September 2021, bisa jadi bulan yang benar sesuai temanya bagi Hikaru anakku. September Ceria karena mulai awal bulan ini dia bisa kembali ke sekolah untuk kegiatan belajar tatap muka.
Setelah sekian kali ujian semester, setelah ratusan hari di depan layar zoom akhirnya Hikaru bisa menatap latar putih papan tulis, bisa ada alasan keluar rumah lagi, bisa ada alasan minta uang jajan lagi. Terdengar menyenangkan sekilas.
Masa pandemi Covid-19 bukan saja ujian bagi kesehatan umat manusia tapi juga ujian bagi pendidikan negeri ini. Menjalani kegiatan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sejak kelas 1 MI dan bahkan naik kelas 3 jalur corona begitu sebutannya.
Sistem pembelajaran dimasa pandemi memang masih menuai pro dan kontra, disatu sisi orang tua tidak sedikit yang merasa sudah tidak sanggup mengikuti pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Namun, disisi lain bahaya virus Covid juga masih mengintai karena varian baru yang bermunculan. Dan belum tersedia vaksin bagi anak usia dibawah 12 tahun. Sehingga masih memunculkan kekhawatiran orang tua.
Namun, aku memilih untuk menyetujui surat pernyataan orang tua untuk kesiapan belajar tatap muka, toh hanya 2 kali dalam sepekan untuk simulasi awal, dan durasi belajar hanya 2 jam per tatap muka. Sehingga aku pikir masih dapat diawasi, karena anak datang langsung masuk kelas, dan selesai belajar langsung pulang ke rumah. Orang tua tidak diperkenankan menunggu di area sekolah. Tiap kedatangan ke area sekolah wajib cuci tangan terlebih dahulu.
Hikaru membekali diri dengan menggunakan masker, membawa hand sanitizer, tisu kering, face shield, dan juga air minum pribadi. Karena masih tidak diwajibkan menggunakan seragam sehingga Hikaru bisa selalu menggunakan baju lengan panjang setiap kali kegiatan tatap muka di laksanakan. Kapasitas kelas tiap sesi belajar juga hanya 50% dari jumlah keseluruhan siswa kelas. Jadi, satu murid bisa duduk sendiri.
Setelah 3 kali pertemuan sesi belajar tatap muka, Hikaru merasa senang dan jauh lebih semangat belajar. Menurutnya dia jadi lebih merasa sekolah beneran, dan memunculkan rasa tanggung jawab dia sebagai pelajar. Minusnya adalah menurut Hikaru karena durasi yang terbatas sehingga pembelajaran dirasa agak terburu-buru karena dalam 1,5 jam diperuntukkan untuk 3 mata pelajaran di hari tersebut.
Sementara bagi ibuk, kembali ke sekolah di masa pandemi ini, sedikit menjadi lebih baik. Karena anak mulai senang sekolah, dan karena adanya penerapan protokol kesehatan sehingga masih ada larangan kerumunan di area sekolah, membuat orang tua wali murid hanya datang untuk mengantar dan menjemput.
Dan hal tersebut dapat menghindari wali murid berkerumun untuk membicarakan hal diluar kegiatan sekolah anak. Sehingga dengan kata lain dapat terhindar dari kebiasaan yang pernah terjadi di masa sebelum pandemi yaitu berkumpul untuk bergosip ria.
Dan tentu saja dompet ibu juga aman karena tidak ada acara membakso atau arisan bersama, meskipun memang terkesan individualis tapi aku pribadi merasa itu hal yang cukup positif. Toh, di grup whatsapp wali murid pun kami sudah berinteraksi, dan saat bertemu di sekolah masih saling bertegur sapa, dan mensupport satu sama lain dalam hal kepentingan sekolah anak.
Sejauh ini kembali ke sekolah masih kami rasakan sebagai hal yang baik, menyenangkan, dan masih aman.
Semoga keadaan dunia segera membaik, begitu juga dengan perekonomian. Agar kegiatan kembali ke sekolah menjadi hal yang menyenangkan bagi anak - anak kita di masa sekolahnya.
Stay safe and keep healthy.
Jangan lupa bahagia bersama keluarga !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar