Minggu, 17 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 5 - Good Food Good Mood






Setelah mengakhiri percakapan dengan Romi melalui telepon, Rury bergegas menuju dapur, ia memeriksa kulkasnya, 


“What? no food stock?” pekik Rury sambil memeriksa beberapa rak kulkasnya. 

“Duh, bete ih! Lapar, kesel sama cowok. Eh nggak ada stok makanan. Sudah jelang magrib, malas banget buat jalan kaki ke persimpangan.” gerutu Rury. 


Rumah tersebut memang terletak cukup jauh dari jalan raya utama, dimana banyak pedagang makanan tersedia. 


Rury memeriksa penanak nasi elektriknya, yang ternyata kosong karena ia memang tidak memasak nasi baru karena pergi keluar rumah sejak subuh. Raut wajahnya seketika bersedih, ia hampir merasa putus asa, dan bertambah kesal. 


“Ini karena kelamaan berdebat nggak penting dengan mas Romi, nih. Kan, jadi kelamaan aku kelaparan begini. Ih kesel banget!” gerutu Rury, ia merasa kesal namun juga sedih. 


Rury beranjak kembali membuka kulkasnya dan mengeluarkan beberapa sisa sayuran yang masih ada, ia membuka tempat penyimpanan makanan dan bahan pokok. Ia menemukan satu bungkus mie instan rebus. Sesaat Rury hanya memandangi makanan instan tersebut dengan ragu, 


“Kemarin aku sudah makan mie instan, masa sekarang mie lagi?” gumamnya ragu, “Ah tapi daripada nggak makan, lapar, nggak bisa tidur, dan terus-terusan bad mood.” sambungnya. 


Akhirnya ia memutuskan untuk membuat mie rebus instan dengan tambahan sisa sayuran yang ia keluarkan dari dalam kulkas. Ia memisahkan sayuran yang masih layak pakai dengan yang sudah sangat kering ataupun membusuk. Ia memang belum berbelanja tiga hari belakangan ini. Hidup sendiri membuat Rury adakalanya tidak terlalu mempermasalahkan apa yang ia makan. 


Dengan cekatan Rury menyiangi sawi, wortel, sedikit kecambah, dan juga beberapa cabai rawit hijau. Setelah semua sayuran siap, gadis itu menyalakan kompor, meletakkan panci berisi air di atasnya, membuka bungkus mie instan, dan memisahkan bumbu-bumbunya. Sesekali Rury memeriksa air dalam panci, saat telah muncul gelembung-gelembung kecil ke permukaan air, ia memasukkan sebutir telur terakhir yang ia miliki pekan itu, dengan hati-hati ia pecahkan dan membiarkan cairan bening kuning itu menggumpal matang saat terkena air mendidih. 


Menyusul kemudian satu bungkus mie ia masukkan, setelah beberapa menit saat dirasanya mie instan tersebut telah cukup kenyal, Rury memasukkan cabai, wortel, dan sawi. Mengaduknya perlahan, membiarkannya beberapa saat, dan terakhir ia mencampurkan kecambah lalu mematikan api kompornya. 


Rury menuangkan mie-nya ke dalam sebuah mangkuk yang telah berisi bumbu, aroma gurih khas mie instan menguar memenuhi ruang makannya. Rury tersenyum menghirup aroma tersebut,  


“Aroma mie instan memang juara deh.” gumam Rury, baru saja saat ia hendak meraih sendok dan garpu. 


Adzan magrib berkumandang, mengurungkan niatnya untuk segera menyantap hasil masakannya. Rury tersenyum, 


“Masih panas banget juga sih, ini kuah mie-nya. Baiklah, mari kita salat Magrib sekarang!” ujarnya. 


Ia menutup mangkuk mie yang menguarkan asap dengan aroma khas tersebut. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu kembali ke kamarnya, untuk menunaikan salat Magrib. 

 

***

Tak lama selepas salat Magrib, Rury bergegas kembali ke ruang makan, mie dalam mangkuknya terlihat sedikit lebih mengembang dari sebelumnya. Ia hanya tersenyum, 

“Toh tidak mengurangi rasa dan seleraku untuk makan.” pikir Rury.


Ia meraih sendok dan garpu, baru saja ia mencicipi sesendok kuah mie, telinganya mendengar sebuah dering telepon berbunyi, 


“Is it my phone?” gumam Rury kemudian berusaha menajamkan telinganya kembali, “Oh my God, yes, it was my phone. Siapa sih menelpon di situasi seperti ini?” gerutu Rury. 


Dengan kesal gadis itu beranjak dari kursinya menuju kamar, diraihnya ponsel di atas meja tulisnya dan terlihat sebuah nomor telepon dengan kode area 0251, ia mengernyitkan dahi. 


“Siapa ini? awas aja kalau mas Romi lagi, ugh!” gerutu Rury kesal. 


Ia membawa ponselnya ke ruang makan dan kembali duduk di kursinya, dering telepon itu masih terus berbunyi, menandakan sang penelepon tidak menyerah untuk menghubungi nomornya. Rury mengembuskan napas, kemudian menekan tombol terima panggilan, 


“Halo, Assalamualaikum. Dengan siapa maaf?” tanya Rury 


“Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh. Harris ini Ry!” ujar sebuah suara pria yang cukup familiar di telinga Rury. 


Seketika Rury terkejut, “Harris? pakai nomor siapa?” 


“Nomor Rumah, tapi dari line di ruang kerja.” jawab Harris tenang, “Kenapa? aku belum mengatur ulang nomor ponsel untuk di Indonesia. Jadi sementara waktu aku menggunakan telepon rumah. Besok insya Allah, aku sudah mulai aktif menggunakan ponsel lagi.” 


“Ya ampun padahal aku nggak nanya loh, segala kamu jelasin detail begitu!” ucap Rury tertegun dengan jawaban yang ia terima dari Harris. 


Tawa Harris meledak, "Iya juga ya? Ya tapi setidaknya itu sekaligus informasi untukmu." 


"Ya baiklah, tolong kabari aku jika sudah memiliki nomor ponsel yang aktif!" Ujar Rury, ia memulai suapan makan malamnya. 


"Kenapa aku harus memberi tahumu?" Tanya Harris tiba-tiba.


"Ya… agar aku bisa save nomor ponselmu sehingga saat kamu menelepon, aku tidak suudzon karena sudah tahu siapa yang menghubungiku. Sehingga tidak perlu terjadi keruwetan seperti hari ini hanya karena nomor tidak dikenal." Ucap Rury tanpa sadar suaranya menjadi kesal saat mengingat kembali perdebatannya dengan Romi. 


"Apa ada orang lain yang menghubungimu hari ini?" Tanya Harris kemudian, seakan menyadari sesuatu dari perkataan Rury. 


"Yup betul! And it ruined my mood!" Dengus Rury 


"Is it me?" Tanya Harris lagi perlahan. 


Rury berhenti mengunyah mie instannya, 

"Kenapa Harris jadi merasa tersinggung? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Batin Rury 


"Bukan kamu Ris, kenapa jadi suudzon ke diri sendiri sih?" Jawab Rury sambil tertawa kecil. 


"Karena sejak pagi kau pergi menjemputku di bandara, bukan? Dan kita baru berpisah di sore hari. Tapi aku baru saja menghubungimu malam hari. It's mean…" ucapan Harris menggantung, ia seakan ragu menyelesaikan kalimatnya. 


"It's mean, what?" Tanya Rury penasaran.


"It's mean, there's someone else who ruined your mood after I dropped you home in the afternoon." Jawab Harris 


"Oh…" Rury hanya ber-oh ria sementara itu tiba-tiba ia menyadari bila sepertinya sudah salah bicara. 


"Apa tidak apa-apa jika aku mengatakan dengan jujur kalau orang yang kita bicarakan adalah Romi? seseorang yang ia sarankan untuk aku jauhi."  Pikir Rury dalam hatinya. 


Sejenak ia merasa bimbang untuk memberikan jawaban pada Harris. Dan kemudian Rury justru melanjutkan makannya bahkan menimbulkan suara saat menyeruput untaian mie yang cukup panjang. 


"Hey, apa kamu sedang makan?" Tanya Harris. 


Rury terkejut hingga menghentikan kunyahannya, dan tanpa sadar justru menelan makanan yang belum sempurna ia kunyah. 


"Maaf, aku baru makan." Ucap Rury


"Beli makanan di luar?" Tanya Harris


"Nggak, aku masak simpel saja hanya mie instan dan sayuran." Jawab Rury pendek 


"Wow, sounds good!" Ucap Harris "Aku sudah lama tidak makan mie instan ala Indonesia."


"Oh really? I eat a lot, especially when I was not in a good mood." Ujar Rury sembari meneruskan makannya setelah merasa bahwa Harris tidak keberatan bila ia menjawab perkataannya sambil mengunyah makanan. 


Harris tertawa, "It's good for you, good food will bring a good mood!" 


Bersambung *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar