Saat sedang berdebat perihal ketidaknyamanan Harris karena merasa ditatap dengan pandangan takjub oleh sang pramuniaga. Dengan entengnya Rury mengatakan bila itu adalah bagian dari resiko menjadi orang tampan.
Ucapan Rury membuat Harris yang sedang berdiri di belakangnya menjadi tiba-tiba tersenyum senang,
“Apa bagaimana? what did you just say?” tanya Harris tiba-tiba.
“What?” Rury balik bertanya,
“Can you repeat what you just said!” pinta Harris
Rury menghentikan gerakan tangannya, dan menoleh pada Harris dengan tatapan tak mengerti, “Apa sih? What did I just said? I said, terima saja konsekuensi sebagai orang tampan, is it?”
“Alhamdulillah, finally you realize how handsome I am!” balas Harris memasang raut wajah senang dan senyum lebar di bibirnya.
Sejenak Rury terdiam dan hanya mengerjapkan matanya, seakan tak habis pikir dengan kekonyolan pria di hadapannya ini.
“Ok, ok. Enough joking. Ok then now, what kind of outfit would you like to choose for me?” tanya Harris berusaha mengembalikan fokus Rury pada tujuan mereka ke butik ini. Ia melihat gelagat kekesalan mulai muncul di wajah gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu.
Tanpa berkata apapun lagi, Rury kembali menghadap ke rak pakaian, tiba-tiba gadis itu berbalik dan menatap Harris yang dengan tegang menunggu apa yang akan terjadi berikutnya,
“Kamu duduk dulu saja di situ, aku akan ambilkan beberapa outfit sebagai day suit kamu. Nanti kamu bisa coba.” ucap Rury sambil menunjuk sebuah kursi yang terletak tak jauh dari mereka.
“Oke.” jawab Harris lega tanpa membantah, ia segera menempati kursi yang memang disediakan untuk pengunjung butik.
Tak sengaja matanya menangkap mata sang pramuniaga yang ternyata sedang memperhatikannya, pria itu hanya menganggukkan kepala, yang dibalas sebuah senyuman sang pramuniaga. Harris segera mengalihkan pandangannya, dan berpura-pura sibuk dengan ponsel yang ia keluarkan dari saku celananya.
ia melihat Rury berjalan ke beberapa rak lain, memilah beberapa produk, sesekali tangannya menyentuh langsung beberapa pakaian dan sejenak berpikir, sebelum kemudian melihat detil produk tersebut. Wajah gadis itu terlihat berpikir serius, namun entah mengapa saat itu ia merasa gadis itu terlihat lebih menarik.
“Ah, thank God, I have her today!” batin Harris kemudian mengembuskan napasnya dengan lega.
Tak lama Rury datang menghampirinya dan membawa beberapa potong pakaian,
“Cobain deh, ini untuk day suit! ini ada jas juga untuk melengkapi penampilan the young boss at office, untuk bahannya aku pilihkan yang linen agar nyaman kamu gunakan seharian!” celoteh Rury sambil menyerahkan pakaian-pakaian itu pada Harris.
“Ini aku coba semua?” tanya Harris memastikan.
“Tentu saja, untuk memastikan kalau pakaian ini cocok di kamu. Ini harganya lumayan mahal, meski sudah aku coba pilihkan bukan yang termahal. Tapi lumayan juga sih ini kalau ditotal, jadi cobalah terlebih dahulu, karena barang yang sudah Anda beli tak dapat ditukar kembali setelah keluar dari butik ini!” jawab Rury dengan cepat.
Harris takjub dengan kecepatan bicara Rury, ia kemudian hanya dapat menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju kamar pas. Sementara Rury duduk menempati kursi yang sebelumnya ditempati Harris.
Sembari menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, untuk sesaat ia ragu untuk menyalakan benda itu. Namun, kemudian jarinya akhirnya menekan tombol on dan saat layar ponselnya telah menyala, dilihatnya beberapa notifikasi pesan.
Ia mengarahkan keypadnya menuju kotak masuk pesan, dan terlihatlah nama Romi di beberapa pesan masuk.
“Baca sekarang atau nanti ya?” gumam Rury ragu. “Ah paling nanya aku lagi dimana?” duga gadis itu.
Ia membuka salah satu pesan tersebut,
“Ry kamu sedang berada di mana? apa benar kamu sedang berada di Jakarta?”
Mata Rury seketika terbelalak, “Darimana dia tahu aku sedang berada di Jakarta?” gumamnya.
“Siapa Ry?” suara Harris tiba-tiba menegurnya,
Rury terkejut karena tak menyadari bila pria itu telah berada di dekatnya. Dengan cepat ia mematikan ponselnya kembali lalu mendongak ke arah suara Harris, dilihatnya satu sosok pria muda dalam balutan day suit yang casual namun formal, kaos polo slim fit berwarna biru toska, dengan paduan jas abu-abu tua, dan celana formal putih, membuat Harris terlihat semakin tampan bak model luar negeri yang dilihat Rury di majalah fashion.
“How do I look?” tanya Harris kemudian, ia nampak merapikan lengan jasnya.
“Yah, gagal ghadul bashar lagi deh aku kalau begini caranya.” batin Rury.
“Eh, bagaimana? kasih pendapat dong!” pinta Harris kemudian menatap Rury.
Rury terkesiap, baru saja ia hendak memberikan pendapatnya, sebuah suara telah mendahuluinya,
“Wah cocok sekali tuan. Paduan outfitnya bagus jadi menambah look tuan lebih formal dan handsome sekali.”
Entah sejak kapan pramuniaga butik tersebut telah berada di dekat mereka, karena tiba-tiba telah memberikan pendapatnya sambil memandangi Harris, yang dengan serta merta merubah raut wajahnya dengan datar.
Rury meskipun terkejut namun ia pun tak dapat menahan tawa melihat perubahan raut wajah Harris. Di satu sisi ia merasa sedikit terselamatkan dari rasa tersipu karena terpesona saat melihat Harris, namun disisi lain ia benar-benar tak mengira bila pramuniaga tersebut ternyata benar-benar memperhatikan Harris.
“Terima kasih, tenang saja saya akan segera ganti dan membayarnya!” ucap Harris cepat.
Sang pramuniaga tersebut mengangguk kemudian tersenyum, namun belum beranjak dari dekat Harris.
“Mbak, mbaak!” panggil Rury lagi, “Nanti kami akan panggil mbak jika memang butuh bantuan lain, jika tidak kami akan langsung ke kasir. Terima kasih ya!” ucap Rury berusaha membuat wanita itu berlalu dari dekat Harris yang nampak tidak nyaman dengan tatapannya.
Meski terkejut dengan teguran Rury, namun pramuniaga itu akhirnya mengangguk dan berlalu dari hadapan Harris.
Benar saja, Harris mengembuskan napas lega setelah kepergian sang pramuniaga.
“Ya sudah, ini bagus kok buat day suit kamu selama bekerja nanti. Ganti lagi segera, lalu bayar, sebelum didekati lagi sama mbak pramuniaga!” olok Rury sambil tersenyum.
Harris kembali ke kamar pas, lalu mengganti bajunya. Mereka membeli beberapa potong pakaian dan aksesoris. Setelah itu membayar belanja di meja kasir, dimana pramuniaga tersebut berada, dan kembali melayani mereka.
Setelah membayar belanjaannya, dan hendak berlalu, sang pramuniaga tiba-tiba menahan mereka,
“Tuan maaf jika nanti ingin berbelanja kembali, boleh menanyakan ketersediaan produk terlebih dahulu melalui nomor yang ada di kartu ini!” ucapnya sembari menyodorkan sebuah kartu nama ke hadapan Harris.
Sesaat Harris terkejut, dan ia hanya terdiam memandangi kartu tersebut. Tiba-tiba Rury meraih kartu tersebut, ia tersenyum dan berkata, “Ini nomor ponsel mbaknya ya? oke terima kasih ya.”
Pramuniaga itu terlihat terkejut dan kecewa karena justru Rury yang mengambil kartu namanya. Namun, ia tetap tersenyum dan menganggukkan kepala.
Harris dan Rury melangkah keluar butik, Rury menyimpan kartu nama sang pramuniaga ke dalam tas ranselnya.
“Syukurlah sudah menjauh dari mbak-mbak tadi.” ujar Harris kemudian.
“Mungkin sebaiknya kamu lebih ghadul bashar Ris!” ucap Rury dengan santainya.
“Hah, ghadul bashar?” tanya Harris sambil menenteng beberapa paper bag berisi belanjaannya.
“Iya, tahu kan esensi ghadul bashar?” tanya Rury menatap curiga pada Harris,
“Iya tentu saja masih ingat ukhti. Anjuran agar menundukkan pandangan dari lawan jenis.” jawab Harris
“Betul.” seru Ruy senang.
“Tapi kenapa aku yang harus ghadul bashar? kan disini justru aku yang jadi objek tatapan mereka.” tanya Harris kesal
Sesaat Rury nampak berpikir, “Iya juga sih, ya!”
“Aku sih merasa sudah cukup ghadul bashar dengan lawan jenis, tenang saja kalau soal itu Ry!” ucap Harris dengan nada serius.
“Yakin?” tanya Rury sangsi, “Masa iya kalau ada cewek cantik kamu nggak lihatin sih!” lanjut Rury lagi.
Harris menggeleng dengan cepat, “Sejauh ini cuma ke kamu aku akui sulit untuk ghadul bashar sepenuhnya!” ucapnya.
“Hah, kenapa begitu?” tanya Rury terkejut.
Harris menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada Rury, menatap mata gadis itu yang selalu terlihat sendu namun dalam dan menenggelamkan.
“Qolbie laa yaro illaa habieban lahu.” ucap Harris kemudian berlalu meninggalkan Rury yang terpaku di tempatnya berdiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar