Adzan Subuh berkumandang dengan merdu dari pengeras suara mushola yang berjarak sekitar dua ratus meter dari kediaman Rury. Gadis itu dengan perlahan merasa terbangun dari tidurnya yang tanpa mimpi itu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum kemudian benar-benar terbangun, tangannya reflek menutup mulutnya saat menguap, ia masih merasa mengantuk, namun hari telah pagi, dan ia tak ingin melewatkan waktu salat Subuhnya.
Dengan agak terhuyung, Rury bangkit dari kasurnya dan melangkah ke kamar mandi. Tak lama ia kembali ke kamarnya dengan wajah lebih segar setelah membasuh dengan air wudhu. Rury segera menunaikan dua rakaat salat Subuhnya.
Seusai salat perempuan itu tanpa sadar termangu di sisi tempat tidurnya, teringat kembali tentang perbincangannya dengan Harris semalam,
“Thank you Ry, you made my day better.” ucap pria itu di akhir perbincangan sebelum kemudian menyuruhnya segera tidur karena malam semakin larut.
“Sebenarnya apa tuan Danish tahu, ya? tentang bagaimana sikap anak lelakinya yang seakan berusaha meyakinkanku untuk bersamanya. Meskipun ya memang sih bersama belum tentu karena mencinta, siapa tahu karena cuma butuh untuk mengusir rasa sepi saja!” pikir Rury kemudian menyunggingkan senyum sinis di bibirnya..
“Iya sih, nggak usah ge-er ah, Ry! Belum tentu juga Harris seperti itu karena ia ada hati padaku, bisa saja dia memang sedang senang menggoda temannya. Seperti Dzie yang ternyata hanya menganggapku layaknya sister saja teman yang lebih muda tepatnya. batin Rury mengingat kembali apa yang pernah dialaminya semasa kuliah pada semester lalu sebelum dia memutuskan untuk cuti kuliah.
“Kenapa ya, aku ini sudah tidak beruntung dalam hal kehidupan keluarga, eh dalam kehidupan asmara juga tidak beruntung. Selalu di posisi yang tersakiti, sekalinya ada yang suka sama aku, eh yang satu malah menikahi wanita lain tapi mau selingkuh, yang satu lagi beda strata sosialnya jauh banget buat di susul.” Kali ini gadis itu meratapi kisah cintanya yang membuatnya seakan jauh dari kata happy ending.
Lamunannya buyar saat dering telepon menggema memenuhi ruang tidurnya.
“Siapa, ya, sepagi ini sudah menghubungiku?” gumam Rury penasaran.
Ia beranjak menuju meja tulis dan meraih ponselnya yang sering ia letakkan di atasnya. Sederet nomor yang telah ia simpan dengan nama Harris tercantum di sana.
“Wah, panjang umur pria ini! Baru saja aku memikirkannya, sekarang dia muncul di ponselku, lagi!” gumam Rury sambil tersenyum.
“Assalamualaikum, Ry syukurlah sudah bangun.” suara Harris segera menyambut Rury yang baru saja menekan tombol terima panggilan.
"Waalaikumsalam. Masih pagi bapak Harris, ada apa menghubungiku?" Tanya Rury dengan nada berpura-pura kesal.
Harris hanya tergelak mendengar pertanyaan Rury, "Afwan, ukhti! I just feel a bit nervous for my first day."
"Oh… seperti itu. Wajar sih, merasa nervous saat pertama kali melakukan sesuatu. Just calm down!" Ucap Rury berusaha memberi dukungan pada sahabatnya itu.
Terdengar Harris menghela napas, "I try, I will try to calm down."
"You can if you think you can!" Seru Rury bersemangat.
"Kau benar, itulah kenapa aku menghubungimu." Ucap Harris.
Rury terkejut namun sejurus kemudian tergelak, "Apa dengan menghubungiku kamu akan mendapat ketenangan?" Tanya Rury
Harris hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Rury.
"Selain dalam rangka untuk menenangkan diri, apa ada hal lain yang ingin Anda instruksikan pada asistenmu ini?" Tanya Rury dengan nada seolah benar-benar berbicara dengan atasannya.
Sejenak Harris berdehem, "Nggak ada instruksi khusus kok. Benar-benar hanya ingin sedikit mengusir rasa nervous."
"Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kamu sarapan di rumah sebelum berangkat. Hari ini bersama pak Kahar atau pergi sendiri?" Tanya Rury
"Aku akan pergi bersama pak Kahar, aku pikir untuk beberapa hari sebaiknya pak Kahar yang mengemudikan mobil. Setidaknya aku dapat berbincang dengan seseorang setelah bekerja." Jawab Harris
"Betul juga, lebih baik seperti itu." Ucap Rury.
"Hanya saja sayangnya pak Kahar tidak bisa ikut masuk sampai ke ruang kantor." Sesal Harris
Rury tertawa mendengar perkataan Harris "Kau bisa bilang bahwa pak Kahar adalah asistenmu, sehingga beliau bisa ikut mendampingimu di ruangan." Saran Rury
"Tidak bisa, orang-orang di kantor sudah tahu jika pak Kahar adalah sopir pribadi keluarga Tuan Danish. Jadi bagaimana bisa aku tiba-tiba menempatkan beliau di ruangan." Jawab Harris
"Betul juga, ya tidak apa-apa. Everything gonna be ok!" Ucap Rury
"Doakan aku ya!" Pinta Harris
Ruru tertegun, pria yang selalu bersikap tenang ini seperti tidak biasanya. Mungkin karena tekanan yang ia rasakan, tak ayal membuat Harris dapat merasa cemas juga menghadapi harinya.
Rury tersenyum, "Aku doakan selalu untuk kelancaran urusanmu. Just stay calm and confidence. I know you can do your best!"
"Aamiin. Thank you for supporting me, dear!" Balas Harris
"Sorry what did you just said? Did you just called me with 'Dear'?" Tanya Rury cepat sambil tertawa kecil
"Really? Maybe you just misheard!" Elak Harris.
Keduanya tertawa bersamaan,
" It's okay, I knew you refers to 'dear friend', right?" Ucap Rury mencoba menepis dugaan yang berlebihan atas apa yang terlontar dari mulut pria itu.
"No, you wrong!" Jawab Harris mematahkan pendapat Rury,
Hal itu membuat gadis itu tiba-tiba merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Tanpa sadar ia menahan napasnya menunggu apa yang kemungkinan akan Harris ucapkan.
"It refers to 'Dear Asisstant!' " lanjut Harris kemudian sambil tertawa.
Rury mengembuskan napasnya lega, kemudian ikut tergelak menyadari kekonyolan pikirannya,
"Ya ampun Rury, santai saja. Jangan terlalu ge-er, jaga hati Rury!" Batin Rury pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar Harris, pada sambungan telepon mereka.
"Wait, I will check, sepertinya itu teh Iis."
Ucap Harris.
Terdengar pria itu bergerak, dan tak lama,
"Mas Harris mau sarapan di meja makan atau di kamar?" Suara teh Iis terdengar setelah suara pintu yang terbuka.
"Saya akan makan di meja makan saja Teh, sebentar lagi saya keluar sarapan. Saya bersiap dulu ya sebentar." Jawab Harris ramah
"Baik mas, segera ke meja makan ya, selagi hangat jadi masih enak." Ucap teh Iis kemudian meninggalkan pintu kamar tuan mudanya yang membalas pesannya dengan anggukan dan senyuman.
Harris kembali meletakkan ponsel di telinganya,
"Ry, are you there?" Tanya Harris
"Yes, I am." Jawab Rury,
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu segera bersiap lalu sarapan." Saran Rury
"Kau benar, sepertinya matahari juga sudah mulai terlihat. Kamu juga segeralah beraktifitas. Kalau merasa bosan di rumah segera hubungi aku!" Ujar Harris
"Kenapa harus kamu?" Tanya Rury dengan nada mengejek.
"Tentu saja, aku kan atasanmu jadi, nggak ada salahnya kalau selalu diinfokan tentang dirimu!" Kilah Harris
"Ada-ada saja kamu! " Balas Rury sambil tergelak.
"Well, good luck for you today!" Ucap Rury tulus.
"Yes, thank you Ry!" Balas Harris "Assalamualaikum!"
Terdengar bunyi nada sambungan telepon telah berakhir.
Rury menurunkan ponsel dari telinga kirinya, sejenak ia menghela napas,
"Bagaimana aku bisa mensejajarkan diri dengan pria ini? Terasa jauh sekali perbedaan kami." Batinnya.
Bersambung ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar