Rury masih terpaku di tempatnya berdiri saat Harris mengatakan alasan mengapa pria itu mengakui justru merasa sulit untuk menundukkan pandangannya dari Rury.
“Qolbie laa yaro illaa habieban lahu, maksudnya bagaimana ya? Hatiku tidak akan melirik selain kepada kekasihnya.” gumam Rury berusaha mencerna ucapan yang baru saja Harris lontarkan dihadapannya.
Sejurus kemudian ia merasa wajahnya merona dan udara di sekitarnya berubah menjadi panas, tanpa sadar Rury mengibaskan tangan ke arah wajahnya,
“Well, calm down Rury. Stay cool, don’t let your heart be played again by some guy’s sweet talk!” ucap Rury pada dirinya sendiri.
“Stay calm Rury, inhale, exhale!” ucap Rury pada dirinya sendiri kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya lagi secara perlahan, berusaha menenangkan hatinya yang bergemuruh.
Ia sadar bahwa terlalu dini untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya Harris inginkan darinya.
Sementara itu berjarak lima belasan langkah dari Rury, Harris yang merasa tak juga mendapati Rury menyusul langkahnya memutuskan untuk membalikkan tubuh ke arah Rury yang ternyata masih berdiri di tempatnya tadi, saat ia membuat gadis itu terkejut dengan alasannya merasa sulit menjaga pandangan dari sosok gadis itu.
Entah mengapa hanya itu kalimat yang terlintas dalam pikirannya, dan terucap begitu saja, meski sejurus kemudian, pria itu menyadari bahwa ia juga merasa malu karena mengungkapkan dengan jujur apa yang ada dalam benaknya.
Oleh karena itu untuk mengusir rasa malunya, Harris memilih untuk melangkah mendahului Rury, Ia merasa tak siap dengan respon Rury berikutnya atas perkataannya, perempuan itu bisa saja menganggapnya hanya sebagai candaan semata. Namun, di sisi lain Harris juga tak dapat memungkiri bila ia berharap Rury mulai menangkap maksud dirinya.
Ia menghela napas, kemudian sambil menatap gadis itu, “Rury, ayo!” panggilnya sambil melambaikan tangan memberi isyarat gadis itu agar menyusulnya.
Rury mengangguk, ia berlari kecil menghampiri Harris, “Yuk, kita mau kemana lagi? cek toko lain yuk, kan baru dapat beberapa baju saja. Atau kita beli jas saja nanti, kalau kaos dan kemeja serta celana, kan, kamu sudah punya banyak.” ucap Rury
“Sebenarnya aku tak membawa banyak baju saat kembali ke sini, oleh karena itu entahlah apa cukup persediaan baju-bajuku di rumah. Bagaimana kalau kamu melihatnya nanti di rumahku?”
“Apa itu salah satu upaya untuk bisa lebih dekat denganku?” tanya Rury curiga.
Harris tertawa mendengar pertanyaan Rury, ia tahu gadis itu berusaha mencairkan suasana canggung yang sejenak ada di antara mereka.
“Hey, jangan lupa sebagai asisten tentu harus tahu dong detil dari atasannya!” jawab Harris berkilah.
Rury hanya tersenyum, “Baiklah, tapi jemput ya!”
“Boleh! Yuk, Sebentar lagi waktu makan siang, kita makan di sini saja ya? aku sudah lapar.” ajak Harris, setelah melihat jam tangannya.
Rury mengangguk, ia memutuskan untuk tak membahas pengakuan Harris. Ia merasa hal itu tentu akan membuatnya canggung.
Mereka kembali menyusuri beberapa deretan toko, dan membeli beberapa pakaian tambahan untuk Harris. Setelah merasa cukup berbelanja, keduanya menuju salah satu restoran Jepang yang sempat mereka lewati. Kesamaan lain dari keduanya adalah sama-sama menyukai makanan Jepang.
Restoran yang cukup terkenal dengan sajian sushinya ini memang menjadi salah satu favorit Harris dan keluarganya, namun ini adalah yang pertama kalinya bagi Rury untuk makan bersama di tempat ini.
Mereka menempati salah satu meja, setelah memesan beberapa makanan, Rury berniat untuk memeriksa ponselnya lagi, namun baru saja ia mengeluarkan benda tersebut, Rury sekilas merasa Harris melihat ke arahnya dengan pandangan yang tidak biasa, sehingga ia mengurungkan niatnya memeriksa ponsel.
“Kamu sekalian beli pakaian formal juga Ry! nanti kan, bisa saja aku perlu dirimu untuk mendampingiku di beberapa pertemuan bisnis.” ucap Harris pada Rury.
“Ah nggak usah. Aku nggak usah ikut muncul, cukup membantu di balik layar saja.” jawab Rury. “Toh, kan sudah ada sekretaris kamu yang memang resmi harus membantu keperluan pekerjaanmu.”
“Iya, sih!” gumam Harris, “Tapi, tahukah kamu. Ada beberapa pertemuan bisnis yang seringkali membuatku tidak nyaman bila harus datang sendiri atau hanya ditemani Pak Anton sekretaris kantor.” lanjutnya.
“Pertemuan seperti apa misalnya?” tanya Rury
“Misalnya yang dilakukan diluar kantor, atau justru di rumah calon rekanan bisnis. Kemudian aku terpaksa harus datang tanpa pendamping.” jawab Harris
“Apa karena nervous? atau karena jam terbang sebagai pemimpin masih kurang?” tanya Rury lagi.
“Bukan, tapi rasa khawatir jika kemudian pihak rekanan mencoba melakukan pendekatan lain.” ucap Harris
“Pendekatan lain?” Rury tak mengerti dengan perkataan Harris.
“Ya, seperti berusaha menawarkan wanita penghibur saat bertemu saat party, menawarkan putri putri pengusaha tersebut saat jamuan makan malam, atau bahkan terang-terangan menggoda bila kebetulan harus bertemu dengan rekanan bisnis perempuan.” jawab Harris sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Benarkah?” tanya Rury tak percaya, raut wajahnya berubah menjadi khawatir
Harris hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi wajah prihatin.
“Ya, tapi kamu bisa menolaknya bukan jika memang tidak ingin?” tanya Rury
“Bisa saja, namun tentu ada taruhannya. Ya meskipun tidak semua rekanan bisnis seperti itu, tapi tidak jarang terjadi juga hal-hal mengkhawatirkan seperti itu.” ucap Harris.
“Ya dihindari saja orang-orang yang mencoba bermain kotor dalam berbisnis!” usul Rury
“Ya sebisa mungkin akan menghindari, ayahku juga tidak suka terlibat dalam hal-hal seperti itu. Oleh karena itu aku pikir akan lebih baik kalau aku membawa seorang pendamping perempuan jika harus menghadiri makan malam atau jamuan tertentu.” jawab Harris.
“Oh begitu. Ya bawalah pacar kamu, jika memang itu diperlukan!” ucap Rury lagi.
Harris terkejut dengan perkataan Rury, sontak ia menoleh dan menatap gadis itu dengan seksama,
“What? ada yang salah dengan usulanku?” tanya Rury polos merasa tak ada yang salah dengan ucapannya.
Harris hanya menggeleng dan tersenyum, “Kamu pikir aku sudah punya pacar Ry?”
“Maybe, I don’t know!” jawab Rury sambil mengangkat bahunya.
Kali ini pria itu tertawa, “Coba kamu pikir, jika seorang pria sudah memiliki pasangan, apa iya dia akan berani menjemput dan mengajak perempuan lain untuk menghabiskan waktu di sebuah shopping mall seperti ini?” tanya Harris.
“Mungkin saja, kan banyak juga bad boys yang punya cabang di mana-mana.” jawab Rury enteng.
“Do I look like a kind of bad boy to you?” tanya Harris sambil memicingkan matanya menatap ke arah Rury.
“Umm… nggak juga sih. Tapi kan kesetiaan seseorang nggak bisa dilihat hanya dari penampilannya juga, mungkin saja look nya angel tapi hati dan pikirannya devil.” jawab Rury datar.
Sontak Harris tergelak mendengar perkataan gadis yang menurutnya sangat sulit untuk diyakinkan tentang yang ia rasakan sebenarnya.
“Ry, let me ask you, and answer me honestly!” ucap Harris sambil menatap mata perempuan itu.
“Ok, what?” balas Rury menunggu apa yang akan dikatakan pria di hadapannya ini.
“Do you think I am not charming enough to be your prince?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar