Sabtu, 23 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 11 - Memory Of Romi’s Vest






Rury mengusulkan pada Harris untuk melanjutkan kegiatan belanja mereka ke Grand Indonesia yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan dan rekreasi besar di pusat ibukota. 


“Yakin, ya, di sana nanti kamu sudah tahu mau kemana?” tanya Harris memastikan.


“Yakin menemukan tempat yang cocok sih iya, cumaa… aku nggak yakin bisa langsung menemukan letaknya di bagian sebelah mana GI.” jawab Rury sambil meringis ke arah Harris. 


Meskipun sebelumnya pernah mengunjungi tempat yang berada di kawasan elite ibukota itu, namun Rury masih tak paham rute atau letak dari outlet-outlet di dalamnya, ia merasa banyaknya pilihan pintu lobi mall membuat perempuan yang tak pandai membaca peta itu mudah tersesat saat harus berada di sana. 


“Ya baiklah, aku pun tak kunjung paham. Mari kita bersama-sama menyesatkan diri nanti di sana.” ucap Harris sambil tertawa. 


Rury ikut tergelak dengan ajakan Harris yang konyol itu, ia kemudian termenung mengingat kembali alasannya mengajak Harris ke GI. Saat melihat vest yang terpajang pada salah satu  rak di butik sebelumnya, ia tiba-tiba teringat perbincangannya dengan Romi saat mereka bertemu sepulang pria itu menyelesaikan tugasnya sebagai promotor sebuah label musik. 


“Wuih, gaya banget mas pake vest segala.” ujar Rury mengomentari penampilan Romi yang lebih formal dari biasanya. 


Romi tersenyum mendengar pujian Rury, “Iya ini dadakan baru saja beli tadi setelah meeting di GI.” 


“Oh baru nih jadinya?” ledek Rury sambil melayangkan tatapan gemas pada Romi. “Demi karena mau ketemu aku, kah, mas?” 


Romi tersenyum lebar tak lagi dapat menahan diri atas olokan Rury, “Jadi tadi siang, kan ada meeting di GI, makanlah kami di salah satu kafe di sana. Tiba-tiba makanan yang mas pesan kesenggol salah satu teman, jadilah kemeja mas kena noda cipratan makanan, dan karena itu di bagian depan yang sangat terekspos. Sementara mas masih harus menghadiri pers konferens setelah meeting tadi.” cerita Romi 


“Ooo… jadi langsung beli baru, gitu ya?” tanya Rury.


“Iya, terpaksa. Mau bagaimana lagi? meski mahal dibeli juga akhirnya.” jawab Romi “Ya tapi worthed kok.” 


Rury menyetujui pendapat Romi saat itu tentang vest yang baru dibelinya, harganya yang mahal sepadan dengan kualitas yang didapat. 

***

“Ry kamu aku drop off di lobi atau kita ke parkiran bersama?” tanya Harris saat mobilnya telah mendekati kawasan bundaran Hotel Indonesia tak jauh dari letak GI. 


Namun, Rury tak kunjung menjawab, Harris menoleh, ia melihat gadis itu seperti sedang termenung. 


“Ry…Ry! are you ok?” panggil Harris lagi


Rury terkejut mendengar panggilan Harris, ia sedikit tergagap kemudian menoleh pada Harris, “Ah iya, maaf. Kenapa?” 


“Kita sudah mau sampai di GI, kamu mau aku drop off di lobi atau kita ke parkiran bersama?” ulang Harris


“Kalau aku turun duluan di lobi, Magrib nanti kita baru ketemunya pak, itupun dirimu harus jemput aku lagi di depan lobi tempat semula kamu drop off aku.” jawab Rury sambil tergelak


“Betul juga, ya. Kita kan sama-sama buta wilayah GI.” ucap Harris kemudian, ia menepuk dahinya merasa telah memberikan pertanyaan konyol 


Mereka pun tertawa bersama, menyadari kesamaan yang ada di antara mereka. 


“Kenapa sih, ada yang sedang dipikirkan? serius banget sepertinya.” tanya Harris lembut. 


“Ah, nothing. I am ok!” jawab Rury pelan sambil tersenyum. 


“Apa ada masalah di rumah?” Harris mencoba untuk mengetahui penyebab perubahan raut wajah Rury yang begitu drastis sejak meninggalkan butik di Kemang tadi. 


“Enggak, di rumah nggak ada apa-apa. Masih kosong, sebagaimana yang tadi kamu lihat tadi.” jawab Rury tenang.


“Lalu ada apakah gerangan yang membuat tuan putri ini tiba-tiba jadi melamun?” lanjut Harris.


Rury hanya mengembuskan napas pelan,


“Cerita saja kalau ada sesuatu, kalaupun aku belum bisa bantu. Ya… setidaknya bisa mendengarkan kamu buat ngurangin sedikit rasa sesak di dada mungkin.” ucap Harris berusaha membuat Rury lebih tenang.


Lagi-lagi Rury mengembuskan napas, kemudian menoleh pada Harris, 


“I just… I just… suddenly remembered something.” kata Rury


“Something or someone that you want to try to forget?” tanya Harris langsung pada inti penyebab perubahan suasana hati Rury.

“Well, ok. Yes, it was someone that I want to forget.” jawab Rury 


Harris tersenyum tipis mendengar jawaban Rury, keduanya kemudian terdiam saat mobil mulai memasuki area GI dan harus melalui pemeriksaan keamanan. Suasana kawasan Grand Indonesia yang memang sering disebut sebagai GI cukup lengang saat itu, mungkin karena pada hari kerja dan belum terlalu siang, sehingga belum banyak pengunjung yang datang. 


Harris mencoba mencari tempat parkir untuk mobilnya yang ternyata cukup jauh dari gerbang pemeriksaan, ia memilih untuk parkir di area basement. 


“So, who is that someone you wish to forget?” tanya Harris setelah mematikan mesin mobilnya. 


Membuat Rury mengurungkan niatnya yang hendak melepaskan sabuk pengaman, karena ia mengerti pria itu ingin menuntaskan rasa penasarannya terlebih dahulu tentang apa yang membuat Rury sempat melamun dalam perjalanan tadi.


“Apa aku harus menceritakannya lagi sekarang?” Rury balik bertanya. 


Harris tersenyum, “Take your bag and try to check your phone right now!”  pintanya. 


Rury terkejut, ia mengernyitkan dahinya. Tanpa dimintapun tentu saja ia akan mengambil tasnya dari kursi belakang, namun mengapa Harris dengan begitu spesifik memintanya memeriksa ponselnya yang memang sejak bertemu Harris tak sekalipun ia lihat. 


Rury mengeluarkan ponsel dengan merk buatan Jepang itu, dilihatnya banyak notifikasi yang masuk ke nomornya. 


“Apa ada banyak notifikasi?” tanya Harris


Rury mengangguk, ia memeriksa beberapa nomor yang melakukan penggilan tak terjawab ke nomornya. Ia cukup mengenal nomor itu sebagai nomor kantor Romi, setelah itu beberapa notifikasi pesan masuk yang ia terima, semua dari nomor Romi. 


“Pria ini, mengapa ia masih begitu sering menghubungiku?” batin Rury kesal. 


“So, is it from a man, you try to forget, right?” tanya Harris lagi.


Rury menghela napas, “Yes, he is.” jawabnya pendek. “I don’t know why he still keeps contacting me.” lanjutnya. 


“What makes you suddenly remember him today?” tanya Harris


“Ok, jadi ide untuk membeli keperluan kamu itu muncul saat aku ingat bahwa mas Romi pernah membeli pakaian formal pria di sini, dan pakaian itu worth it.” jawab Rury. 


Harris mengangguk-anggukkan kepala menyimak perkataan gadis berkerudung biru tua di hadapannya ini. 


“Berarti kamu sudah berpengalaman ya, membelikan pakaian pria? Baguslah, come on, start our adventure in this shopping town!” ucap Harris sejurus kemudian. 


Rury merasa ada perubahan pada nada suara pria itu saat mengucapkan hal tersebut, dan tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tak nyaman di hatinya. 


“Hey, nggak gitu. Aku tidak membelikannya, dia membelinya sendiri dan bercerita padaku saat kami bertemu.” ucap Rury dengan cepat ke arah Harris. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar