Sore itu setelah membersihkan diri sepulang menemani Harris membeli keperluan kerjanya, Rury menerima panggilan telepon dari Romi, pria itu mencurigai Rury pergi dengan pria lain setelah mendapat kabar dari salah satu koleganya.
Tak hanya itu Romi juga bersikeras bahwa ia masih memiliki hubungan kasih dengan Rury. Hal itu membuat Rury kesal, terlebih dengan pernyataan Romi,
"I can not just be your friend!"
Rury mendengus kesal, "How many times I told you, if you can not be my friend. Then just leave!"
"Mas nggak bisa." Jawab Romi
"Kenapa nggak bisa? Mas kan sudah punya istri cantik, punya rumah bagus, mapan, kerjaan bagus. You can live in a good life without me!" Terang Rury
"I can't lose you!" Ucap Romi
"Tapi itu kan resiko dari mengkhianati sebuah hubungan." Balas Rury
"Ya, kamu benar. Tapi mas ingin berusaha lagi."
Rury mengernyitkan dahinya, "Berusaha untuk apa?"
"To be with you." Jawab Romi.
Rury tergelak dengan jawaban Romi, "You can not have two women in the same time. Your heart is only one, not enough for two love." Ucap Rury
"Dalam agama kita diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu, tidak dilarang." Ucap Romi
"Dilarang jika prianya tidak adil, jika ada pasangan yang tidak ridho, dan jika tidak bisa memenuhi kebutuhan keduanya secara finansial." Balas Rury,
"Lagipula jaman Rasul, sunah tersebut dijalankan untuk menolong juga wanita yang membutuhkan, atau untuk misi perdamaian agama, rata rata juga bukan dengan yang lebih muda." Tambah Rury
"Mas mengerti, tapi intinya kan tidak dilarang jika memang mampu untuk memiliki lebih dari satu!" Kilah Romi
Rury menggelengkan kepalanya, ia merasa gemas dengan pendapat Romi, "Oke, kalaulah mas menganggapnya seperti itu. Tapi mas kan sudah punya istri, nggak ada istri didunia ini yang bakal rela kalau suaminya terbagi."
"Kalau itu akan jadi urusan mas nantinya." Jawab Romi
"Yang pasti, mas minta tolonglah tetap ada!" Pinta Romi
"Mas egois!" Maki Rury kesal
"Mas percaya kalau dirimu itu untuk mas. I won't leave you, trust me!" Ucap Romi
Rury terdiam, ia menghela napas dengan berat.
"Mas tolong lah jangan egois. Kalau aku terus bersama mas, bagaimana aku akan mendapatkan jodoh lain. Mas mah enak sudah laku, sudah menikah!" Ucap Rury kesal.
"Ya kan, Rury sama mas. Nggak perlu lagi lah khawatir tentang nanti jadinya ssma siapa, kan sudah ada mas." Jawab Romi
"Masih banyak pria pria di luar sana yang belum mendapat jodoh atau pasangan. Lebih baik mas ikhlaskan saja aku agar lebih manfaat bagi pria lain." Ujar Rury gemas.
"But I can't Ry. I can just be your friend ad also can not let someone else having you." Jawab Romi cepat
"Sumpah ya kenapa mas ribet banget. Mas nggak bisa semau mas begitu saja. Segala sesuatu ada aturan yang harus diikuti secara mutlak." Ucap Rury
"Tapi manusia boleh mengupayakan apa yang ia kehendaki, bukan?" Balas Romi
"Tapi kalau soal Jodoh, itu kuasa Allah sepenuhnya.
"Nggak juga, ada unsur upaya manusia di dalam hal tersebut. Seperti menentukan mau ketemu siapa, mau jalan dengan siapa." Dengan Ragu Rury menjelaskan kembali.
"Intinya kita nggak bisa semau kita menentukan fate kita. Dan nggak bisa memaksakan apa yang kita mau." Lanjut Rury
Terdengar Romi berdehem sesaat hening.
"Ry kita ketemu saja yuk, mas kangen juga pada dirimu!"
Rury terkejut dengan ajakan Romi yang tiba-tiba keluar dari mulutnya,
"Random banget sih mas ini, kita baru saja membahas tentang hubungan kita yang akan menemukan banyak kendala jika dipaksa jalan. Tiba-tiba mas malah ngajak ketemu, bagaimana sih?"
Tawa kecil menyertai ucapan tersebut.
"Justru itu, agar kita bisa membahas hal ini dengan pikiran lebih jernih, dan juga meluruskan kesalahpahaman yang mungkin masih ada di antara kita. Sebaiknya kita bertemu face to face, jadi benar-benar bisa mengetahui maksud dari setiap ucapan." Jawab Romi
"Nggak ah, nggak baik bertemu berdua-duaan dengan suami orang." Balas Rury dengan sedikit menyindir.
"Ya nggak apa - apa, toh I'm still yours!" Kilah Romi
"Pinter banget ngegombalnya mas ini. Dari segi mana nya sih 'mine' yang mas maksud itu?" Tanya Rury sambil tertawa
"You have my heart dear, trust me you win it!" Jawab Romi
Yang lagi-lagi mendapat respon tawa dari Rury.
"Nggak lah, aku nggak percaya sama sekali. Your wife already have your heart, your body, your mind, and your money. I am not asking anything."
Romi terdiam,
"Ni cowok mau sampai bagaimana lagi sih aku jabarin, agar dia terbuka pikirannya dan menyerah untuk tidak melanjutkan hubungan dengan aku lagi?" Batin Rury.
"Sudahlah mas, our relationship won't going well mau bagaimanapun juga. Kita sudah sama - sama mengalami trust issue dan itu cuma akan menciptakan hubungan yang tidak sehat." Ucap Rury
"But I still believe that you are the only one for me!" Jawab Romi
"Astaga mas. Berhenti berpikir narsis lah! Jangan serakah, mas kan sudah dapat satu jodoh. Cukupkan lah diri mas dengan itu. Kasih kesempatan orang lain yang belum dapat jodoh!" Rury berkata dengan nada gemas karena lagi-lagi pria ini kembali ke keyakinannya yang absurd menurut Rury.
"Apakah sebenci itu kamu terhadap mas Ry?" Tanya Romi tiba-tiba
"Maksud mas bagaimana?" Rury justru balik bertanya, ia tak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan Romi.
"Mas tahu mas salah, mas sadar mas sudah berlaku buruk. Tapi saat mas ingin mencoba memperbaikinya, kamu justru mematahkan terus setiap upaya yang mas lakukan." Keluh Romi dengan suara parau.
Sejenak Rury tertegun, "Eh kenapa malah jadi begini ya?" Batinnya.
"Mas berusaha agar tetap bisa in touch denganmu Ry, tapi semakin lama kamu justru semakin sulit mas hubungi, diajak bertemu selalu saja ada alasan. Membalas pesan mas juga hanya sekedarnya singkat-singkat." Lanjut Romi menyampaikan keluhan perasaannya pada Rury.
"Mas nggak bisa membohongi diri mas Ry, pikiran mas tuh seakan nggak tenang kalau dalam sehari belum dengar suara kamu, atau belum mendapat kabar darimu. Kalau ditanya kenapa? Mas juga nggak tahu, nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata meski hanya bisa mas rasakan."
Rury mendengarkan dengan seksama, meskipun tak sepenuhnya kata-kata Romi ia percayai namun setidaknya pria itu berhak untuk didengarkan.
Dan Rury sejenak hanya terdiam, masih berusaha mencari kata-kata yang baik untuk menanggapi semua ucapan Romi.
"Mas yakin kamu pun sebenarnya masih ada rasa pada mas, masih sayang pada mas. I can feel it dari saat kita bertemu kembali beberapa waktu lalu."
Rury teringat momen dimana akhirnya ia bertemu kembali dengan Romi sebulan setelah pernikahan pria itu dengan wanita lain.
"Mas, jika obat rindu adalah bertemu, bisa jadi itu nafsu. Tenang aja, aku akan tetap mendoakan hal baik untuk mas, itu caraku mencintai orang lain, yang tak akan pernah bisa kumiliki."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar