Kamis, 14 April 2022

Habibie Laysa Zauji - Bab 2 - Rest Area Chit-Chat

 





Rury terkejut dengan ucapan Harris yang mengatakan bahwa ia meminta pak Kahar untuk kembali ke Bogor seorang diri dengan mobilnya, sementara pria itu justru menumpangi bis agar bisa melakukan perjalanan bersama Rury. 


“Berarti pertemuan kita bukan kebetulan, dong?’ tanya Rury kemudian saat ia telah menempati salah satu kursi yang sebelumnya di sorongkan Harris padanya, karena ia sampai lebih dulu di meja yang telah ditempati pak Kahar. 


“Memang bukan, itu sudah diatur Allah.” jawab Harris tenang, kemudian ia menyodorkan sebuah buku menu pada Rury. 


“Apa kalian berdua sedang nostalgia pertemuan pertama kalian di Solo?” tanya pak Kahar yang duduk di hadapan Harris dan Rury. 


“Kok pak Kahar tahu?” tanya Rury mengalihkan tatapannya dari buku menu. 


“Tentu saja, kan bapak yang mengantar mas Harris kemana-mana saat baru lulus dari pondok.” jawab pak Kahar santai. 


“Sudahlah, itu kan sudah lalu. Sekarang segera pesan makanan!” ucap Harris pada Rury.


Rury menuruti perkataan Harris, ia kembali memfokuskan pikirannya pada deretan daftar menu yang tercantum di buku menu tersebut, 


“Duh, pesan apa, ya?” keluh Rury, ia merasa kesulitan untuk memutuskan apa yang akan ia makan. 


Harris hanya tersenyum, “Mau makan berkuah atau tidak?” tanyanya. 


“Tapi aku nggak mau soto.” jawab Rury cepat.


“Kenapa? bukankah kamu suka soto?” tanya Harris.


“Nanti jadi semakin teringat masa pertama kita bertemu, dong!” ucap Rury sambil memajukan bibirnya, ia masih saja menatap buku menu.


Harris terkejut sesaat, namun kemudian ia tersenyum simpul. “Nasi goreng saja bagaimana?’ usulnya pada Rury. 


Sesaat Rury berpikir, kemudian menoleh pada pria itu dan menganggukkan kepalanya. Harris memanggil seorang pelayan, dan kemudian menyebutkan pesanan mereka. 


“Pak Kahar mau gantian menyetir, pak?” Harris berkata pada pak Kahar. 


“Nggak perlu mas, saya masih aman, kok!” jawab pak Kahar. “Lagipula mas Harris kan, baru saja perjalanan udara berjam-jam. Sebaiknya jangan menyetir dulu. Saya antar saja dulu nanti kalau mau bepergian!” ucap Pak Kahar. 


Harris tersenyum, “Tapi kalau pak Kahar merasa mengantuk, tolong beritahu saya, ya. Jadi kita bisa gantian. Saya nggak jetlag kok, sejauh ini merasa aman.” 


“Ternyata dia baik juga, ya, sama pegawainya!” batin Rury, ia baru mengetahui hal tersebut. Karena selama ini ia hanya menumpangi mobil Harris tanpa pak Kahar. 


“Ah… senangnya bisa kembali menikmati udara Indonesia!” ucap Harris sambil mengedarkan pandangannya sambil tersenyum. 


Rury memperhatikan gerak-gerik pria itu, dan tiba-tiba mata mereka saling bertemu saat tak sengaja saling bertatapan. Sejenak keduanya terdiam, Rury merasa tubuhnya sesaat membeku, dan tak tahu harus berkata apa. 


“Ehm, kopi disini enak juga.” deheman pak Kahar tiba-tiba menyadarkan keduanya. 


Harris tersenyum kemudian mengalihkan tatapannya, begitu pula dengan Rury yang tanpa sadar berpura-pura merapikan jilbabnya, sambil tersenyum ke arah pak Kahar. 


“Pak Kahar pesan kopi apa?” tanya Rury kemudian berusaha menutupi rasa kikuknya setelah tak sengaja bertatapan dengan Harris. 


“Ini kopi hitam Arabika begitu tadi tertulis di menunya. Neng Rury tapi nggak ngopi, ya?” tanya pak Kahar, pria itu tersenyum kecil melihat sikap kedua anak muda di hadapannya ini. 


Seorang pramusaji datang membawa makanan yang telah mereka pesan, Rury segera menyantap nasi goreng pesanannya yang terlihat lezat. 


“Bagaimana, enak nasi gorengnya?” tanya Harris saat Rury memulai makannya. 


Rury mengangguk dan menyorongkan ibu jarinya ke hadapan pria yang terpaut usia dua tahun lebih tua darinya itu. Namun, tiba-tiba ia teringat lagi pada Romi. Ia seringkali makan nasi goreng bersama Romi saat mereka bertemu. 


Romi senang mengajaknya mencoba makanan di tempat-tempat makan berbeda, pria itu pun selalu menanyakan bagaimana rasa nasi goreng pesanannya, dan pria itu akan senang bila Rury merasa puas dengan apa yang sudah ia rekomendasikan. 


Rury kembali terkejut dengan apa yang terlintas dalam pikirannya, 


“Apa aku belum move on dari mas Romi? kenapa aku masih saja mengingat pria itu?” batin Rury. 


“Kenapa? apa ada yang tidak enak dari makananmu?” tegur Harris, pria itu menyadari perubahan raut wajah Rury yang tiba-tiba terjadi. 

“Ah… nggak kok. Nasi gorengnya enak. Cuma tiba-tiba terpikir sesuatu saja!” kilah Rury sambil tersenyum kemudian melanjutkan makannya.


“Mikirin apa sih neng Rury? ‘kan mas Harris sudah di sini.” tanya pak Kahar di sela makannya, sambil mengerling ke arah Harris. 


Membuat pria yang sedang menyendokkan nasi ke mulutnya itu terkejut dan menutup mulutnya kemudian menahan tawa. Sementara Rury membelalakkan matanya, terkejut dengan ucapan pak Kahar. 


“Eh, iya maaf pak!” ucap Rury dengan salah tingkah. “Nggak bermaksud begitu sih!” 


“Pak jangan begitu lah! kalau Rury sudah ada pasangan, bagaimana?” ucap Harris.


“Eh, nggak kok Ris. Ih jangan suudzon!” kilah Rury cepat.kemudian menyadari bila sikapnya bisa saja mengundang pertanyaan berikutnya dari kedua lelaki di hadapannya ini. 


“Iya, nggak apa-apa kok Ry. Pak Kahar memang suka bercanda, nggak perlu diambil hati!” ucap Harris lembut pada Rury. 


Gadis itu mengangguk dan tersenyum kemudian melanjutkan makannya. Namun, ia menduga sepertinya ada hal yang belum ia ketahui tentang perasaan Harris sebenarnya. 


“Rencana berapa lama akan berada di Indonesia Ris?” tanya Rury


“Insya Allah jika memang urusan disini lancar tanpa kendala yang berarti, rencana paling lama satu bulan di sini.” jawab Harris. “Tapi selama sebulan itu, nanti insya Allah ada beberapa hari juga aku akan ke Solo menjenguk keluarga di sana.”


“Oh begitu. Lumayanlah satu bulan.” ucap Rury.


“Lumayan apa?” tanya Harris tidak mengerti. 


“Ya… lumayan sibuk!” ucap Rury. 


Harris tersenyum, kemudian berkata “Nanti kamu ikut saja ke beberapa event yang harus aku hadiri. Lagipula kali ini bisa jadi pak Kahar akan banyak menemani menyetir nanti. Karena aku perlu adaptasi lagi dengan jalanan di Jakarta saat ini.”


“Duh, event apa? aku nggak berani ah kalau event formal gitu.” tolak Rury, ia tak dapat membayangkan bila harus berada di tengah acara-acara formal rekan bisnis perusahaan Harris, atau acara keluarga besar pria itu. 


“Tenang saja, aku yakin kamu pasti bisa beradaptasi dan behave lah, kan kuliah di hubungan internasional. Sudah belajar dong yang namanya diplomasi dan table atau diplomacy manner.” ucap Harris sambil tersenyum, ada sorot bangga pada mata pria itu saat berkata pada Rury. 


Sejenak Rury tertegun, tak pernah ada yang membanggakan studi yang ia ambil sebelumnya. Namun, pria ini begitu mudahnya mempercayai dirinya. Membuat Rury merasa sulit untuk menolak permintaannya.


Dengan ragu perempuan dua puluh tahun itu mengangguk sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. 


“Wah, makin semangat deh ini mas Harris kerjanya sebulan ini!” celetuk pak Kahar tiba-tiba sambil tergelak. 


Harris menyadari sopir pribadinya itu sedang menggodanya, ia hanya tertawa dan menyorongkan ibu jari kanannya ke hadapan pak Kahar. Sementara Rury lagi-lagi hanya bisa berusaha  menyembunyikan wajah malunya sambil berusaha menghabiskan nasi gorengnya. 


Bersambung***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar