditunjukkan!” jawab pak Kahar sambil tersenyum.
Sesaat Harris nampak berpikir, sejurus kemudian ia pun tersenyum lebar, “Pak Kahar tahu saja, ya. Tapi boleh dicoba juga idenya, terima kasih pak, saya kerja dulu, nanti makan siang bersama saja, kita keluar!”
“Siap, mas!” sahut pak Kahar dengan terkekeh senang melihat perubahan raut wajah Harris yang sudah kembali tersenyum setelah selama perjalanan pria dua puluh empat tahun itu hanya membaca dengan raut wajah serius yang membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Harris beranjak keluar dari mobilnya, setelah menutup pintu mobil dan merapikan rambut serta jasnya, salah satu tangannya menenteng sebuah tas kerja. Sejenak pria itu hanya berdiri dan menyapu lobi dengan pandangn matanya, ia tersenyum sejenak berusaha meyakinkan dirinya, kemudian Ia mulai berjalan memasuki gedung dan harus melewati serangkaian pemeriksaan masuk ke dalam gedung.
Saat hendak menekan tombol pilihan lift, seorang pria mendahuluinya dengan acuh, sesaat Harris sempat melihat pria dengan kemeja abu-abu tersebut yang ternyata kemudian berada satu lift dengannya.
Saat berada di dalam lift, terdengar sebuah percakapan dari arah belakang tempatnya berdiri.
“Eh katanya CEO yang baru akan datang hari ini?”
“Nggak baru sih, karena dia konon anak presdir utama, bukan?” jawab seorang lainnya
“Oh begitu, kudengar dia masih muda.”
“Ya pasti lebih muda dari kita, terus kenapa? tetap saja, biasanya nggak bisa apa-apa!” olok seorang lainnya.
“Betul, biasanya anak muda yang dapat jabatan karena warisan ortunya, kalau disuruh kerja nggak bisa apa-apa, tetap mengandalkan pegawai lama yang mulai dari bawah.”
Harris yang berdiri di hadapan mereka, hanya tersenyum kecut mendengar ucapan-ucapan yang sudah ia tahu bisa saja ia dapat. Namun, ia tidak menyangka bila ini akan menjadi sambutannya di hari pertama bekerja.
Tak lama saat lift telah sampai di lantai 9 pintu lift terbuka dan mereka bergegas keluar tanpa menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan telah mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Harris hanya memperhatikan orang-orang yang keluar di lantai tersebut, ia tahu di perusahaannya menempati dua lantai di gedung tersebut. Sehingga ruangan pegawai terbagi di lantai yang berbeda namun terhubung sebuah tangga penghubung internal yang tersedia di antara lantai sembilan dan sepuluh.
Harris tidak ikut keluar, ia akan langsung menuju ruangannya yang terletak di lantai sepuluh. Ia akan menemui pak Barata yang telah ia kabari sejak di mobil saat telah sampai area gedung kantor.
Pintu lift pun terbuka di lantai sepuluh, Harris yang tinggal seorang di dalam lift menghela napas, kemudian bergumam
"Bismillahirrahmanirrahim, I can if I think I can!"
Pria dengan wajah rupawan itu berusaha mengafirmasi dirinya agar tetap tenang dan fokus.
Setelah bergumam, ia melangkahkah kakinya yang beralaskan pantofel hitam, keluar lift menuju ruang kantornya yang tak jauh dari lift. Sebuah pintu kaca besar memperlihatkan bagian dalam kantor yang mengekspose sebuah meja resepsionis yang ditempati seorang pegawai perempuan modis.
Dengan tenang Harris melangkah menuju pintu kaca tersebut, kemudian ia mengeluarkan kartu aksesnya dan menempelkan pada mesin akses keamanannya.
Saat pintu kaca terbuka, Harris melihat sang resepsionis terpaku melihatnya, Harris balas menatap wanita itu,
"Maaf bapak siapa?" Tanya wanita itu tergagap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar